Tinggalkan komentar

GALPUT SOLUSIKAH?

GALPUT SOLUSIKAH?

Pada awalnya saya tak pernah berpikiran untuk turut meramaikan wacana di ranah politik. Akan tetapi hari Ahad 26 Oktober 2008 saya membaca koran tentang Pilkada di Kota Bogor. Ada fenomena yang cukup menggelitik pemikiran saya. Fakta setelah Pilkada terdata sekitar 40% pemilih di kota Bogor memilih tidak menyalurkan hal politiknya alias golput.

Angka 40% bukanlah angka yang kecil. Artinya dari tujuh kandidat yang ada pastilah tak ada satupun yang mampu mengungguli angka tersebut. Golput sendiri juga bukan barang omongan baru. Sepengetahuan penulis istilah golput muncul sebagai wujud ketidakpercayaan sekaligus ketidakberdayaan masyarakat menghadapi hegemoni politik orde baru. Terutama di kalangan mahasiswa.

Di mata masyarakat awam kecenderungan apatis terhadap politik memang tak terelakkan. Fenomena yang terjadi di gedung dewan sendiri turut mendukung sikap ini. Ditambah lagi nama-nama yang telah disinyalir atau bahkan telah menjadi tahanan KPK. Ada sekelompok pihak yang benar-benar frustasi hingga akhirnya mengambil kesimpulan dari pada saya memilih caleg yang seperti itu lebih baik golput (tidak memilih).

Apakah pilihan golput turut memberikan solusi? Pertanyaan ini cukup lama terngiang-ngiang di genderang telinga penulis. Berbagai pertimbangan coba penulis komparasikan. Memang ada nilai positif sekaligus negatifnya.

Dengan pilihan golput diharapkan memberikan daya tawar kepada pemerintah untuk memperhatikan aspirasi ini. Apalagi fenomena di Kota Bogor hingga 40%. Namun sayang dimanapun pilihan yang tidak memilih tidak pernah benar-benar diperhitungkan secara politis. Bahkan yang nyata-nyata turut ke bilik suara dengan sengaja tanpa memilih salah satu kontentan dianggap suara tidak sah. Artinya golput sejatinya tidak mempunyai saluran politik.

Jadi pilihan tidak memilih itu masihkah efektif? Tentu di antara calon anggota legislatif yang diusung parpol terdapat nama-nama yang track recordnya cukup menjanjikan ke arah perubahan yang lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang memang secara personal menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Jika ada personal yang seperti ini bukankah justru lebih layak didukung daripada membiarkan rakyat yang belum begitu paham terhadap politik secara buta memilih tokoh yang sekedar dikenal kedekatannya (dalam artian personal maupun sekedar membawa nama partai tertentu) tanpa sedikitpun tahu bagaimana kiprahnya selama ini atau bahkan tidak tahu bahwa yang dipilihnya terindikasi kasus-kasus korupsi misalnya.

Bukankah ada partai yang membawa slogan bersih, peduli dan profesional. Jika slogan itu memang secara nyata dijalankan tanpa ada indikasi penyelewengan kenapa tidak didukung. Dengan dukungan kepada personal atau partai yang dikenal bersih akan turut mendorong kinerja dewan selanjutnya yang sekaligus meningkatkan kredibilitas dewan. Yang lebih utama adalah hasil kerjanya benar-benar demi kepentingan rakyat bukan demi kepentingan perseorangan atau golongan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: