2 Komentar

MENULIS TANPA HONOR

Oleh: Sunarno

Di muat di media massa adalah harapan sebagian besar penulis. Bahkan tak sedikit yang kemudian mengundurkan diri sebagai penulis gara-gara tulisan-tulisannya tanpa ada kabar ketika dikirimkan ke media massa. Namun tak sedikit pula yang semakin tertantang untuk menaklukkan media. Hari ini tak ada kabar maka besok harus dikirim naskah yang lain lagi. Tak peduli satu rem habis dikirim ke media massa namun belum juga ada tanda-tanda namanya nongol sebagai tanda dimuatnya tulisan-tulisannya.

Sebutlah Edhon, kita mengenalnya sebagai pimpinan komunitas Teater Gethek. Pernah manggung di Istana Merdeka unjuk kebolehan musikalisasi puisi. Kami menjulukinya Rendranya Purwokerto. Beliau rajin mengirimkan puisi ke Republika dan setelah melewati angka pengiriman lima puluh barulah puisinya di muat.

Sebagian besar penulis ketika melihat tuilisannya nampang di media massa pastilah berharap mendapatkan imbalan dari pihak redaksi. Apalagi jika tulisannya dikirimkan ke media yang sama sekali tak ada seorangpun anggota redaksi yang dikenalnya. Disamping ada rasa bangga bahwa dirinya telah diakui sebagai seorang penulis, meskipun baru satu buah tulisan yang nongol. Lebih bangga lagi kalau telah melewati perjuangan panjang untuk bisa dimuat, seperti yang pernah dialami oleh rata-rata penulis yang tulisannya di muat di Annida.

Bagaimana jika tulisan kita ternyata tidak mendapatkan imbalan berupa honor? Saya yakin ada banyak penulis yang merasa kecewa. Jerih payahnya, ide-idenya tak mendapatkan pernghargaan. Apalagi kalau media itu juga tidak memberikan penjelasan apapun tentang tidak diberikan honor.

Sebagai penulis yang masih harus terus belajar, saya telah mengalami semua bentuk imbalan dari media. Pertama kali tulisan saya nongol di koran local saya cukup senang. Teman-teman dekat saya kebanyakan nyaris tak percaya. Seorang temannya yang selama ini dikenal tak banyak bicara ternyata mampu menulis sebuah cerpen dimuat lagi di Koran. Saya sendiri untuk mengetahui kalau tulisan saya dimuat, pagi-pagi mendatangi agen koran. Tunggu punya tunggu tak ada kabar apapun dari redaksi. Artinya sekedar ucapan terima kasihpun tidak ada. Hal demikian terjadi pula pada beberapa buah cerpen saya yang lain.

Setelah lama saya tidak mengirimkan tulisan ke Koran tersebut dari seorang teman yang ternyata adiknya adalah anggota redaksi koran tersebut bercerita bahwa adiknya mengira saya marah karena tidak mendapatkan honor sehingga tidak mau lagi mengirimkan tulisan. Sebenarnya sebagai anggota redaksi telah berulang kali mengusulkan adanya pemberian honor tetapi tak pernah mendapat tanggapan dari anggota redaksi lain apalagi dari pihak manajemen. Dan sebagai wujud rasa malunya ia keluar sebagai tim redaksi dan pindah ke penerbitan lain di Jakarta. Sayang kabar terakhir yang saya terima si baik hati ini meninggal dunia digerogoti oleh penyakit entah typus entah demam berdarah.

Ketika pengalaman ini saya ceritakan ke Pak Yon budayawan Purbalingga beliau menanggapinya dengan serius. Betapa kecewanya beliau demi mengetahui tulisan rekannya tidak dihargai sama sekali. Menurut Pak Yon jika media massa mau menerima pemasukan iklan maka wajib pula memberikan honor bagi pengirim naskah yang naskahnya dimuat. Jadi jangan hanya mau pemasukannya saja. Yang jadi masalah bukan berapa besarnya honor yang diberikan, akan tetapi adakah bentuk penghargaan yang diberikan kepada penulis. Kalaulah di bawah Rp 50.000 sebagai Koran local sudah cukuplah.

Namun sayang, ketika Pak Yon menawarkan untuk mengirimkan naskah ke media yang dikelolanya Poros Indonesia saya belum sempat mengirimkan media tersebut sudah tidak ada kabarnya lagi. Satu naskah yang saya kirimkan dikembalikan oleh pihak pos.

Pengalaman yang lain ketika saya mencoba mengirimkan dua buah cerpen saya ke Majalah Reformasi (Majalah lokal di Grobogan Purwodadi), pihak redaksi menyatakan permintaan maafnya karena belum sanggup memberikan honor yang pantas dan sebagai wujud permohonan maafnya itu redaksi hanya sanggup mengirimkan majalah di edisi yang ada cerpen saya itu.

Pengalaman terbaik yang pernah saya alami adalah ketika cerpen saya Matahari Tergadai dimuat di Annida. Ketika mendapat kabar dari seorang teman saya asli bengong. Tiga bulan setelah pengiriman saya sama sekali tidak ingat kalau pernah mengirimkan cerpen ke Annida. Sampai hari berikutnya saya cari ke agen Annida dan segera kubuka-buka. Barulah teringat kalau memang saya pernah mengirimkan ke Annida.

Sepekan kemudian kiriman berupa majalah Annida sampai di kost-kostan. Satu bulan kemudian ada wesel dari Annida, alhamdulillah. Bisa traktir teman-teman guru di Aliyah (waktu itu masih tinggal di Purwokerto).

Di Kuningan, ada seorang teman yang menjadi dosen di Universitas Kuningan menawarkan untuk memuat tulisan saya di majalah kampus, tapi tanpa ada honor sebagai wujud terima kasih. Saya jawab boleh asal saya diberi majalahnya. Dan kemudian terjadilah kesepakatan. Naskah saya diambil dan beberapa pekan kemudian saya dapatkan majalahnya.

Sebagai penulis pemula yang telah merasai berbagai macam tanggapan dari media massa dan kini sebagai anggota redaksi, maka saya berpendapat sebaiknya jika memang tidak memberikan imbalan apapun wujudnya disampaikan saja. Sebagaimana yang banyak saya dapati dalam beberapa weblog dengan permintaan maaf pemilik blog menyatakan ak bisa memberikan imbalan kepada penyumbang naskah. Lebih baik terus terang daripada dongkol di kemudian hari.

Kami dalam team majalah pesantren Husnul Khotimah mencoba menerapkan adanya bentuk ungkapan terima kasih itu. Ada honor yang kami siapkan bagi penulis, meskipun hanya untuk kalangan internal dan tanpa iklan, akan tetapi kami berusaha untuk menghargai jerih payah para penulis. Dari segi nilai nomimal mungkin tidaklah seberapa namun cukup bagi santri untuk traktir teman-temannya makan bakso.

Padahal saya yakin gaji mereka para anggota redaksi (yang tidak memberikan penghargaan dalam bentuk apapun) itu pastilah berlipat-lipat bila dibandingkan dengan yang saya terima dari Majalah Husnul Khotimah. Juga koran itu menerima pemasukan dari pemasangan iklan. Jadi kalau alasannya minimnya anggaran, itu adalah minim yang disengaja.

2 comments on “MENULIS TANPA HONOR

  1. WuiH .. bneR” mengHarukan , tpH adH manfaat’a dh bLik smua itOe .. agHu ajj pengen kRiem ceRpen” tpH ga tau hRuez qRiem ke mana ? ada Saran ga ?
    –++–
    tidak perlu ragu, lakukan apa yang memang ingin dilakukan

  2. […] uniknya. Seperti air mengalir tak ada rencana yang pasti. Tulisan hanya sesekali kuhasilkan. Itupun telah kualami dari yang paling tak dihargai hingga benar-benar mendapatkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: