Tinggalkan komentar

Cerpenku di Majalah Reformasi

MALAM YANG RUSUH

 

Tengah malam segera lingsir. Kelengangan meraja. Di langit hanya satu dua bintang menggantung tanpa hadirnya sebongkah bulan. Anjing hutan berhenti melolong. Jangkrik berhenti mengerik. Ayam jantan belum ada satupun yang bersiul memanggil surya. Angin lamat-lamat basah menyelusup sela-sela dinding gedhek. Kiai Sukro duduk bersila di balai-balai bambu tempat biasa ia melakukan sholat. Mulutnya gemrengeng komat-komit melafadzkan kalimat-kalimat suci. Hening. Dedaunan sejenak berhenti melambai terhanyut alunan dzikir sang kiai. Pucuk-pucuk cemara membeku.

Hati Kiai Sukro rusuh. Angannya melayang ke mana-mana. Setengah terisak lafadz dzikir terus mengalun pelan. Beredar kabar di luaran banyak orang-orang yang sering mengurusi masjid mati secara mengenaskan. Kadang hilang tanpa ada beritanya. Kematian mereka tak jelas penyebabnya. Angin membawa kabar hanya mengatakan mereka lenyap ditelan gelapnya malam. Secara paksa diambil oleh bayangan-bayangan hitam dengan derap-derap yang tegap. Mayatnya sering ditemukan dalam keadaan tidak utuh lagi penuh luka memar ataupun luka bekas bacokan. Mayat-mayat itu kadang tergeletak di sungai atau tidak jarang pula di kebun sendiri. Pelan-pelan langit menangis menutupi bintang seakan turut merasakan rusuhnya hati sang Kiai.

Dedaunan semakin merunduk tersedu-sedu meneteskan titik-titik air. Bumi turut berduka. Sekejap kelelawar melintas menjatuhkan barang buah bawaannya di atas talang. Keloneng talang tak terhindarkan.

Terlintas bayangan-bayangan hitam di pelupuk mata. Lampu padam. Langkah-langkah teratur bergerak cepat. Hanya sekelebatan. Mengepung rumah. Tiap sudut dijaga ketat. Menggedor-gedor pintu. Semakin geras. Mendobrak pintu. Tetangga-tetangga tak ada yang berani keluar kian merapatkan tubuh ke balai-balai. Sekedar mengintip dari balik gedhek tak ada yang berani. Seakan-akan gedhek-gedhek itu bukan milik mereka, bukan pagar rumah mereka. Dinding-dinding rumah itu telah menjadi milik kegelapan malam. Punya telinga yang senantiasa mendengarkan setiap bisik-bisik selembut apapun. Bahkan desah nafas tak luput selalu dicurigai.

Dinding itu memiliki mata liar dengan taring-taring ganas yang kapan saja siap menerkam mangsa, mengintai tubuh-tubuh penghuni rumah, sehingga mereka lebih suka terpejam atau menutupi mata dengan kain sekenanya meskipun dengan kebimbangan penuh ketakutan.

Pintu rumah Kiai Sukro didobrak hingga roboh. Istrinya menggigil ketakutan. Kiai tetap diam gemrengeng melantunkan dzikir. Bayangan-bayangan hitam kian mendekat, merenggut, memaksa, menggelandang kiai keluar rumah. Istrinya mula-mula terisak, kemudian teriak histeris.

Bayangan-bayangan hitam terpecah. Sebagian kembali mengurus istri kia, sebagian terlena. Kiai Sukro meronta. Lepas dan lari terus lari. Bayangan-bayangan hitam kehilangan, segera mengejar. Jalanan gelap. Semua lampu padam. Astaghfirullah ini pasti ulah mereka. Kiai terus berlari dan terus berlari di tikungan belok kanan menerobos pohon-pohon pisang. Terseret daun nanas. Perih. Tak peduli terus berlari. Aneh. Tak ada satu orang pun tetangga yang keluar. Pintu-pintu tertutup rapat. Kiai Sukro harus menghadapi seorang diri.

Kiai menoleh pengejar semakin banyak. Tak ada kompromi, Kiai Sukro kembali berlari. Terengah-engah. Mnumbuk batangan pisang. Terjerembab ke parit, bau pesing. Tak peduli, segera bangkit dan terus berlari. Terus, terus dan terus. Di tengah kebun singkong terkepung. Bayangan-bayangan hitam kian merapat. Merenggut secara paksa. Kiai Sukro meronta-ronta . berteriak-teriak.

“Pak! Pak! Ada apa Pak!”

Ada sesosok yang berusaha menguncang-guncang lembut tubuhnya. Kiai Sukro tetap meronta.

“Jangan! Jangan..!”

“Pak! Eling Pak!”

Kiai Sukro terkejut. Dipandanginya istrinya lurus-lurus. Beralih ke pintu. Masih utuh. Dinding gedhek diperhatikan seksama tak ada bekas dobrakan. Bayangan-bayangan itu tidak ada. Tubuhnya sendiri diamati lekat-lekat, masih juga duduk bersila di balai-balai bambu. Kakinya tak ada goresan luka. Diusap wajahnya tak ditemukan biru lebam bekas pukulan. Dicium bajunya tak ada bau pesing itu. Alhamdulillah. Tidak terjadi apa-apa.

“Bapak melamum ya!”

Kiai Sukro hanya tersenyum. Sementara adzan subuh di masjid telah dikumandangkan. Ayam jantan saling bersahutan berebut riang menyambut pagi. Burung-burung pagi mulai berkicau. Beberapa kelelawar menubruk daun pisang pulang mencari sarang.

***

Siang hari tak ada keganjilan. Petani seperti biasa tetap saja pergi ke sawah. Pasar-pasar ramai oleh pengunjung. Hasil bumi melimpah ditawarkan. Anak-anak penuh riang berangkat ke sekolah berebut naik bus berjejalan khas angkutan pedesaan. Tak jarang bergelantungan di pintu. Bus menderu merangkak pelan campur bau keringat, bau trasi, asap kenalpot mengepul hitam jelaga. Kadang juga mengangkut kambing. Tak ada yang menolak.

Semua orang berharap bahkan setengah berdoa untuk tidak bertemu malam, atau setidak-tidaknya ingin agar malam tak segera datang. Karena malam adalah milik kegelapan. Banyak memiliki tangan-tangan ghaib yang menyeramkan. Malam bisa dengan tiba-tiba merenggut hidup seseorang tanpa sebab-sebab yang jelas.

Bila senja tiba pintu-pintu rumah segera ditutup rapat-rapat. Lampu-lampu hanya dinyalakan sekedarnya, remang-remang. Tak jarang rumah gelap tanpa penerangan, padahal senja belum beranjak temaram. Jalanan lengang tanpa ada seorangpun yang melintas. Tak ada warung, toko yang masih buka. Semua keperluan telah dipenuhi di siang harinya. Tak ada penghuni yang mau duduk-duduk di beranda menikmati indahnya bulan. Tidak. Bahkan cahaya bulan mengandung aroma kematian yang siap merenggut siapa saja, kapan saja bila kegelapan malam telah menjadi raja. Malam memiliki taring-taring yang menyeramkan. Karena mereka tak lagi memiliki malam, kecuali dengan kecemasan-kecemasan. Sedang kecemasan-kecemasan itu adalah bayang-bayang yang menakutkan. Tiap sudut kegelapan adalah taring-taring kematian, yang dengan mudahnya merobek-robek malam menjadi mangsanya. Di mana saja kapan saja.

Tiba-tiba lampu padam.

Kiai Sukro tetap saja tepekur di balai-balai. Ah, paling-paling Cuma bayangan semu seperti kemaren. Angin berhembus pelan. Serangga-serangga malam tetap berpesta nada. Tokek di pasak bermalas-malasan berbunyi murung. Sepasang cicak jatuh dipangkuan kia, segera berlari menyelamatkan diri. Kiai Sukro tak menangkap firasat apa-apa.

Tiba-tiba di luar gaduh. Suara orang-orang berteriak. Terdengar sayup-sayup di kejauhan. Semakin banyak, semakin dekat. Rumah kiai terkepung.

“Bunuh”

“Bakar”

“Penipu”

“Pembohong”

Pintu digedor-gedor. Dinding ditendang kuat-kuat jebol sana-sini. Pintru ambrol. Kiai Sukro terlambat menyadari. Beberapa orang merenggutnya kuat-kuat. Menggelandang keluar. Istrinya tak sanggup berbuat apa-apa. Sabetan pedang di lehernya segera mengakhiri hidupnya. Darah mengucur deras, masih saja diseret.

“Bakar”

“Bunuh”

Obor di tangan para pengepung dilemparkan ke rumah kiai. Dalam waktu sekejap terang benderang. Api berkobar-kobar menjilat langit. Rumah kiai roboh tinggal puing-puing.

Sementara itu, Kiai Sukro digelandang seperti sapi perah. Diarak keliling kampong. Tak ada kesempatan membela diri. Tubuh babak belur dipukul, ditendang penuh lebam. Wajahnya tak terkenali lagi. Mulut kiai hanya menggumam dzikir.

Ada beberapa pasang mata dengan takut-takut mencoba mengintip apa yang terjadi di luar. Tetap saja tak ada yang berani keluar. Api berkobar tak ada yang berani memadamkan. Ada mayat tak ada yang berani merawat. Mereka hanya mampu berdoa dalam hati semoga dirinya tidak akan mengalami hal yang sama serta doa-doa seperti malam-malam sebelumnya semoga tidak terlalu panjang bagi mereka.

“Akui saja, kamu yang telah membuhu anak-anak kami!”

“Ayo jawab”

Jangan sok linglung”

Kiai Sukro tak mengerti. Pembunuhan apa. Ia tak pernah sekalipun memercikkan darah. Tak pernah ada dendam. Tak pernah ada permusuhan. Bagaimana bisa dituduh melakukan pembunuhan.

“Cepat”

“Akhh..”

“Katakan cepat”

Aku hanyalah seorang kiai kampong.”

“Bohong”

“Kaulah pembunuh itu”

Tongkat, sepatu bot,. bergantian menendang memukul tubuh Kiai Sukro. Darah segera saja berleleran. Kiai hanya mampu komat-kamit melantunkan dzikir. Gemrengeng.

Kiai Sukro teringat kabar yang pernah sampai ke telinganya. Ia menyadari kini sebagai salah satu korbannya. Bayangan-bayangan gelap itu bukan sekedar kabar angin. Juga bukan sekedar mimpi seperti tempo hari.

“Rasakan pembalasanku dukun santet.” Bersamaan dengan itu sebilah pisau menancap keras di perut Kiai Sukro. Mengerang sekejap. Gemrengeng kalimat suci keluar dari mulut kiai. Darah muncrat mengenai wajah pembunuhnya. Isi perut segera saja terburai keluar. Mereka tergelak-gelak melihat wajah kaku dengan darah muncrat di perutnya. Seseorang meludah penuh kemenangan.

Angin bertiup basah. Tiba-tiba gerimis jatuh. Bumi menangis pilu. Dedaunan melantunkan dzikir penuh isak.

Purwokerto, 2001.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: