2 Komentar

Respon Tulisan Tanpa Honor

Postingan saya pada tanggal 1 Nopember 2008 dengan judul Menulis Tanpa Honor  sehari kemudian saya masukkan ke milis penulislepas.com. Ketika saya mengirimkan dalam bentuk email hanyalah dalam rangka berbagi pengalaman dan tentu saja mempublikasikan weblog ini.

Tak terduga sama sekali ternyata belum juga berganti hari, enam buah email masuk dan hanya satu yang saya kenali pernah bertemu dalam satu acara di Purwokerto. Lima yang lain benar-benar tidak kukenal. Hari berikutnya masih kudapatkan dua pengirim email yang menanggapi kembali. Alhamdulillah saya mendapatkan begitu banyak masukan, nasehat dan tentu saja dorongan semangat.

Saya akan mencoba merangkai kembali email yang saya terima tentu saja secara acak dan telah saya edit dengan sedikit mengurangi hal-hal yang menurut saya adalah privat (hanya ditujukan kepada saya), tanpa urutan kapan pengirimannya. Saya ingin memulai dari yang tertua Pak Hotma L Tobing.

“Hotma L. Tobing”

<baritanidongan@yahoo.com>

Selamat pagi

Saya tertarik dengan ulasan saudara Sunarno tentang Menulis tanpa honor.

Sudah 30 tahun lebih saya menulis di berbagai media di ibukota dan lokal. Dengan menulis bahasa Indonesia kita pun makin sempurna. Dengan menulis dalam bahasa daerah di koran lokal, bahasa daerah kita pun semakin abadi karena terkikis dari hantaman era globalisasi. Dulu ketika baru pertama kali menulis, saya tidak tahu bahwa tulisan akan mendapat honor. Hanya ada rasa bangga bahwa tulisan kita dimuat. Semakin lama semakin saya sadari bahwa honor seyogyanya diberi, karena kita kan beli prangko, kertas dan mengeluarkan tenaga serta pikiran ketika mau menulis. Kini dengan menulis dan mengirimkan via e-mail, juga butuh uang ke internet, bukan. Menulis itu tidak mudah dan membutuhkan pengorbanan. Jadi, alangkah elok bila diberi honor. Akan tetapi tidak semua media menghargai penulisnya, karena apa? Ternyata banyak dari media itu tidak punya uang. Bahkan banyak juga di antara redaktur itu selalu cekak, karena tidak ada iklan yang mendukung biaya operasionalnya. Jadi mereka diam aja. Tidak kirim honor dan tidak juga mengirim surat pemberitahuan atau mengirim koran atau majalah yang memuat karya kita.

Alangkah bahagianya bila kita diberi honor. Apabila tidak ada honor, alangkah senangnya bila redaktur media itu memberitahukan, atau mengirim surat, mengirim e-mail, atau mengirim sms dan mengucapkan terima kasih karena kita telah mengirim karya kepada mereka sembari meminta maaf bahwa mereka belum bisa memberi honor. Keterusterangan dan kejujuran seperti itu mestinya ada. Tahukah penerbit? Dengan adanya keterusterangan seperti itu, isteri atau suami kita akan maklum. Jadi pasangan kita tidak akan menyeletuk lagi: Buat apa sih menulis kalau tidak diberi honor?

Kita memang merasa puas kalau tulisan sudah dimuat dan tulisan memberikan makna bagi orang lain. Sesungguhnya kita juga berharap mendapatkan honor. Honor yang bermakna penghargaan dalam bentuk apa pun itu.

Terima kasih.

Matur nuwun

Maturang suksema

Mauliate godang

Sahwa gele

Hatur Nuhun

Tarimo kasih

Mas Narno,

Yang kedua dari Zahidayat

Setahu saya media itu beda-beda. Koran lokal yang sudah mapan biasanya sudah mampu memberi “upah” alakadarnya kepada penulis. Tetapi Koran yang masih sempoyongan cashflow-nya, apalagi baru berdiri, jangankan untuk penulis luar mungkin untuk kesejahteraan wartawannya sendiri masih minim. Di tempat saya, satu-satunya koran lokal juga tidak (belum) memberi honor penulis luar. Padahal, koran itu satu grup dengan koran bisnis besar di Jakarta.

Media yang memberi honor pun ternyata beda-beda. Ada yang cepat memenuhi kewajibannya, tapi lebih banyak yang “menunggak” dulu mungkin sampai medianya laku. Saya sendiri paling senang menulis ke Kompas. Meski relatif susah dimuatnya, tapi lumayan selalu mendapat balasan jika tulisan dianggap tak layak. Soal honor? Hemmh… satu minggu setelah tulisan tayang biasanya langsung ditransfer.

Sekarang, saya juga mulai suka dengan Koran Jakarta. Sekedar bocoran buat yang belum tau, kiriman honornya juga cepat. Awak redaksinya juga menelepon untuk beberapa kelengkapan tulisan. Buat pemula, saya sarankan menulis resensi buku sebab di koran itu rubriknya terbit setiap hari.

Terakhir, tips mengirim tulisan dari saya, selain ke Kompas, jangan sekali-kali tidak mencantumkan nomor rekening bank. Di banyak media, tegas-tegas pengirim tulisan diminta menyertakan rekening bank. Jadi supaya honor tak tertahan lama, ikutilah aturan mainnya.

zahidayat
http://kolumnis.com

Tri Arya Dhyana K. menuliskan:

Salam tuk semua temen-temen penulis……

Menarik membaca pengalaman teman-teman tentang honor penulisan, ternyata kita semua pernah mengalaminya…. Saya mulai kegiatan tulis menulis ini dimulai tahun 2000an ketika menimba ilmu di MEP UGM Yogya, dimana atmosfer Yogya sebagai kota pendidikan memang memungkinkan kita untuk dipacu belajar dan belajar, nah selama disana tulisan saya sering dimuat pada HU Republika, Radar Yogya, Suara Karya, Jawa Pos, Surabaya Post (1x) dan media lokal daerah saya Bali Post, masalah honor waktu itu lumayan lancar saya terima via wesel post.

Saat ini saya rutin menulis di media massa lokal Bali, dan selama ini honor selalu di transfer via rekening pada akhir bulan, namun ada pula harian lokal lainnya yang “menghadiahi” saya cuma sms informasi tentang tulisan kita yang dimuat.

Sedang pada media massa nasional, saya sering pula mendapatkan transfer honor penulisan tiap akhir bulan tulisan tersebut dimuat (walau saat ini saya jarang mengirimkan tulisan lagi ke media nasional)

Jadi dari pengalaman tersebut, ada baiknya temen-temen yang mengirimkan artikel/opini/puisi dll ke media massa dilengkapi dengan data diri yang lengkap dan disertai dengan no rekeningnya di Bank, sehingga redaksi akan mengirimkan via transfer rekening, bahkan bisa pula disertai dengan menelpon redakturnya untuk mengingatkannya bila ada tulisan kita yang dimuat.

Namun diluar itu smua, sebagai penulis pemula tentulah masalah honor adalah masalah yang kesekian (walau kita semua memang memerlukan duit), sebab yang utama adalah kepuasan batin kita bahwa tulisan kita dimuat pada suatu media yang dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang!! Dan orang-orang akan mengenal nama kita, bahkan untuk saya pribadi selama ini mendapatkan “keuntungan yang tidak ternilai” yaitu berkat seringnya artikel dimuat pada harian lokal maka keberadaan saya di dunia kerja saya saat ini (birokrasi) menjadi lebih diperhitungkan.

Akhirnya kesimpulannya, bagi teman-teman jangan pernah berhenti atau bahkan menyesal untuk menulis, sebab semua itu tetap akan berguna dan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain, tanamkan terus apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa “orang boleh saja pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis maka dia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah, sebab menulis tersebut adalah bekerja untuk keabadian”.

Ok, selamat berkarya

Wassalam;

Tri Arya Dhyana K.

Masih ada lagi kiriman dari affandi kartodihardjo:

Idealnya semua tulisan itu ada honor berupa materi. Meski demikian, bagi beberapa penerbitan memang lagi berperang dengan nafasnya sendiri. Kita semua sudah tahu khan, kalau mendirikan usaha penerbitan baik itu koran atau tabloid dengan adanya UU no 40 itu gampang sekali.

Ibaratnya, kita ini membuka toko atau warung, kalau warung atau toko itu laku berarti kelangsungan hidup ‘warung’ itu akan terjaga. Tapi, kalau korannya atau tabloidnya tidak ada yang beli, ya tutup ‘warung’ itu.

Sebagai contoh kasus di Bogor,  banyak sekali orang yang mencetak koran atau tabloid, tapi mereka hanya cetak dua kali lalu mati. Ada juga yang hanya cetak sekali, sekedar untuk menjadi bendera kalau mereka bekerja di situ, dan, meski korannya  tidak terbit lagi tapi orangnya masih saja gentayangan pakai kartu pres yang mereka bikin sendiri. Ada lagi koran yang terbitnya tidak tetap. Kalau ada yang membiayai, baru dicetak kalau belum ada ya  nunggu sampai ada dana baru dicetak.

Jadi, kalau menulis tidak ada honornya, mungkin sedang berhadapan dengan penerbit yang seperti itu. Tapi, jangan kuatir setiap amalan pasti ada imbalannya. Tulisan Anda, jika isinya memang berguna bagi sesama pasti ada balasannya. Jadikan, tulisan Anda itu sebagai amalan hidup yang berguna bagi yang lain. Jadi, Anda sudah bersedekah dengan tulisan Anda.

Maaf untuk bang Hamidin Krazan tidak untuk umum, artinya tidak dimasukkan dalam postingan kali ini. Saya lanjutkan, karena masih ada dua email lagi yaitu dari mbak Neni, Syanda dan Jamaatunrohmah:

Saya sangat menghargai pendapat pentingnya honor bagi penulis, dan memang semestinya demikian. Namun sebaiknya juga diingat bahwa ada juga penulis yang benar-benar alasannya karena ingin memberikan sesuatu, dalam hal ini pengetahuannya, pendapatnya.  Penulis seperti ini menganggap bila menulis itu murni ibadah, artinya tidak mengahrapkan sesuatu.  Dan itu bukanlah sebuah kesalahan.    Ada juga penulis, yang tidak peduli dengan honor, yang penting namanya bisa eksis, sering keluar di media.  Ini juga bukan suatu kesalahan. Bagi saya, semuanya kembali pada diri kita masing-masing.  apa sesungguhnya yang ingin kita raih dari menulis….

salam,
Neni

Hai Mas Sunarnuo, menurut pengalaman saya kalau tulisan kita di muat disebuah media, koran atau majalah pasti ada imbalannya, sesuai dengan atau ada harganya, sesuai dengan kebijaksanaan atau aturan dari media itu sendiri. biasanya dihitung perkolom berapa gitu dan tiap
media pasti berbeda-beda. Jadi ketika kita kirim tulisan rajin lihat-lihat media apa yang kita kirimi, kalau terpangpang tulisan kita segera hubungi media tersebut, bisa datang sendiri atau via telpn, paling cuma nunjukin KTP aja, apalagi jika kita sering nulis di media itu para dedaksi pasti cepat mengenal kita. jadi jangan berhenti menulis gara-gara tulisan tidak diberi harga. karena media itu sendiri harus memilah-milah mana tulisan yang layak diturunkan. Bukankah para penulis mencari makannya dari hasil tulisannya itu sendiri.

Semoga saran saya bermanfa`at.

Wasalam

Syanda

Terakhir Jamaatunrahmah semoga tidaklah menyebabkan ulasan saya tersebut mundur diri dari kebiasaan menulis, karena memang saya bukan bermaksud mematahkan semangat teman-teman dalam hal menulis karena hambatan yang sebenarnya masih bias dicarikan jalan keluarnya, karena Jamaatunrohmah menulis:

Saya termasuk orang yg pernah mengalami nasib yang sama. makanya saya jadi malas untuk mengirimkan tulisan saya ke koran lokal ato majalah. saya lebih suka mengupload tulisan-tulisan saya tersebut ke website untuk penulis atau blog pribadi saya. toh sama-sama tidak mendapat honor. Saya pernah menanyakan kepada seorang teman yang menjadi wartawan di koran lokal tempat saya dulu sering mengirim cerpen dan dimuat. Dia bilang untuk penulis yang masih pemula, mestinya jangan mengharapkan honor. Sudah dimuat saja mestinya saya sudah merasa beruntung karena bisa beriklan secara gratis. Pernyataan itu adalah salah satu yang membuat saya kadang-kadang merasa enggan untuk terus menulis.

Tanggal 11 Nopember tepatnya Selasa pagi saya membuka kembali saya buka mail penulis lepas.com ternyata masih ada dua kiriman tertanggal 8 dan 10 Nopember. Yaitu:

Kalau saya, menulis itu Industri.
Seorang penulis itu perlu eksis agar namanya tetap dikenal masyarakat dan
juga perlu mendapatkan honor, paling tidak sebagai ganti biaya produksi.

—–

Chandraleka
Independent IT Writer

dan satunya lagi adalah

Menulis itu memberikan yang kita punyai secara tertulis kepada banyak orang, khususnya gagasan kita atas sesuatu hal, ada kalanya kita perlu mendapatkan imbalan, tetapi kadangkala tanpa imbalan. Yang terpenting dalam hal ini adalah bagaimana kita dapat menyamaikan gagasan untuk banyak orang, itu menurut aku ya…. (Mohammad Saroni).

Iklan

2 comments on “Respon Tulisan Tanpa Honor

  1. Terima kasih, tulisan saya ikut dirangkai dalam tulisan Mas Narno. Terima kasih, dan tetap menulis.
    —-+++—-
    semua yang memberi tanggapan memang saya rangkai, terima kasih atas kunjungannya

  2. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: