Tinggalkan komentar

Sebuah Auto Kritik

MENGKRITISI 18 BULAN MAJALAH HUSNUL KHOTIMAH

(Sebuah Auto Kritik)

Oleh: Sunarno

Setelah usianya menginjak 1,5 tahun media Husnul Khotimah barulah berkesempatan untuk menimba ilmu ke media lain yang sudah jauh lebih mapan dan lebih berpengalaman, yaitu ke redaksi Sabili dan Gontor. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dalam perjalanan singkat mengambil hari libur yaitu hari Jum’at tanggal 7 Nopember 2008.

Dari hasil kunjungan tersebut saya berkesimpulan bahwa untuk berkembangnya suatu media pilar utama yang harus dimiliki oleh pengelola media adalah profesionalisme. Sikap profesionalisme ini bisa dibangun atas adanya dua hal pokok.

Bangunan yang pertama adalah sumber daya manusia. Untuk melangkah ke arah media yang profesional maka dibutuhkan SDM yang benar-benar mengerti akan bidangnya dan fokus pada pekerjaannya. Selama ini fokus pada pekerjaannya masih sangat jauh dari ideal. Keterbatasan SDM masih menjadi kendala. Jumlah SDM yang sangat terbatas ditambah lagi minimnya kontribusi dari pihak pegawai dalam memenuhi kebutuhan naskah seringkali membuat deadline tertunda. Suatu kejadian yang sulit terhindarkan apalagi setelah libur pegawai yang agak lama.

Sebenarnya media telah memiliki modal berupa pembaca yang sudah pasti yaitu jumlah santri dan pegawai yang cukup besar. Modal pembaca ini perlu diimbangi dengan tumbuhnya para penulis yang setiap saat mampu menggerakkan roda perputaran media. Apalah artinya sebuah media tanpa didukung oleh pembaca dan penulis.

Tanpa adanya pembaca media jelas tidak akan laku. Ide-ide yang ditawarkan sehebat apapun tak akan ada yang mengenalnya apalagi sampai menjadikan bahan diskusi. Hanya tersimpan di dalam benak. Tanpa adanya kontribusi penulis media akan terseok-seok perjalanannya, karena sebagian besar menu di dalam media adalah berupa tulisan.

Kendala keterbatasan SDM sangat terasa ketika kru media harus melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Selama ini yang ke lapangan untuk melakukan wawancara ke sumber informasi adalah yang juga bertugas melakukan penyuntingan naskah plus editing, masih sangat jauh dari sikap profesional yang seharusnya fokus pada satu tugas tertentu. Alhamdulillah untuk lay out cukup fokus dikerjakan oleh satu orang, meskipun itu dirasa juga masih kuraang dari ideal.

Di sisi lain anggota redaksi adalah juga team yang turut serta terjun langsung ke kelas sebagai guru. Idealnya guru dan menulis adalah satu mata rantai yang saling mendukung. Akan tetapi jika tugas mengajar cukup banyak apalagi masih ditambah amanah yang lain (ditunjuk sebagai staf laboratorium misalnya) maka akan mengakibatkan perlakuan terhadap media hanyalah sebagai pemanfaatan waktu sisa, alias sampingan semata. Jika pemahaman ini pula yang dipahami oleh pihak-pihak terkait maka hal ini justru merupakan kendala struktural yang seharusnya tidak perlu terjadi. Karena amanah mengembangkan media juga merupakan amanah stuktural sehingga bukan sekedar sampingan yang bisa memanfaatkan waktu sisa.

Bangunan yang kedua dan tidak kalah pentingnya adalah dukungan finansial. Cukup menarik kritik yang dikemukakan oleh redaksi Gontor. Berkaca pada pengalaman Gontor untuk memulai produksi menunggu selama satu tahun agar modal finansial yang dibutuhkan mencukupi. Hal ini berbeda dengan majalah Husnul Khotimah yang memulai berproduksi tanpa diawali perhitungan yang matang tentang ongkos produksi.

Menurut Redaksi Gontor kontribusi dari santri hanya impas untuk ongkos cetak. Para pengurusnya hanyalah berjibaku atas tenaga dan pikirannya yang dimanfaatkan untuk kesinambungan majalah.

Disisi lain masih minimnya sarana yang dimiliki oleh media. Membandingkan dengan kondisi Sabili tiap satu orang bertanggung jawab dengan pekerjaannya dengan satu komputer plus masing-masing tersambung dengan internet, sedangkan di Husnul jumlah komputer masih belum sebanding dengan kebutuhan. Mengapa internet? Untuk mengembangkan media tak lepas dari informasi pihak luar. Informasi paling cepat adalah melalui internet yang memang seharusnya diakses oleh media.

Majalah Husnul Khotimah sebagai wahana komunikasi dan ekspresi warga pesantren akan sangat berarti apabila didukung oleh segenap konponen di dalam pesantren itu sendiri. Harapan ke depan adalah terbentuknya iklim tulis menulis yang kondusif mampu melahirkan para penulis yang handal baik dari pegawai maupun dari santri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: