6 Komentar

Antara Xanoa dan Aku

Aku Diganggu Xanoa

Kapan pertama kali aku dikunjungi Xanoa, aku sendiri tidak tahu pasti. Awalnya aku acuh saja. Benar-benar tak tersadari keberadaannya. Padahal setiap kunjungannya selalu menimbulkan masalah. Kelihatannya sepele, akan tetapi ketika aku harus segera merampungkan pekerjaan yang menumpuk, deadline majalah yang kian mepet terasalah kehadirannya sebagai sebuah hambatan kerja. Sekali lagi karena tak tersadari kehadirannya, maka biasanya untuk membuang jenuh kutinggal sejenak minum teh atau kopi.

Mulai tersadari kehadirannya, Xanoa pertama kali muncul dalam wujud persegi hitam legam. Memperkenalkan diri dengan memakai nama seseorang yang telah diputuskan oleh pengadilan dieksekusi alias dihukum mati karena telah menumpahkan darah tetangganya sendiri, entah oleh alasan apa, karena aku tidak mengikuti beritanya secara intens. Ada pesan singkat yang intinya meminta dukungan bahwa keputusan hakim itu salah, perlu direvisi. Tidak perlu hukuman mati. Jika saya setuju maka ia akan menyingkir, mempersilahkan melanjutkan kerja. Tapi kalau saya menolak artinya kerja harus dihentikan. Tidak ada pilihan lain. Maksa banget, yang aku rasakan.

Aku masih tak peduli. Padahal kalau sesosok hitam itu tidak segera disingkirkan pastilah banyak pekerjaanku yang disembunyikannya. Tubuhnya yang hitam persegi sanggup menutupi separoh layar kerjaku. Kalau kupilih setuju, hati nurani ini berontak, akankah aku menyetujui bentuk pemaksaan ini? Akankah aku menyetujui pembatalan eksekusi yang telah dilewatkan? Bagaimana? Bagaimana? Berbagai bagaimana berkecamuk saling bersahutan di kepalaku.

Dan yang membuatku sedih, setiap kedatangan Xanoa, ia selalu menyelinap. Lebih sering tak terlihat. Bahkan akhir-akhir ini sosok hitam persegi tak lagi kutemukan. Akan tetapi pengaruhnya selalu terasa. Padahal pekerjaanku tak jarang kubawa pulang. Lihainya ia menyelinap. Dirumah pun masih juga menggangguku. Xanoa benar-benar licin dan sangat cepat beranak pinak, menggandakan diri sejumlah kotak-kotak kerja yang telah kubuat. Tak peduli berapa lama aku menyimpan pekerjaan itu. Uniknya Xanoa selalu berhasil menduplikasi nama hasil kerjaku, hanya dalam hitungan detik. Padahal hanya satu yang kusentuh, tetapi itulah lihai dan licinnya Xanoa. Jelas bikin punyeng dan apa yang harus aku lakukan?

Kemudian kutemukan identitas Xanoa. Lengkapnya yang suka mengunjungiku itu adalah w32/worm.VB.Xanoa. Kuusahakan bagaimana untuk bisa mengatasi tamu tak diundang ini. Biasanya aku pakai jasa pcmav, ternyata tak terdeteksi keberadaannya. Iseng-iseng kupanggil ansav untuk turut mengurai benang kusut antara aku dengan Xanoa. Tak terduga ansav sukses besar membongkar kepalsuan Xanoa. Kusebutkan kepalsuan, karena duplikasi yang dibuat bukan benar-benar duplikasi, akan tetapi hanya namanya saja tanpa isi, alias tong kosong. Yang jadi masalah bukan sekedar tong kosongnya, akan tetapi efeknyalah yang sangat terasakan. Ansav melaporkan tingkat resikonya adalah low artinya pekerjaannku pastilah akan terganggu, terhambat oleh ulah Xanoa yang licin itu. Dari situlah kuketahui data w32/worm.VB.Xanoa.

Kukira dengan sekali meminta bantuan Ansav cukuplah masalahku dengan Xanoa. Ternyata tidak, mungkin inilah resiko pekerjaan tidak dilakukan disatu tempat.

Jadi, sampai detik ini saya belum benar-benar berhasil menyingkirkan gangguan Xanoa. Akibatnya sesekali masih meminta bantuan Ansav untuk mengusir Xanoa.

Iklan

6 comments on “Antara Xanoa dan Aku

  1. anu, pake NOD32 antivirus coba..
    lumyan bagus kok itu 🙂

  2. anu, pake NOD32 antivirus coba..
    lumyan bagus kok itu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: