13 Komentar

Menanti Reda

Tidaklah lebat sebenarnya. Hanya rinai tipis yang melayang-layang. Namun tetap membasah jika nekad menerobos. Jarum jam meniti serasa teramat lambat, ada beban yang memberati. Sebelum tengah hari tadi sudah mulai rintik-rintik bahkan sempat melebat.

Tak bermaksud menolak rizki yang diberikan, apalagi menggugat kuasa yang maha bijaksana. Mana aku mampu. Memanjang waktu lebih terasa lagi karena si kecil tak mengenal kompromi. Kalau seorang diri tak jadi soal. Nekad menerobos tidaklah terlalu mengundang resiko. Tapi ini bagaimana si kecil yang masih ada flu. Ada was-was kian cemas.

Rinai tetap saja membelai dedaunan, membasah tanah, menggigilkan tulang. Detik berlalu serasa meniti lamban. Layaknya jalan setapak di tengah belantara. Tak jua menemukan titik ujung. Seolah hanya berputar-putar saja. Kembali dan kembali ke tempat berpijak.

Aku tak menyesal, karena ini memang musimnya. Rinai selalu hadir tanpa mengenal kompromi. Saat sedang bergegas, santai, atau sedang sibuk dengan pekerjaan adalah rutinitas manusia. Gerimis bukanlah perilaku alam yang dikendalikan manusia. Jadi tak mungkin mau kompromi. Apalagi temaptku ini dikenal sebagai daerah yang selalu basah. Gerimis bisa tahan hingga tiga hari bahkan sepekan tak kunjung henti.

Aku sadar.

Aku tak hendak mempersoalkan

Aku tak mungkin menggugat

Aku tetap menunggu

Hanya saja aku tak sendirian. Ada si kecil yang sedari tadi tak mau dibujuk menunggu reda. Hanya satu kata yang terucapkan: pulang. Apapun yang kubisikkan hanya satu jawaban: pulang. Tak peduli gerimis rintik-rintik, tak peduli kakak sepupunya berlarian mengajak kembali bermain, tak peduli pakde, dan budenya membujuk untuk tetap tinggal, bahkan embahnya tak dihiraukan. Hanya satu keinginannya segera pulang bersama sang ayah.

Rumah bude memang bukan rumah ayah.

Seolah diriku waktu kecil dulu. Ke rumah eyang selalu tak betah. Inginnya segera pulang. Omelan eyang pun tak pernah membuatku jera atau sekedar takut. Pokoknya ibu harus segera pulang. Ah, masa kecilku membayang pada si kecilku kini.

Dingin tidak lagi hanya membelai. Aku baru saja ngebut untuk beli premium. Tempat langgananku kehabisan stok. Tak ada pilihan lagi selain ngebut terus hingga belasan kilometer. Tidak hanya menerobos gerimis, tapi juga lebat yang tadinya tak diperhitungkan. Beruntung ada jas hujan. Tapi, dingin jauh lebih cerdas untuk menelusup. Seberapalah arti sebuah jas hujan yang hanya mencegah merembes air. Tipis lagi.

Si kecil makin pingin pulang. Tak bisa dilarang. Makin banyak keinginan, segera pulang dan kemudian tidur bersama ayah. Kudekap erat karena tak lagi bisa diajak kompromi. Pelan-pelan keinginan kedua ternyata lebih dulu terjadi. Dalam dekapan, nyaman terlelap. Ada sedikit kelegaan, setidaknya masih bisa menunda hingga rinai benar-benar reda. Biarlah terlelap dalam dekapanku. Biasanya memang sebelum tengah hari si kecil menikmati lelap. Kali ini tertunda karena lebih memilih bercanda dengan kakak sepupunya. Tak aneh begitu dilihat ayahnya datang keinginannya segera pulang.

Rinai gerimis tak jua berhenti.

Si kecil kubaringkan saja di tempat tidur. Namun aku sendiri tak juga tenang. Biasanya kalau ada keinginan yang belum terpenuhi lantas tertidur, maka tidurnya tidak akan lama dan sangat mungkin mengigau. Ini kekhawatiran lain. Maka tak mungkin aku ikut tidur. Kutunggui sambil tetap memeluknya memberikan kehangatan. Rasa dingin kini menjalar ke seluruh tubuh di tambah lagi kepala memberat, pening, mempersulit mata memejam.

Pagi tadi, memang aku sengaja menitipkan si kecil untuk bermain dengan kakak sepupunya. Toh embahnya juga sedang di rumah kakak iparku. Rencananya sepulang kerja aku bisa mampir menjemput. Sayang rinai gerimis hadir lebih awal. Rizki yang tak pernah terduga.

Benar, belum juga hingga hitungan jam si kecil telah bangun, teringat kembali keinginan untuk pulang. Masih dengan mata yang berat membuka, tapi tak mau lagi di tempat tidur. Hanya mau didekap dalam gendongan. Tak ada pilihan lain. Diajak duduk pun enggan.

Rinai tak jua berhenti

Senja mulai membayang.

Aku masih menanti

13 comments on “Menanti Reda

  1. Anak adalah segalanya, meskipun demikian dia adalah titipan.. Sudah sepatutnya dan sewajarnya kita berkorban dan menjaga amanah yang dititipkan..
    Keep posting ya.. 🙂

    —+++—
    sangat betul. Titipan yang harus selalu dijaga

  2. Pak narno salam ya buat si kecil… sama tuh seperti anak wedhok ku… kalau pulang ya pulang…

  3. warmorning:
    bukan pada jas hujan tapi bagaimana si kecil (baru usia dua tahun) tetap terlindungi

    hejis:
    salam juga

    omiyan:
    benar adanya

    sarahtidaksendiri:
    semoga lekas jadi orang tua, tahu bagaimana rasanya punya anak

    artja:
    pinginnya sih jadi ayah yang sukses

    langitjiwa:
    memang sengaja saya rencana jemput sendirian. ibunya sibuk urusan rumah

  4. loh mas,ibunya anak2 kemana?

    **

    Selamat Tahun Baru,mas Sunar.

  5. tidak mudah jadi orang tua, banyak yang gagal. dan ayah yang berhasil, tentu sebuah prestasi yang tidak sembarangan orang mampu meraihnya

  6. sabar banget….
    anaknya yg lucu pasti bangga dan bahagia…
    menjadi org tua mmg g mudah dan g gampang, kesabrannya bnr2 dashyat…jd pengen jg jd org tua..*hallah*

  7. anak adalah sosok yang berharga dan harta yang tak ternilai, karenanya kita bisa bersemangat untuk selalu ada untuknya

  8. Hanya ayah sejati dan bukan sembarang ayah yang mampu memberikan dekapan hangat kepada si kecil.
    Salam hangat, mas 😀

  9. musim gini, memang musti sedia jas hujan sebelum jalan-jalan, om 🙂
    salam

  10. terima kasih atas doanya. hari ini si kecil sudah bisa bermain-main dengan embahnya, meskipun masih sedikit menyisakan pilek.

  11. psati senang punya ayah spt anda pak.. ^_^ bahasa tulisan yang indah sekali, deep meaning inside ^__^ semoga si kecil cepet sembuh ya pak 🙂

  12. Berkorban demi anak. Semoga cepet sembuh.

  13. Sang anak adalah pelita, penguasa hati sang orang tua, dia bersedih sang ayah pun ikut bersedih, aku ingin sang anak mengerti karna cinta sang ayah keinginannya terpaksa tertunda.
    semoga mas diberi kesehatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: