26 Komentar

Kekuatan Doa

Peralihan tahun 2008 ke 2009 ini berarti aku telah genap empat tahun mengenyam kehidupan, meminum air lereng Gunung Ceremai. Meninggalkan aliran Gunung Slamet dengan Kali Pelusnya dan semakin jauh dari Gunung Merapi serta Kali Cemoro (anak sungai Bengawan Solo). Selama itu pula aku telah mengabdikan ilmuku di Husnul Khotimah. Kusebut mengabdikan ilmu memang karena aku tidak sekedar menyampaikan pelajaran biologi di depan kelas, tetapi juga tugas-tugas lain yang tidak terdapat di sekolah lain. Apalagi jika guru itu seorang PNS.

Jika dihitung keseluruhan aku disebut guru ditambah sebelumnya di bawah Gunung Slamet, maka kira-kira baru mencapai bilangan delapan tahun atau bahkan kurang sedikit.

Usia tujuh tahun barulah anak-anak. SD saja baru permulaan. Masih wajib belajar dan terus belajar. Tak sepantasnya merasa diri telah mumpuni. Apalagi mengklaim diri sebagi guru senior. Kalau kebagian kelas terakhir itu karena tugas. Ringan tapi juga berat. Ringan karena siswa jelas lebih dewasa dibanding adik-adik kelasnya sehingga lebih mudah memperoleh pemahaman. Berat tanggung jawabnya karena merupakan salah pelajaran yang di ujikan secara nasional.

Hampir tiap awal tahun ajaran baru muncul pertanyaan yang sepertinya hanya sepele. Ringan diucapkan, bisa ringan bisa pula rumit untuk menjawabnya.

“Apakah bapak dari kecil bercita-cita menjadi seorang guru?”

Itulah pertanyaannya. Sederhana, sangat sederhana. Cukup dijawab dengan satu kata. Ya atau tidak, bahkan bisa saja diabaikan. Bukan pertanyaan penting. Itu kalau yang bertanya bukan seorang siswa.

Karena yang bertanya adalah seorang siswa kepada gurunya di dalam kelas lagi maka menjadi pertanyaan yang tidak sederhana. Bahkan bisa menghabiskan satu jam pelajaran untuk menguraikannya.

Kenapa saya katakan tidak sederhana. Apapun pertanyaan seorang siswa tentang gurunya, apalagi menyangkut cita-cita sangat mungkin akan berpengaruh pada perkembangan diri siswa untuk masa-masa selanjutnya. Setidaknya aku sendiri telah mengalaminya.

Sejujurnya tak pernah terlintas dalam keinginan masa kanak-kanak, aku untuk menjadi seorang guru. Meskipun lingkungan sangat mendukung, profesi yang agak bergengsi waktu itu ya menjadi guru. Tapi tidak untukku. Di hati kecilku, aku sudah terpesona beberapa nama yang semuanya kukenal bukan sebagai guru. Ada Chairil Anwar, NH Dini, Amir Hamzah. Sejak masih di bangku SD buku-buku bacaan milik kakakku yang di sekolah lanjutan habis kubaca. Terutama yang berkaitan dengan kesusastraan.

Disisi lain aku juga sadar. Keinginan seperti nama-nama itu seolah hanyalah mimpi belaka. Aku anak kampung yang tiap hari hanya bergulat dengan lumpur bagaimana bisa menjadi seperti mereka. Belum lagi bagaimana tanggapan masyarakat, aku akan sangat terasing. Bisa-bisa dianggap anak tak tahu diri. Akhirnya hanya kupendam saja. Aku tak boleh larut pada keinginan yang menurut orang lain mustahil.

Bicara prestasi akademik, alhamdulillah aku selalu diunggulkan level kampung. Setidaknya aku sanggup memecahkan rekor peringkat pertama padahal aku dari Madrasah mengungguli dua SD yang jelas-jelas sekolah negeri. Bahkan khusus Madrasah aku sempat teratas untuk level kecamatan. Justru dari situlah banyak para tetangga yang menyatakan harapannya agar aku masuk sekolah keguruan, tentu salah satu faktornya adalah biaya. Aku sadar bahwa diriku dibesarkan tanpa seorang ayah. Waktu itu lulus SPG (setingkat SMA) bisa langsung menjadi guru.

Tapi soal hati, tentang keinginan atau istilah lainnya cita-cita, adalah persoalan pribadi. Bukan orang lain yang menentukan. Setiap melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, aku tak pernah merasakan sesuatu yang luar biasa. Semuanya berjalan begitu saja, seperti air mengalir begitulah adanya. Mungkin karena aku termasuk selalu mendapat prestasi yang tidak pada level mengkhawatirkan. Meskipun di SMP paling bagus hanya mencapai angka 16 di antara 220 teman-teman seangkatan. Dan di akhir SMA aku terpuruk di urutan 20 dari 40 siswa.

Tak terbersit untuk menjadi guru. Aku semakin tertarik pada Chairil Anwar dan Amir Hamzah. Bahkan ketika kelas 3 SMA aku terpesona pada Nugroho Notosusanto, justru inilah awal keberanianku membuktikan bahwa aku selama ini tidak hanya sekedar memelihara mimpi. Tugas membuat resensi Mbah Danu (cerpennya Nugroho Notosusanto dalam Tiga Kota) mendapat acungan jempol dari guru Bahasa Indonesia. Padahal aku mengerjakannya setengah tidak jujur. Satu kelas dibagi menjadi empat kelompok untuk menyusun. Kelompok yang lain rupanya ada yang cukup rajin menulis sangat rapi. Kelompokku tak ada satupun yang membuatnya. Bahkan sekedar membicarakan saja tidak. Hanya coretan tak jelas yang aku miliki. Masing-masing kelompok membacakan hasil kelompoknya. Aku mewakili kelompokku pura-pura membaca. Tapi justru inilah istimewanya. Aku tidak membaca akan tetapi mengarang saja spontan di depan kelas.

Kata Pak Guru: inilah calon penulis. Bisa mencari uang dari resensi buku.

Semakin kuat lintasan keinginan untuk seperti tokoh-tokoh itu. Ditambah aku mulai mengenal nama lain meski hanya lewat sepotong koran: Ahmad Tohari.

Mengapa aku tidak masuk SPG?

Saat aku lulus SMP, maka saat itu pula pemerintah menutup SPG. Tidak ada lagi sekolah pendidikan guru. Calon guru semuanya harus mengenyam pendidikan tinggi. Jadi aku tak menyalahi keinginan para tetangga ketika masuk SMA.

Di saat SMA ini pula ada tuturan seorang guru yang begitu kuat berpengaruh pada diriku. Beliau mengatakan bahwa tidak akan pernah mau bertegur sapa dengan alumni yang merelakan diri masuk ke fakultas keguruan.

Aku terlecut, semakin jauh dari harapan para tetangga. Fakultas Biologi yang aku tuju, harapan ingin menjadi ilmuwan sejati, bukan seorang guru. Tanda tanya siapapun yang muncul tak pernah kupedulikan. Aku menjalani, bukan mereka.

Ternyata kuliah itu tidak gampang. Menjadi ilmuwan itu banyak persimpangan. Banyak istilah-istilah yang teramat berat menelusup ke dalam bilik penngertianku. Banyak pula tugas-tugas yang membuatku tak lagi enjoy. Hanya kalau harus menuliskan tugas, atau laporan maka aku merasa mendapatkan duniaku.

Bagaimana dengan prestasi? Jangan tanyakan itu. Aku tak pernah mampu melewati angka 2.77 hingga resmi dinyatakan sebagai sarjana. Kalau ada postingan yang sedih karena IPK 2,44 maka aku pernah mengalami IP semester tertentu adalah 0.00 lebih mengenaskan memang.

Menunggu saat wisuda aku semakin mengenal Ahmad Tohari bukan sekedar lewat novel-novelnya atau kolomnya di media massa, tetapi aku langsung terlibat diskusi dan berguru ke rumahnya di Tinggarjaya. Semakin mengokohkan apa yang aku inginkan.

Bagaimana kemudian bisa menjadi guru?

Inilah uniknya. Seperti air mengalir tak ada rencana yang pasti. Tulisan hanya sesekali kuhasilkan. Itupun telah kualami dari yang paling tak dihargai hingga benar-benar mendapatkan honor.

Aku terjebak dalam pekerjaanku sebagai tukang ketik di sebuah rentalan. Aku jadi andalan disitu dan idola para pelanggan. Jangan salah tafsir, idola dalam artian lebih banyak dicari karena aku dikenal jarang menolak order dan yang lebih penting adalah ketepan waktu dan kerapihan hasil amat disukai. Dan yang lebih penting bagiku dari situlah banyak membantu menopang hidupku, menopang kuliahku.

Disela-sela aku mengetik, ada adik tingkat dari fakultas lain mendatangiku. Dengan alasan ia diminta pulang oleh ibunya maka memintaku untuk menggantikan posisinya sebagai guru di sebuah sekolah swasta yang tidak begitu besar. Tentu dengan gaji yang jauh dibawah yang aku terima direntalan. Entah bisikan dari mana tawaran itu kuterima begitu saja. Segala kelengkapan administrasi segera kupenuhi dan resmilah aku menjadi guru.

Masuk dunia yang baru aku tak banyak menemui kesulitan. Ketepatan waktu tak masalah bagiku. Menguraikan materi pelajaran tak pernah kuduga ternyata aku mampu bahkan dalam waktu yang singkat kepercayaan demi kepercayaan kuterima di sekolah. Wali kelas, panitia, hingga wakil kepala semua telah aku lalui. Akupun melengkapi diri dengan segera mengikuti program akta mengajar. Hingga akhir tahun 2004 ada peluang untuk masuk ke sekolah yang lebih besar. Tanpa pikir panjang kusambut dan aku diterima hingga detik ini.

Benar. Ditempat yang baru aku lebih berkembang. Dukungan sarana amat membantuku. Hanya waktu yang aku perlukan jauh lebih banyak dibandingkan guru di tempat lain. Disini mengajar lebih dari 20 jam per pekan adalah hal yang biasa. Sangat jarang terjadi di sekolah swasta lainnya. Keinginanku masa kanak-kanak masih ada tempat untuk berkreasi, meskipun kurang dari maksimal. Ada majalah yang salah satunya diriku sebagai staf redaksinya.

Mengapa aku merasa begitu enjoy menjadi guru? Pertanyaan itu seringkali hadir dalam waku senggangku.

Kutelusuri kembali apa yang pernah kualami, kujalani.

Kutemukan jawabannya.

Kekuatan doa. Doa para tetangga.

Kusadari doa orang lain yang tanpa pamrih akan jauh lebih tulus daripada doa sendiri yang kadang justru masih dibalut keraguan, atau bahkan dengki. Itulah yang kurasakan. Dua hal yang sepenuhnya kuharapkan tak berkembang sebaik satu hal yang sebenarnya tak pernah masuk ke dalam lintasan pikiran masa kanak-kanakku. Menjadi guru. Hanya doa yang tulus yang mampu menjawabnya. Setidaknya itulah kesimpulanku.

26 comments on “Kekuatan Doa

  1. annosmile:
    ya, saya selalu positive thinking

    indah rephi:
    kita hanya berwenang merencanakan, hasil bukan urusan mnausia

    suhar:
    terima kasih kunjungannya

  2. Kalo saya malah lebih tersentuh dengan ikhtiar Mas Sunarnosahlan yang luar biasa itu. Dulu di Karangwangkal ya Mas?
    Faktor ikhtiar tidak ditonjolkan karena Anda tll rendah hati..

    Doa dan ikhtiar harus jalan bareng Mas, tak bisa hanya krn salah satunya..

  3. dulu saya srg mikir, doa panjang lebar ampe jengking2 ga dikabulin sm Allah… akhirnya kesel sendiri dan marah sm Dia.tnp saya sadari Allah kasih yang lain. pilihan yang Dia pilihkan. dan saya yakin itu adalah yg terbaik utk saya dari Nya. dan saya bersyukur akan hal itu 🙂

  4. semangat dan positive thinking pak..

  5. uki21: saya turut berdoa semoga bisa segera menyelesaikan kuliah. saya melaluinya hingga 6 tahun baru kelar

  6. mencoba meniggalkan jejak..
    terkadang setiap keputusan yang harus di ambil memang sangat sulit.. karnanya sampai saat ini saya belum bisa menyelesaikan kuliah saya..

  7. Rindu: semoga cita-cita itu tercapai, masih ada waktu

    insanbiasa: manusia boleh berencana Tuhan yang menentukan

    kw:terimakasih

    airlangga19: salam juga

  8. Selamat Tahun Baru yo Pak!!
    Salam hangat…. 😉

  9. pak guru yang keren.

    selamat tahun baru, semoga tahun ini lebih membahagiakan

  10. cita-cita dari kecil saya malah ingin menjadi soerang guru pak. melihat bapak ibu saya adalah guru, dan semoga memamng guru-guru pilihan pahlawan tanpa tanda jasa.

    namun cita-cita itu kandas. bersama rasa syukur saya dalam hidup saya sekarang. setidaknya saya adalah guru bagi keluarga saya. amin

  11. ah saya jadi terharu membaca ini, teringat cita cita saya yang ingin menjadi penulis …

  12. uki21:
    usaha dan doa seiring sejalan

    bujanglahat:
    doa yang tulus lebih berharga dari harta apapun

    doelsono:
    terima kasih dorongan semangatnya

    langitjiwa:
    amin

  13. Dan di tahun yang baru ini
    mudah2an semua bisa terlaksana dengan baik
    apa yg bapak cita2kan
    terus berkarya pak.
    Semangat dan semangat!
    salamku.

  14. Kang No… SMA cuman 39 siswa kang. Awalnya 4 tapi ada satu yang tidak meneruskan.. Sutarto namanya, kalo gak salah… hehe..

  15. semangat dan semangat pak …tidak semua orang bisa menjadi guru

    pokoknya saya acung jempol buat pak Guru yang telah sukses mengasuh anak didiknya dengan sukses…Makasih atas berbaginya

  16. Doa adalah sebuah permintaan sesuatu yang akan di dengar olehNya

  17. Hidup ini akan terasa lebih indah dan lebih bermakna apabila kita saling berbagi meskipun itu hanya sebuah do’a yang tulus yang diberikan kepada orang2 disekitar kita.

  18. Doa adalah keyakinan dan alur kehidupan yang kita inginkan, setiap tindakan kita menetukan akan terkabulkah doa ini.. karna Tak mungkin Allah memberi sesuatu tanpa sebab musabab yang jelas..

  19. omiyan:
    keyakinan itu selalu ada

    kidungjingga:
    terima kasih

    edratna:
    guru itu pembelajar sejati

  20. Kisah yang menyentuh mas, dan semoga lingkunganmu semakin menyenangkan. Menjadi guru sungguh menyenangkan, apalagi jika melihat murid-murid berhasil. Dan kayaknya juga berbakat menulis, sehingga bakat tsb bisa ditularkan melalui blog ini.

  21. semoga selalu ada banyak doa pak.. untukmu..

  22. bila kita myeakini apa yang kita lakukan Insya Allah….

  23. ahsinmuslim:
    terima kasih kunjungannya

    sarahtidaksendiri:
    memang bila dilakukan tanpa beban lebih banyak manfaatnya tentu plus doa

    arif:
    hidup indah didukung doa

  24. salam kenal

    wah aku hanya bisa komentar kalau seseorang menyukai pekerjaannya maka hidup sudah indah..apalagi didukung dengan doa klop lah

  25. hmm..ayahQ juga seorang PNS, dosen, instruktur, dan guru…
    intinya, dia sangat senang mengajar….dia bilang dia tidak pernah merasa mengajar adalah sebuah pekerjaan, tp sebuah hobby 🙂 Dia juga anak kampung..tp semangatnya sangat besar ketika datang ke kota untuk merantau…

    dia bilang, semua yg dia dpt skrg, adalah karena doa dan dukungan dr org2 tercinta…

    luar biasa..inspirasi, pengalaman dan kebersamaan serta kepedulian benar2 sesuatu yg tak bisa ditembus dgn logika..Rahasia yg menyejukkan hidup.. 🙂

  26. subhanallah, sungguh sebuah kisah penuh inspirasi,tentang perjuangan yang luar biasa dari seorang anak desa yang kesehariannya bergulat dengan lumpur dalam meraih mimpi.

    terima kasih pak, telah berbagi cerita.
    semoga sukses dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: