24 Komentar

Keliling Jakarta

hanya sesekali terasa nyaman
bus-bus berkejaran kesetanan
diseling gerutuan kemacetan
memanjang sekilo lebih sejam
belum pula serba panas

rur, aku tak kuat hidup disini
serba lari, selalu berebut, jadi linglung
kemanusiaanku meregang
masihkah aku punya pijakan
tak lagi kutemukan setitik sunyi

rur, tetap saja kau celotehkan
nyamannya kereta entah bisnis, atau eksekutif
nyatanya tabrakan kemaren tambah ngeri
kau bilang itu ekonomi
aku tak peduli, tetap saja ngeri
tak kuat aku berlama-lama
semua instan
sungguh aku terasing

besok pagi subuh aku pamit pulang

—–+++—

puisi ini sudah cukup lama saya tuliskan (Purwokerto, 2000). di dalamnya ada kata-kata rur, maksudnya adalah teman saya yang bernama Mustafa Surur. Ia anak Cipinang kelahiran Banjarnegara. bersahabat lama dengan saya karena satu Universitas dan sering ngobrol bareng

24 comments on “Keliling Jakarta

  1. jakarta..oh jakarta
    suka atau tidak
    ke sanalah aku kembali pulang…
    —+++—-
    suka tidak suka rumah sendiri tidak boleh dibenci

  2. jakarta memang macet.. tapi aku sekarang belajar mencintainya 😛
    —+++—
    mencintai tidak dilarang

  3. Bagaimanapun Ibukota tetap memiliki daya tarik yang kuat.. Buktinya, meskipun kejam, tapi tetap banyak yang wara-wiri bahkan bertahan disana.. 🙂
    —+++—-

    kejamnya ibukota tetap jadi incaran

  4. walah,yg diatasa ini satu sekolahan yah….
    salut dah….
    keren…..
    yg kejam itu bukan ibu kota nya tapi kondisininya deh.
    soalnya kalau si ibu kejam kasihan si bapak..
    :ngacir:
    —+++—
    ngacir kemana kukejar lho

  5. kunjungan perdana dari SMP Nurul Falah Pekanbaru

  6. terserah org mau bilang
    takkan malu aku minajakkan kakiku hanya untuk bbrp saat
    tak tahan aku
    tak pulang ke rumahku
    —++—-
    aku tetap mau pulang besok pagi

  7. coba deh bandingin jakarta sm Yogya.. 🙂
    Hmm..jauh deh.. Yogja is the bst pokoknya..hehe.. promosi.com
    meninggalkan jejak setelah lama menghilang.. 🙂
    —+++—
    selamat datang kembali. Yogya sering saya lewat

  8. dulu saya tidak berharap ringgal dijakarta ya karena alasan itu tadi kemacetan dan hal utama yagn saya butuhkan dari suatu tempat tinggal adalah kenyamanan dan keamanan
    —+++—-
    Betul Pak. Kenyamanan dan keamanan. Gaji besar bukan jaminan, tapi penting juga

  9. beginilah namanya Jakarta Pak.. apa2 serba semrawut.. saya pernah liat di satu forum, ada foto2 Jakarta tempoe doeloe.. wuahh beda banget sm Jakarta sekarang..
    —-++—
    begitulah yang saya rasakan sebentar saja tidak betah

  10. Kota besar selalu menggelitik…terkadang membuat kita jadi geli karena bahagia ato justru geli karena kecemasan.. 😀
    —-+++—
    sangat betul

  11. knapa ya.. M sebel banget klo denger ‘jakarta’.. 😛 -piss-
    —+++—
    Aku tidak tahu kenapa ya

  12. Mas, aku blm pernah ke Jkt nie..
    (hiks, melas bgtz ya, hari gini gitu loh :mrgreen: )
    Jadi blm pernah ngrasain secrowded apa sih Jakarte….
    —+++—-
    setidaknya bisa dari konon kabarnya

  13. Siapa mau datang ke Jakarta..??!! Salam kenal mas..

    —+++—
    saya sudah berkali-kali dan selalu tidak betah. salam kenal kembali

  14. Aku juga mau berpuisi ahhh,

    Aku benci harus injak kau
    sejatinya engkau adalah dewa penolong
    tapi.. ampuuun
    aku telat injak engkau..
    ahhh crakkkkkkkk
    menghantam mahluk tak tahu malu
    yang menyodorkan diri untuk kucium dari sisi kiri
    Aku tekan benda bulat didepanku
    Tidiiiiiiiiiiiiiiiiidddddddddddddd
    Aku mau bersumpah serapah
    gak jadi … astagfirullah..
    kubuka jendela kaca itu…
    Aku tersenyum manieesss
    Duhhh Tuhan akankah di surga itu ada pedal rem atau macet?

    Hikkkhhhhhhh puisi atau curhat ? 😀
    —-++++——
    Pernah kebut-kebutan ya Bu

  15. itulah jakarta mas. Kejam!!!
    lebih kejam dari ryan jombang….
    —-+++—–
    saya tidak bilang tentang kekejaman lho

  16. Ngak kebayang mo jalan-jalan di Jakarta … ngeri deh …
    Kalo dibandingkan di sini Le Creusot-Dijon 100km hanya ditempuh dlm waktu 1 jam.
    —-+++—-
    Inilah wajah ibu kota negara

  17. kejamnya dunia…tak hanya di jakarta…. 😀
    —+++—-
    bukan saya yang bilang lho

  18. Mas sunar, panggilannya mus bukan rur… ha…ha… kangen habis mas aku sama kampus karang wangkal…. 🙂
    —-+++—
    Teman-teman memanggilnya Ali Mustofa saya memanggilnya Surur. Mas Uzi sesekali kunjungi adik-adiknya di fabio93.wp ya. Rancangan Isroi bersama saya, meski belum pernah bertemu langsung

  19. tak pikir rur=brur 🙂
    —+++—-
    Itu nama orang bukan sekedar sebutan

  20. Salam
    Yap itulah denyut jakarta, dan rasane akyu berpendapat serupa dengan sampeyan, ga betah datang jakarta, terlalu crowded 🙂
    —++—
    sangat sangat tidak betah, lebih enak dikampung tidak berkejaran

  21. ya kalau ngak macet , ngak ruwet itu bukan Jakarta namanya …
    —+++—
    Pemerintah ditunggu untuk segera merubah imej kalau gak ruewet bukan Jakarta

  22. kapan jakarta ga macet?????

    hanya orang bijak lah yang bisa menjawabnya…

    salam hangat… 😉
    —+++—-
    semoga kita menjadi bijak

  23. Waktu kecil dulu saya tinggal di Sunter Podomoro, Jkt. Masih banyak empang dengan ladang kangkung. Mencari lembing yang cangkangnya berwarna-warni. Berkejaran di empang sambil main layangan. Penduduk saling menyapa dan senyum. Sekarang disuruh tinggal di situ, enggak la yauw. Kecuali gajinya duit sekarung.
    —+++—–
    Maaf, bang Hejis saya tak bermaksud membuat Bang Hejis sedih, ini pengalaman saya sendiri

  24. Aq kira rur itu masinisnya sobat, hahaha..
    —–++++—–
    mana aku kenal masinisnya bung. Kan hanya kabar beritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: