30 Komentar

Bahasa Pemersatu

Kita telah mengenal berbagai nama hewan dan tumbuhan. Setidaknya ada beberapa jenis yang telah lekat dengan kehidupan kita. Dimanfaatkan untuk keperluan pangan, sandang dan papan. Bahkan tak jarang pula yang dimanfaatkan untuk keperluan studi ataupun rekreasi.

Masing-masing daerah memiliki tata cara penamaan tersendiri. Akibatnya ada kemungkinan dua jenis makhluk hidup diberi nama yang sama. Misalnya nama gedang di sunda yang dimaksudkan adalah pepaya semakna dengan kates di jawa. Sangat mungkin pula satu jenis memiliki nama yang berbeda dan nama itu memiliki makna yang berbeda lagi di daerah lain. Seperti contoh di atas gedang dalam bahasa jawa semakna dengan pisang yang orang sunda menyebutnya cau.

Nama-nama makhluk hidup dalam Bahasa Inggris jika diterjemahkan ke dalam bahasa kita sesuai dengan akar kata dalam kamus banyak sekali istilah-istilah yang menggelikan. Haruslah dicarikan padan kata. Weaver ant apakah akan kita terjemahkan sebagai semut roti? Bagaimana dengan butterfly, stonefly, dragonfly? Apakah akan kita artikan roti terbang, batu terbang, naga terbang? Nama-nama yang sama sekali tidak dikenal dalam kazanah bahasa kita.

Adalah Carolus Linnaeus seorang ilmuwan Botani dari Swedia, yang berusaha mempersatukan penamaan makhluk hidup. Menstandarkan, agar bisa dimengerti dan diterima oleh semua bangsa. Carolus menawarkan penggunaan bahasa latin, bahasa yang waktu itu adalah bahasa yang nyaris terkubur. Carolus menawarkan penamaan itu dengan formulanya yang sekarang dikenal dengan sebutan binomial nomenklatur, penamaan dengan menggunakan dua kata. Dasar yang digunakan adalah adanya persamaan struktur tubuh makhluk hidup.

Aturan penggunaan binomial nomenklatur ini adalah bahasa apapun harus dicarikan padan katanya dalam bahasa latin. Jika bahasa latin tidak mengenalnya maka istilah itu dilatinkan. Dengan mengambil ciri khas makhluk hidup itu atau domisilinya. Misalkan durian yang banyak ditemukan di daerah tropis terutama di negara-negara berbahasa melayu atau Indonesia maka dinamakan Durio zibetinus. Salak misalkan dianggap sebagai tanaman khas daerah Asia Tenggara dan enak dimakan maka diberi nama Salacca edulis. Kentang diberi mana ilmiah Solanum tuberosum. Solanum artinya mempunyai umbi yang besar dalam tanah dan tuberosum maksudnya berumbi di dalam tanah.

Penamaan tersebut tidak hanya berlaku dalam dunia tumbuhan (istilah biologinya disebut kingdom Plantae) tetapi juga berlaku untuk penamaan pada hewan hewan (istilah biologinya disebut kingdom Animalia). Australopithecus africanus merupakan jenis kera. Australopitecus artinya selatan sedangkan africanus yang dimaksud adalah afrika. (Kera dari Afrika bagian Selatan).

Sayangnya penamaan yang sifatnya universal ini hanya berlaku untuk kepentingan ilmiah. Untuk keperluan lainnya masih memanfaatkan bahasa masing-masing, sehingga tidak jarang nama-nama ilmiah tersebut dianggap asing.

Keterasingan terhadap sistem tata nama Carolus tersebut justru dirasakan oleh anak-anak sekolah. Dalam kurikulum KTSP binomial nomenklatur diajarkan di kelas tujuh. Akan tetapi siswa kelas sembilan ketika ditanya kembali pemahamannya tentang konsep nomenklatur banyak yang menampakkan wajah bengong.

Tidak itu saja. Pengalaman penulis sewaktu masih mahasiswa, tidak sedikit mahasiswa non fakultas biologi yang banyak mengalami kesalahan dalam menerapkan nomenklatur dalam penulisan skripsi. Penulis banyak sekali melayani konsultasi terutama adik-adik kelas. Kesalahan yang terjadi terutama pada penulisan dimana huruf besar seharusnya diletakkan.

Di dunia usaha ternyata jauh lebih parah. Banyak produk makanan atau pun obat-obatan ketika mencantumkan komposisi bahan-bahan baku sama sekali tidak mengindahkan aturan nomenklaturnya Carolus. Mana huruf besar mana yang huruf kecil tidak jelas. Belum lagi rata-rata tidak dicetak miring. Padahal aturannya adalah dicetak miring dengan huruf besar hanya di kata yang pertama. Kata yang kedua semuanya huruf kecil tanpa kecuali. Rupanya dunia usaha memang belum atau bahkan tidak mau tahu seluk beluk aturan penamaan. Mungkin dianggap ribet.

(postingan ini bahan untuk majalah Husnul Khotimah)

Iklan

30 comments on “Bahasa Pemersatu

  1. salam kenal ya
    wah makin saya bacamakin asyik
    makin saya nulis makin asyik
    makin…..
    thanks ya
    —+++—
    thanks juga

  2. Inilah enaknya kalau punya teman ngeblog guru, jadi bisa flashback masa-masa sekolah dulu. Sejak SD sampa SMA favoritku Biologi tapi heran nggak pernah dapat nilai bagus. Padahal aku semangat lo kalau belajar, termasuk menghapal binomial nomenklatur dulu. Sekarang dah lupa mas, soalnya tiap hari ngurusi jalan dan jembatan rusak. Nggak sempat ngelirik biologi lagi.
    —+++—
    biologi itu kehidupan, selalu ada bersama kita.

  3. bolehkah kucintai bunga.., tanpa peduli siapa namanya?
    **pasti mas narno bilang ga boleh.. kudu hapal ya mas**
    πŸ˜€ , πŸ˜€ , πŸ˜€
    —+++—
    kalau mau mencintai seratus macam bunga ya tidak apa-apa Mbak. boleh-boleh saja

  4. Nama latin..susah di inget

    info yang berguna bro
    —-+++—-
    wajib diingat bagi yang berkepentingan saja

  5. blognya keren..penuh dengan informasi pendidikan..
    salam kenal Pa’
    —-+++—–
    salam kenal kembali

  6. Wah aku jadi tambah tahu ni tentang bahasa latin. Memang waktu smp dulu kayanya pernah diajarin ya,tapi begitu masuk stm ga ketemu lagi deh sama bhs latin.
    Makasi pak buat postingannya.
    —+++—
    terima kasih juga

  7. Yang paling beruntung tuh orang Yunani, karena bahasa Latin dan Yunani hampir mirip. Jadi kalau mo jadi Dokter atau Apoteker lebih mudah buat mereka.. πŸ™‚ Thanks
    —+++—
    katanya sih, bahasa latin itu bahasa yunani kuno, ya wajarlah kalau sekarang masih banyak kemiripan di yunani

  8. hanya mampir… untuk ucapkan salam….
    —-+++—
    wa’alaikum salam

  9. hmm, jadi ingat pelajaran biologi waktu SMA dulu, Mr. Carolus Linnaeus dengan sistem penamaannya, binomial nomenklatur. sayang sekarang sudah lupa. he..he…padahal pas mempelajarinya asyik banget.
    —-+++—-
    bukan sesuatu yang harus dihafalkan kok.

  10. iyah..kadang susah juga sih banyak yg mencantumkan dengan nama yg kebalik2..padahal barangnya sama..contohnya “coco amido propyl betaine” ada yg nulis “Tego betaine” ada juga yg nulis ” cocamide propyl betaine” walaaah…ndak jelas….:)
    —-+++—-
    kalau baca produk sering bikin ketawa juga jengkel

  11. kalo dikita bahasa pemersatu apa pak…yang jelas bukan rupiah ya hehehe
    —+++–
    katanya sih binneka tunggal ika

  12. Mampir aja..
    Ga ngerti seh aku soal begituan.. Tapi dengan postingan ini, sedikit jadi tau.. :d
    Salam hangat selalu
    —+++—
    minimal ada penambahan pengetahuan

  13. cuman inget satu…(selain oryza sativa, tentunya)…mimosa pudica. btw, aturan penulisannya bener gak?
    —++—
    kurang dikit

  14. bahasa biologi.. bahasa latin… mumet aku pak :mrgreen:

    nyerah dehhhhh πŸ˜†
    —+++—
    sekedar tahu saja nggak apa-apa. Sudah tidak ada ujian biologi kan

  15. wah…. saya baru tahu ..
    dari bahasa latin semua yah..
    seandainya yg nentukan pertama kali adalah orang indonesia mungkin pake bahasa java(ini kan latin) kali yah
    —-++++————–
    ya terserah yang membuatnya kan. bahkan kalau mas riyanto menemukan hewan tumbuhan yang belum diberi nama bisa ditambahkan nama mas riyanto kok

  16. namanya malah jadi susah diapalin… bikin lidah kriting semua πŸ˜€
    —-+++—-
    nggak susah susah amat, bagi eMo gak penting kok

  17. mas narno ilmunya pasti nambah karena ngajar biologi yah..??? mbak ken dari bioling ke pengolahan limbah… lah aku mas dari biolagi lingkungan jadi keuangan…. gak nyambung pisan…
    —+++—-
    kan dapat statistik, sedikit-sedikit ada dasar-dasar ngitung duit.

  18. Muhammad Fauzi…. bahasa latinnya apa mas…Ha…ha….ha… (homo sapien kah..???)
    —++—-
    Mas Fauzi lebih tahu

  19. binom… inget dulu smp, ampe smu..pas tes biologi masih juga diungkit2, dibuat materi ujian pula..weleh3 πŸ˜€
    —-+++—
    namanya sekolah, yang begitulah pelajaran, ujian, dapat rapot, naik atau tidak, lulus atau tidak

  20. saya ingat pelajaran ini di sekolah dulu pak. Untung ya pak..ada Pakde Carolus..kalau nggak…1 objek bisa punya banyak sekali nama. πŸ™‚
    —-++++—-
    Alhamdulillah, ada yang kreatif menyatukan bahasa

  21. abis baca ini, jd nambah wawasan d… πŸ™‚
    makasih pak
    —+++—-
    sama-sama

  22. HOMO sapiens, hadir !

    kira2 koruptor2 itu, termasuk kingdom apa ya ?
    kingdom animalia kah ?
    *komennya jangan disunat ya… πŸ˜€ *
    —+++—-
    memang Animalia. Tenang saja tidak ada penyunatan.

  23. wah ribet juga yah ternyata…..
    —–+++—–
    maaf komennya ada yang dipotong

  24. Untung masih ada bahasa taksonomi, yang menyatukan berbagai nama tanaman dan binatang dalam bahasa Lain
    —+++—
    betul Bu, masih sedikit untung

  25. hm.. kalo menurut saya, binomial nomenklatur itu benar adanya telah disosialisasikan sejak smp, tapi apakah para produsen2 yang tidak benar mencantumkan nama2 ilmiah mereka juga mengerti masalah hal ini?
    xixixi… peace! mampir & komen
    —-+++—-
    memang sejak SMP. Aku pun sudah meninggalkan deretan abjad

  26. wah,,,
    ternyata begitu,,,,
    saya jga hrus berhati hati la,,,,
    —+++—
    ya berhati-hati itu perlu

  27. baru tahu 😳
    salam kenal
    —+++—–
    salam kembali

  28. o begitu ya..baru tau…soalnya pas pelajaran itu aq ketiduran sih…
    —+++—-
    semoga ketika bekerja tidak ketiduran lagi

  29. hari ini saya mampir…

    salam,
    fit
    —-+++—-
    terima kasih, sering-sering ya berkunjung

  30. Ribet juga ya,salam kenal.
    —+++—-
    sebenarnya nggak begitu ribet kok, salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: