30 Komentar

Dieng Suatu Ketika

berkeliling mobil bak terbuka
siklon kata anak-anak mereka
canda tawa mengusir gigil
di atas suatu ketinggian
dieng namanya

bule berkerumun
kawah mendidih
belerangnya wah terlalu pekat

sumur jalatunda
panjang tak terjangkau
coba, lemparkan batu sampai ke ujung?

sinila,
masa lalu penuh mayat
kawah menggeliat
di halaman sekolah dasar
semburkan aroma kematian
ah, menerkam matahari
ada pasar pengunjung tak pulang

telaga warna,
hening, teduh membelai gigil
disini, kutemukan ayat-ayat Mu
dan kubaca

(Purwokerto, 2000)

Iklan

30 comments on “Dieng Suatu Ketika

  1. ajari aku tentang makna kesederhanaan ya mas,..
    —–++—-
    sederhana itu, ya sederhana tidak lebih tidak kurang

  2. huhuhuhu… lom kesampean mo ke dieng 😦
    —+++—
    coba lagi dan coba lagi. Temanggung Dieng gak jauh kan

  3. wachhhhhhh puisinya bgus2 euy.. mangnya
    rumah u di dieng yach..
    —-+++—-
    pernah tinggal di Dieng beberapa bulan

  4. untaian kata-kata yang indah kawan,

    nice blog,
    salam kenal.. 🙂
    —-+++—-
    terima kasih, salam kenal juga

  5. kucoba untuk meresapi apa yang kau tulis.
    Kucoba merenung sejenak.Mungkin ini yang dinamakan berdzikir.Bang kalau saja ada fotonya ,pasti begitu indah dilihat
    —-+++—-
    itulah saya, tidak terpikirkan mendokumentasikan peristiwa dalam gambar

  6. *diam sejenak*
    g tau mo bilang apa, soalnya belum konek otakku..hahaha
    maklum lama g nge blog :mrgreen:
    —-++++—–
    jangan cuma sejenak, kita sudah lama tidak saling bertegur sapa. Nyantailah agak lama

  7. Dieng penuh dengan misteri dan keindahan 😛
    —+++—-
    betul bang, saat saya di sana ada beberapa cerita rakyat tentang misteri, dan keindahannya saya melihat sendiri

  8. Salam
    kapan ya aku ke dieng, pengen banget iih 🙂
    —-+++—-
    sekarang juga boleh, ayo siap-siap berangkat

  9. Subhanallah…
    di satu tempat sekaligus tersimpan keindahan alam yang menakjubkan dan tragedi yang menyesakkan…
    —–++++—–
    subhanallah, allahu akbar

  10. bener mbak siwi, seremm… pasti ada sejarah dibalik puisi itu.. jadi penasaran ingin tau lebih jauh tentang Dieng dan mayat2 itu..
    ——+++—–
    versi fiksi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya saya tuliskan dalam cerpen dengan judul: Tak Ada Lagi Cinta. Silahkan bongkar kembali weblog ini edisi-edisi sebelumnya

  11. masa lalu penuh mayat
    kawah menggeliat
    di halaman sekolah dasar
    semburkan aroma kematian
    ah, menerkam matahari
    ada pasar pengunjung tak pulang

    Ih.. syereemm 😛
    —+++—
    saya hanya menuliskan ulang apa yang pernah saya dengar dari orang-orang Dieng sendiri

  12. nek judule “baturaden suatu ketika” baru dech “Purwokerto….:) atau kalo “Gua lawa suatu ketika” itu purbolinggo mas..ojo kebalik yo mas…..:)
    —-++++—–
    protesnya banyak banget.
    itulah uniknya penulis puisi. menulis tentang Dieng di Purwokerto, tentang Purwokerto di Jawa barat, tentang Jawa Barat di Boyolali. Pokoknya tidak ada keterikatan tempat

  13. suasana pegunungan yang dingin adalah salah satu tempat kesukaan saya karena otak kita lebih fresh dan salah satu cara mendekatkan diri terhadap penciptaan Tuhan yang Maha Agung
    —+++—
    saya tidak memiliki keterikatan sedemikian kuat di dataran tinggi melebihi pegunungan dieng

  14. itu bawahnya bukan purwokerto kali mas…tepatnya “wonosobo” atau malah “Banjarnegara” karena dieng itu sebenarnya masuk kabupaten banjarnegara…tapi berbatasan dengan wonosobo…(*hayah yang punya kota protes…hihihi…) 🙂
    —-+++—–
    waktu berkunjung saya tinggal di Condongcampur 2 bulan dan saat menuliskan puisi ini sudah kembali ke Purwokerto, begitu Diajeng, jangan marah ya

  15. wow…..pernah ke dieng ya mas..?kok ndak mampir kerumahku..? : lain kali telfon diejang dulu ya..biar bisa mampir ke rumah 🙂
    —-+++—-
    kirimi nomor telponnya dulu.

  16. Di ketinggian Dieng ada embun menyapa halus
    Turun ke Wonosobo ada mie ongklok yang mak nyus
    —+++—
    betul, sekarangpun masih terbayang-bayang

  17. Masih terasa dinginnya ya mas.. Itulah satu kebesaran Allah SWT, yang sepatutnya selalu kita syukuri.
    Dalam keindahan ciptaan-Nya, sebutkanlah nama Tuhanmu.. Subhanallah.. Allahu Akbar..
    ——-++++—-
    Subhanallah.. Allahu Akbar..

  18. dieng…..alhamdulillah , gw pernah kesana walau cuman 1 kali saja…
    pemandangan yg luar biasa , gw kalo ada waktu dan kesempatan mau kok kesana 🙂
    —+++—
    berkali-kali juga boleh kok. silahkan

  19. Wow, Dieng walau aq cuma lewat di lereng, tapi filmnya tentang bencana sinila hingga kini masih lekat di kepala.
    Menghayati alam memang selalu terasa menakjubkan Mas.
    —+++—-
    betul pak, saya sempat jatuh cinta pada keindahan alam dieng

  20. itulah ayat2 kauniyah sang ilahi…
    —+++—-
    Ayat-ayat kauniyah yang amat indah

  21. puisinya mantep mas.. 🙂

    salam silaturahim ja… 😉
    —+++—–
    terima kasih

  22. waduh…???
    —-+++——
    Ada apa mbak Yuni???

  23. tentang apa yah ini??
    binun…
    🙂
    —+++—-
    rihlah di pegunungan dieng bang

  24. mas, masih banyak jamur kah di sana…???
    —-++—-
    kalau sekarang, saya juga tidak tahu. sudah lama tidak berkunjung ke sana

  25. Aku baru bisa menikmati lewat gambar,
    Dieng…
    kapan mimpiku jadi kenyataan.
    —+++—
    kalau ada waktu luang lumayan jalan-jalan

  26. Dieng
    Betapa seringnya aku dulu kesana
    Dingin menggingit
    Memetik jamur di pagi buta
    Agar segera bisa diolah dan dikalengkan

    Dieng
    Udara bersih dan pemandangan yang indah
    benarkah ada pasar pengunjung yang tak pulang?
    —-+++—-
    istilah yang digunakan untuk mengungkapkan bencana sinila, kerumunan manusia menjadi mayat

  27. Sungguh kita ini milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya.
    —+++—-
    Insya Allah

  28. rindu.., menatap pipi bersemu merah milik perempuan dieng..

    pipi saya ikutan merah juga krn kedinginan mas.., makan jamur setiap hari (perkebunan jamur itu sdh tutup ya mas..?), menikmati semburan hangat dr kawah dan telaga warna..

    hwwaaa… kapan ya kesana lagi 😀
    —+++—-
    wah ada yang terlewatkan ya, jamur dan pipi merah.

  29. dieng, pernah juga pulang kampung lewat situ, asli dingin banget, tapi indah dan segar…
    —-+++—-
    sebelum hutan-hutan habis dibabat memang lumayan dingin, tapi entah sekarang

  30. pasar pengunjung tak pulang ?
    weeh… pasar setan, mas ?

    dieng. pasti kabutnya menyenangkan.
    —+++—-
    kata orang sana, petaka itu seperti seperti kerumunan pasar pengunjung tak pulang, alias meninggal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: