43 Komentar

Trauma Lokal

Kali ini aku tak berpuisi

Ada sedikit cerita tentang sebagian kecil dari tubuhku yang ingin kubagi. Ini tentang tak lebih dari sekepal di bagian dadaku yang terasa nyeri (asli bukan metafora). Mungkin karena terjadinya di lokasi yang berimpitan maka terjadi kekeliruan diagnosa. Mulanya aku minum obat flu dua hari flu hilang berganti dengan batuk. Dilanjutkan minum obat batuk baru satu hari, kuhentikan karena nyeri di dada itu mulai terasa. Aku khawatir kalau ada kontra indikasi penggunaan obat.
Pagi harinya kukonsultasikan ke klinik tempat aku kerja. Diduga masih ada sisa dahak yang harus dikeluarkan, atau kalau bukan karena dahak maka kemungkinan aku terserang flek.

Asli aku tak bisa bicara apa-apa. Dalam hati inginnya bukan flek. Disarankan melanjutkan minum obat penghancur dahak.

Obat habis, tapi nyeri itu bukannya hilang, tetap mengeram di dada. Kembali kukonsultasikan, dan tanda sadar aku nyeletuk kalau yang sakit itu pada bagian tulang (inginnya aku mengatakan bukan organ dalam, jantung dan paru-paru). Kontan saja disarankan segera ke klinik rontgen.

Dua hari berlalu malah aku hujan-hujan demi mengejar berita (demi tugas, tak ada pilihan lain). Nyeri itu semakin ngilu, sampai disini istri tetap tidak tahu, karena aku bersikap biasa-biasa saja, tidak mengeluh, juga tidak cerita.
Kemudian tiba juga waktu santai, tak mungkin tidak cerita karena aku harus keluar rumah untuk memeriksakan diri ke dokter. Hanya bilang ada yang nyeri di bagian luar gitu saja. Tentu aku tidak mau istri resah sebelum pasti apa sebenarnya penyakitku ini.

Aku sengaja tidak ke rontgen, tetapi ke klinik yang memang disitu pemiliknya adalah dokter senior. Dan aku punya pengalaman yang cukup unik. Dokter itu sangat detil memeriksa pasien, tidak mau mengatakan apa penyakitnya kalau beliau sendiri belum merasa yakin. Begini ceritanya, waktu aku kena penyakit maag, perutku kana kiri diketuk-ketuk pelan, menurut beliau kanan kiri sama-sama respon positif (sakit). Kuperhatikan wajahnya tegang, dan ketika kutanya ada apa dengan perut saya. Beliau hanya mengatakan obat yang diberikan diminum saja kalau tidak ada perubahan segera dibawa kembali. Kudesakpun tidak mau menjawab. Tiga hari kemudian aku dating kembali dengan menyisakan lemas saja, sakitnya sudah berangsur membaik. Beliau begitu selesai memeriksa langsung tertawa dengan sembari berkata kalau kekhawatirannya tidak terjadi. Aku memang terserang maag bukan usus buntu.

Maka tak salah kali ini pun saya ke sana.

Saya ceritakan kronologisnya, maka beliau langsung menyampaikan tiga kemungkinan. Gangguan jantung, gangguan tulang, atau hanya gangguan kecil pada bagian otot.
Dokter memulai diagnosa dari yang terberat. Aku disuruh telentang kemudian miring dan diketuk, ketuk beberapa bagian badan, saya katakan rasa sakit tak lebih dari satu kepal dan saya yakin itu bukan di dalam dan juga bukan di tulang. Beliau tetap memeriksa kalau-kalau ada masalah dengan jantung, tidak ada gejala penyakit pada jantung. Kemudian saya disuruh telentang, tulang di bawah ketiak didorong dan ditanya terasa sakit tidak. Saya katakan tidak apa-apa. Beliau lega dua kemungkinan yang berat tidak terjadi.
Terakhir beliu mengetuk-ngetuk lokasi yang terasa sakit dan kemudian meminta saya menandai seberapa besar daerah yang sakit itu. Benar-benar tak lebih dari sekepalan tangan, tapi tetap saja nyeri.

Kira-kira penyakit apa sobat?

Saya sendiri heran. Ini penyakit yang belum pernah saya dengar, dan memang baru kali ini mengalaminya. Kata dokter aku trauma local pada syaraf di bagian dada. (awas jangan salah tafsir). Padahal istilah trauma yang umum dipahami adalah semacam pobhia, ketakutan terhadap sesuatu hal. Ah entahlah. Di kampus tidak pernah belajar tentang penyakit sepele tapi rumit seperti ini. Betul gak Mas Fauzi?

43 comments on “Trauma Lokal

  1. Mas, sy sudah baca. Tidak ada komentar selain doa semoga rasa sakitnya hilang dan dapat beraktivitas seperti sedia kala.
    Terima kasih untuk segalanya ya mas. Salam
    —++—
    sama-sama dan terima kasih atas doanya

  2. salam
    Syukur alhamdulillah klo ternyata baik-baik saja, taka ada yg lebih menggembirakan jika mendengar berita tentang kebaikan πŸ™‚
    —-+++—-
    alhamdulillah

  3. ternyata saraf bisa trauma… kalo putus kayak diriku deh
    —+++—
    maksudnya putus?

  4. Aduhhh..maaf nih.. baru beredar lagi, jadi baru tahu ada yang sakit.
    “Trauma lokal di bagian dada ” ? πŸ™‚ ..
    jadi sebetulnya Mas habis ngapain? Kok sampai kena di bagian dada ? duh..Mas..Mas.. kan sudah dibilang, lakukan dengan hati-hati, pelan-pelan, tidak usah sewot begitu..maksud ?… :))run away !!
    —–++—–
    tak tahu Bu apa penyebabnya, tiba-tiba saja nyeri itu menyerang, hampir bersamaan dengan flu

  5. Waduh… sakitnya hampir mirip yang pernah aku alami pak, hanya saja saya sampai udah dirongent, tetapi hasilnya bagus, namun entah kenapa sakitnya waktu itu lama sembuhnya, sampai diberi obat penghilang rasa sakit yang tinggi, tetapi sayanya tidak tahan, sekarang alhamdullilah dah sembuh, namun sampai sekarang lom tau apa penyebabnya. syukur alhamdullilah kalau Bapak udah sembuh.
    —-++—-
    sedari awal saya yakin kalau sakit ini bukan bagian dalam, dan alhamdulillah benar adanya

  6. Jangan-jangan mas Narno memang lagi ketakutan ya? Aduh, baksonya ga aku habisin wis… jangan takut mas…. πŸ˜€
    Semoga udah sembuh ya…
    —+++—-
    alhamdulillah, terima kasih doanya

  7. moga udah sembuh pak…

    janag sampe sakit pokoknya.. eh sakit sioh boleh,, asal janagn yang seremΒ²..hehe
    ——+++—-
    Alhamdulillah, sudah sembuh

  8. Udah sehat kan.aku nunggu tulisannya lagi nih mas
    —+++—-
    tulisannya sudah ada, tapi jaringan internetnya yang sedang masalah

  9. Mungkin waktu meluk…..terlalu kuat mas…jadi trauma di dada. (Meluk siap…ya) πŸ˜€
    —+++—-
    hemm mungkin

  10. hmm, baru dengar ada penyakit seperti itu. trauma nasional ‘n internasional ada gak ya?he.he…

    moga segera sembuh pak sahlan.
    —-+++—-
    alhamdulillah sudah sembuh

  11. karena ini bukan puisi, dan saia juga bukan pulisi, maka saia komen

    demikian komen saia
    —+++—-
    komen di terima meskipun saya tidak membuka pendaftaran.

  12. mm…ada jg y penyakit kayak githu? Tp phobia trhdp apa mas? Bhe, ditunggu diagnosis lbh lanjut g tuch, biar bs tau lbh spesfk & banyak ttg penyakit itu, apalagi klo Qta yg mengidapnya, pastinya hrs tahu lbh banyak…hehe
    —+++—
    pinginnya mau nyari di internet, tapi banyak yang musti dilakukan. yang penting dah sembuhlah

  13. tapi sekarang Pak Guru sudah baikkan kan?^_^
    —++—-
    alhamdulillah, terima kasih

  14. coba ke ponari ato sejenisnya..
    hehehe…
    —+++—-
    jauh lebih mahal ongkosnya, dan …

  15. wah rumit banget ya.. mending rontgen aja kang..
    tapi alhamdulilah sudah sembuh..
    —-+++—-
    tak lebih sekapalan tangan kok, dan sekarang sudah sembuh

  16. aku terkesan dengan dokternya mas Narno, karena sekarang ini banyak dokter yang asal periksa sekedarnya lalu tulis resep.

    ya syukur kalau sudah sembuh, dan bisa terus berkarya.

    salam kenal, orang baru mohon petunjuk.
    —-+++—-
    saya tidak punya petunjuk, ah kaya orba saja mohon petunjuk segala

  17. halo pak sunar….
    mungkin kebanyakan puisi yg ngendep di dada bpk, akhirnya gg kuat nahannya…..
    semoga sehat ya pak….:-)
    and mampir ke rumah gw…ngobrol…:-)
    —+++—
    kan kutulis kembali puisi biar gak sesak. Oke tunggu saja jangan kemana-mana

  18. weh ada penyakit baru tuh pak..

    skr gimana tuh perkembangannya?
    —+++—–
    alhamdulillah, sudah kerja lagi, nyari data-data lagi, berpuisi lagi

  19. Saya pernah trkena pancreatitis..sktnya minta ampun..makanya skrng kesehatan bg saya nmr 1..sbrp bsr uang kt tp kalo kt skt itu tdk ada gunanya πŸ™‚
    —-+++—–
    sudah sembuh kan? Semoga tidak datang lagi tuh pancreatitis nya

  20. Mulai sekarang rajin olah raga ya kang πŸ™‚ makan yg teratur dan jng lupa bnyk minum vit yg natural dr buah2an…:)
    —++—
    nunggu kiriman buah-buahan dari diajeng

  21. Hari ini udah lbh sehatan lg kan kang ? πŸ™‚
    —++—-
    dijenguk diajeng ya sembuh juga

  22. Wah, rada misterius yah. Klo aku sekeluarga, istri dan anak2 malah sudah kena ancaman paru2, flek dan sebangsanyalah. Ada anakku yang lolos, ada yang kena. Yang belum diketahui pasti, mungkinkah itu berasal dari istri yang baru2 ini diketahui positif? Aku sendiri belum sempet periksa, sedang kecewa ma mekanisme penggantian biaya dari kantor yang ruwet dan lelet. Paling2 sedang berusaha tetap rileks biar tak keterusan kena efek jelek. Moga kita semua tetap kuat menerima apa pun cobaan Tuhan. Penginnya sih dapet yang ringan2 aja ya Mas Narno.
    —+++—-
    kalau seperti itu perlu diobati hingga tuntas Pak, kasihan kan anak-anak. Memang repotnya ketika berbicara berapa biaya yang harus kita siapkan. Mungkin gaji dua tiga bulan belum cukup. Setidaknya kita tetap berusaha

  23. wah goalllllllllllllll…yes..lari ah
    —+++—-
    hati-hati nanti kepleset, licin

  24. tak doakan dari sini,ah bikin hetrik ah
    —–+++—–
    terima kasih doanya, aku punya puisi tentang doa yang super singkat

  25. udah sembuh belum??
    —+++—
    sudah

  26. Semoga cepat sembuh mas Sunarno, kalau sudah mengarah ke dada, jadi ingat almarhum ayah saya dulu. Semoga cepat sehat lagi dan berkarya lagi. Thanks
    —+++—-
    terima kasih atas suportnya

  27. cepet sembuh mas.. apapun penyakitnya itu, Allah ndak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambaNYA.. πŸ™‚
    —+++—-
    alhamdulillah, saat postingan ini saya buat saya sudah sembuh dan sedikit berbagi pengalaman dengan sobat semua

  28. Oh, ya. Makasih atas kunjungannya ke blog saya.
    —–+++—-
    sama-sama

  29. Jangan abaikan rasa sakit.
    Maaf bisanya ngomong. Saya sendiri sering mengabaikan rasa sakit.
    —+++—
    ya betul, sudah saya periksakan ke dokter

  30. sekarang udah sembuh kan ya pak?
    mungkin kena bronchitis *nulisnya apa begini ya?* ato ada masalah dengan saluran pernafasan/paru2 pak..

    olahraga joging tiap pagi lumayan bikin lega lho pak πŸ™‚
    semoga anda sekeluarga sehat selalu. amin πŸ™‚
    —-+++—–
    alhamdulillah, hanya masalah luar saja, bagian syaraf
    terima kasih saran-sarannya

  31. horeeee…
    bukan puisi…
    he..he..he..

    maem yg cukup
    istirahat yg cukup
    bepikir positip yg cukup

    :mrgreen:
    —-++++———
    serba cukup, kalau kurang ya dicukup-cukupkan

  32. Udah sembuh kan?
    Syukurlah kalo begitu.. Semoga mendapat kesembuhan yang sempurna, ga ada sakit2 yang mampir lagi.

    Makan makanan yang sehat, rajin olahraga dan berpikir positif selalu. Tetap semangat yaa.. πŸ˜€
    ——++++——
    alhamdulillah, sudah sembuh dan aktifitas seperti biasa

  33. mas, kemungkinan keram syarafnya … Ayahs saya dulu pernah begini, terus obatnya cuti seminggu, rileks gitu deh pokoknya.

    Mau saya temenin cuti? *dibekep*
    ————-++++++++++————–
    kalau cuti ditemani Mbak Rindu sehari juga sembuh, ngacir

  34. Bisa jadi ada syaraf yang kecapekan. Mungkin harus istirahat sebentar.

    Semoga cepet sembuh dan mengejar berita lagi ya!
    —+++—-
    kata dokter memang ada syaraf yang kurang pas, tapi ketika saya nanya apa saya perlu istirahat, beliau malah tertawa, hanya ringan saja kok, tidak perlu khawatir begitu katanya

  35. jadi ingat kakak ipar saya. Awalnya nyeri-nyeri kecil di dada. Periksa, dokter bilang gak ada apa2. Trus periksa dokter lagi. Juga gak ketemu penyakitnya. Akhirnya beberapa minggu… meninggal, setelah sholat subuh dalam keadaan duduk di sofa tanpa melalui sakit.

    Maaf mas, sekadar memberi contoh tentang perlunya check up yang lebih teliti agar dpt dicari solusi.

    Saya berdoa mas Narno tidak apa-apa. Hanya saja untuk jaga-jaga mungkin perlu periksa yang lebih teliti.

    Semoga sehat2 aja ya mas. Amiin.
    —-+++—–
    alhamdulillah, sudah seperti semula, sehat kembali terima kasih telah berbagi

  36. Hi Friend.. Interesting post.. Nice cool blog..Keep up the good work… Do visit my blog and post your comments.. take care mate.. Cheers!!!
    —+++—
    thanks

  37. Mas aku doakan moga tidak apa2 dan cepat sehat.Itu sementara saja besok – besok juga nga apa. Amien
    —-+++—-
    sudah sembuh kok

  38. periksa kedokter aja
    —-+++—-
    sudah dan alhamdulillah sudah sembuh

  39. wah, wah,, kalau salah diagnosa dan salah obat bisa semakin fatal karena mal praktek pak…
    sepertinya dokter yang terakhir pak narno datangi benar2 teliti dalam mendiagnosa penyakit… bisa jadi refrensi disaat berobat πŸ™‚
    —-+++—–
    dari awal obatnya sebenarnya tidak ada yang salah karena penyakitnya berurutan. dan yang terakhir memang kata temen yang di bagian kesehatan beliau kurang begitu paham. kalau dokter yang terakhir sudah seharusnya seteliti itu beliau mantan Kepala Rumah Sakit di Kabupaten, alhamdulillah lima menit dari rumah juga nyampai

  40. mas narno, trauma itu maksudnya, kemungkinan dulu pernah kena benturan.. yang penting mas tetap konsultasi bila keluhan masih berlanjut..

    didoakan mas narno.. agar diberi hadiah kesabaran
    karena yang paling penting dari SAKIT adalah sabar dan ikhtiarnya, ya mas…???

    trus, endorfin ditubuh mas narno harus ditingkatkan..
    caranya? banyak tersenyum..
    caranya? ahh mas narno lebih tahu cara untuk tertawa.. πŸ˜€
    —-++++——
    sekarang juga sudah tertawa, terima kasih

  41. ke dokternya terus kan mas…??? jangan ke Ponari yah mas….. he…he… πŸ™‚
    —–++++—–
    setiap saat bisa konsultasi ke klinik, hanya jarak seratusan meter. Ponari? Jauuuh sekali

  42. ketika kita kuliah dulu, tak pernah belajar spesifik tentang ini mas. aku malah lebih sering ngitung bakteri… he..he…. (aku gak bisa bantu diagnosa, tapi tak do’ain semoga cepet sembuh…..)
    —-+++—–
    alhamdulillah sudah sembuh.
    Kalau saya dulu ngitung semut di Baturaden, kemudian ngitung ulat di Dieng, jadilah puisi kemaren itu

  43. Kali ini saya bisa komen (karena bukan pusisi)…

    Ehh padahal kalau namanya sakit dada, kawatirnya jantung…syukurlah bukan jantung kan?
    ——–+++++++++—–
    alhamdulillah sekarang sudah sembuh.
    Dari awal saya yakin ini bukan penyakit jantung, beda jauh dengan yang dialami kakak ipar saya, jadi sedikit-sedikit saya bisa menduga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: