30 Komentar

RUMPUN PADI

Sastro memandangi perbukitan dengan perasaan cemas. Hujan sejak sore tadi serasa tak mau bersahabat. Padahal tengah malam telah lewat. Hujan begitu lebat, kadang ditingkahi suara gelegar petir menyambar-nyambar membelah angkasa memekakkan telinga dengan loncatan bunga api listrik yang menyilaukan mata.

Di lereng bukit sana Sastro menggantungkan hidup. Sepetak sawah penuh tangkai padi yang tadinya menghijau subur telah mulai menampakkan hasilnya entah kini apa jadinya. Angin keras menampar jendela berderak. Pepohonan di luar menggigil tak lagi tegak, bahkan ada beberapa yang tumbang. Air hujan menyusup lewat sela-sela dinding bambu yang memang sudah banyak bolongnya di sana sini, genting yang tak lagi mampu menampung luapan air hujan yang juga sudah tak ada lagi bentuknya. Malam berselimutkan gigil.

Sementara itu ketiga anaknya merapat di dipan pucat kecemasan, ketakutan mendengar gelegar petir yang tak seperti biasanya. Alam benar-benar sedang tak bersahabat. Istrinya menemani dalam ketermanguan.

“Anak-anak, sekarang istirahatlah, usahakan bisa tidur nyenyak, besok pagi-pagi sekali kita harus bergegas.” Sastro berkata kepada ketiga anaknya lebih nampak sebagai gumaman.

Tak ada satupun anak-anak itu yang menjawab kecuali kian merapatkan selimut usang masih dalam kecemasan. Apa yang bisa diberikan pada anak istrinya bila ternyata esok paginya tak lagi ditemui rumpun padi yang menghijau itu. Padahal jika tak ada musibah maka bulan depan padi itu telah menguning.

Tak biasanya musim begitu ganas. Ia berharap dalam hati semoga padinya masih terselamatkan. Meski tidak semunay. Tapi barang sedikit cukup lumayan untuk diberikan pada anak istrinya. Karena dari situlah satu-satunya sumber penghasilan. Ia berusaha melongok jauh kea rah perbukitan dengan harapan dapat melihat petak sawahnya. Sia-sia saja. Hujan lebat serta angin malam menghalangi pandangan. Malam begitu pekat. Batinnya tetap saja lekat pada sepetak sawah.

Sat-satunya yang bisa ia lakukan hanyalh memohon kepada Tuhan untuk melimpahkan kasih saying-Nya. Hujan segera reda. Padi tidak hancur oleh ganasnya alam.

* * *
Sastro bergegas menapaki pematang yang sebenarnya tidaklah begitu lebar. Tapi seolah berjalan di jalan raya. Sastro mempercepat langkah dengan nafas yang kian memburu. Diikuti dengan berlari-lari kecil, kadang melompat menghindari kubangan air, oleh kedua anak lelakinya yang belumlah begitu dewasa. Mentari timur belum nampak benar. Belum jelas beda antara benang merah dengan benang hitam. Sastro berkelebat bagai bayangan. Hatinya telah lekat pada rumpun padi miliknya. Ingin segera sampai ke petak sawah.

“Sogol, cepat Bantu bapak, kalau air ini tidak dibuang hancur padi kita”

Yang dipanggil Sogol tanpa menjawab segera turut serta membuat saluran dengan memotong pematang. Air segera mengalir cukup deras. Tadinya air rata dengan pematang, sepertiga tanaman padi terendam dalam genangan hujan. Adiknya turut serta membantu.

Air segera mengalir dengan kecepatan tinggi. Berangsur-angsur genangan surut, diikuti berkurangnya kecepatan aliran air. Sastro dibantu kedua anaknya berusaha memperlancar aliran air supaya genangan segera habis. Tanpa mempedulikan waktu yang kian beranjak ketiganya bekerja keras dengan harapan padi miliknya dapat terselamatkan. Bahkan mereka tidak menyadari sedikitpun bila hari itu matahari tak juga hadir. Tertutup awan tebal. Keringat mereka tetap saja bercucuran.

“Pak, di atas bukit itu..!” Sogol berteriak tak kesampaian. Dilihatnya puncak bukit bukan lagi hanya berawan tebal. Hujan mulai menderas. Pepohonan nampak penuh gigil. Dari kejauhan nampak adanya lontaran-lontaran yang tak begitu jelas seperti menuju perkampungan di mana salah satu rumah yang ada adalah milik mereka.

“Sudah, jangan berkeinginan untuk bermain di atas bukit. Sekarang Bantu bapak memberesi tanggul ini.”

“Pak..!”

“Jangan banyak omong. Jika tak segera kita selesaikan hancur padi kita tergenang semua. Selama tiga bulan kita tidak makan apa-apa.”

Tiba-tiba petir menyambar-nyambar penuh gelegar. Hujan segera mengguyur tubuh-tubuh itu tanpa peringatan. Air sungai sekitar limaratusan meter dari sawah mereka segera meluap.

“Pak, aku harus pulang menyelamatkan mak, sepertinya…” Sogol tanpa menyelesaikan kata-katanya segera melesat meninggalkan adik dan bapaknya. Sastro tercekat segera menyadari keadaan. Sogol kian mempercepat langkah. Tak lagi mempedulikan bapak dan adiknya. Sementara itu Sastro segera menyusul demi diingatnya sungai yang harus dilewati cukup deras arusnya. Sayang Satro terlambat. Sogol telah mencebur ke sungai begitu bapaknya tiba di bibir sungai.

“Sogol! Jangan teruskan! Kembali..”

Sia-sia Sastro memanggil-manggil. Sogol nekad menyeberang. Sekonyong-konyong dari hulu bah membesar kian pekat. Meluap hingga sungai tak mampu lagi menampungnya. Sawah-sawah kembali tergenangi tidak hanya oleh air tapi Lumpur pekat kecoklatan dan kerikil-kerikil banyak yang tersangkut. Praktis rumpun padi yang tersisa tak berbentuk lagi.

Sogol tersentak sedang berada di tengah-tengah. Kembali tak mungkin. Melanjutkan lebih susah. Tiba-tiba sebatang kayu menyodok tubuh Sogol hingga terjatuh. Sogol berusaha menggapai-gapai. Sastro tak mampu berbuat apa-apa. Terlalu banyak sudah air bah masuk mulut Sogol. Dan hilang.

“Sogol..! Sogol..di mana kau nak?”

Berulang-ulang Sastro berteriak memanggil-manggil. Ditunggunya terus hingga hujan mereda. Dipanggilnya terus hingga suara serak hilang ditelan suara arus air yang tak jauh lebih keras. Ditunggunya sampai hari beranjak malam ditemani anaknya yang kecil hingga bertemu pagi kembali. Hingga sungai benar-benar surut Sastro baru mneyadari bahwa ia telah kehilangan anaknya untuk selama-lamanya. Dengan langkah gontai anaknya yang tersisa digendong pulang. Sesampai di perkampungan Sastro hanya tinggal menemui puing-puing rumah yang telah hancur ditelan bah. Sisa-sisa air masih banyak menggenang.

Kini Sastro tidak sekedar kehilangan rumpun padi yang seharusnya meranum. Hari depannya telah hancur. Anak lelaki tertuanya hilang ditelan sungai yang mengganas. Tidak hanya itu istri dan anak bungsunya yang belum genap empat tahun tak jelas kemana. Kini hanya tinggal seorang anak. Tanpa rumah. Tanpa rumpun padi. Tanpa seorang istri.

30 comments on “RUMPUN PADI

  1. kemana Sogol dan istrinya Sastro, Mas ?
    lalu, sekarang gimana dan dimana Sastro nya ?
    bingung, miris juga ngeri juga jadinya.
    Salam.
    —-+++—
    wah maaf Bunda, saya juga belum sempat ketemu untuk menamyakan bagimana kabarnya

  2. kenapa sedih banget siy ceritanya pak,, benar2 kisah yang tragis… 😥
    —++—
    lintasan pikiran yang saya tuangkan alam sebuah cerpen, hasilnya yang begitulah adanya

  3. Ada lagi yang harus anda ketahui lagi bahaya yang mengancam struktur iman manusia yang berasala dari kecanggihan teknologi. Saya telah menjadi korban dari kecanggihan suatu teknologi. Bacalah semua nya di blog saya, http://www.anak anak tasik.com. pada bagian surat untuk istriku dan satu sub bagian blog dengan judul hati hati membeli pulsa. Saya sampai harus membayar sangat mahal akibat dari keserakahan manusia manusia penikmat selangkangan wanita. Saya hanya bisa memberikan sedikit info pada pembaca semua agar kejadian yang menimpa saya tidak terulang lagi. Inilah info saya: JANGAN PERNAH MEMBIARKAN ISTRI ANDA MEMBELI PULSA SEORANG DIRI, NOMOR ISTRI ANDA AKAN DIHUBUNGI NANTINYA OLEH PARA “AGEN PENCARI NOMOR PEREMPUAN” YANG NANTINYA AKAN DIBERIKAN KEPADA PARA BOS BOS HIDUNG BELANG. NANTINYA PARA BOS HIDUNG BELANG INI AKAN MENGHUBUNGI ISTRI ANDA DENGAN SEGALA MACAM CARA BAHKAN DENGAN ILMU MAGIC. HATI HATI LAH . Silahkan kunjungi blog saya agar anda lebih mengetahui secara pasti.
    Baraaqallahu liiwalakum
    —++—
    terima kasih atas infonya

  4. Sedih banget ceritanya 😦
    ah betapa kita gak tahu rahasia hidup dan mati.

    btw mas, saya sudah pindah rumah lho, skali2 (sering juga boleh :p) mampir ya :
    http://ceritaeka.com
    —+++—
    pindah rumah? segera dilacak

  5. Pengalaman berharga dari Pak Sastro yang tak kenal lelah berusaha
    —+++—
    Betul Cak

  6. Sogol hilang??? Istri Sastro juga??? kemana mereka??
    gak bisakah diketemukan??
    Sastro… gimana denganmu??

    kisah yg memilukan …
    —-+++—
    Sogol masih belum tahu dimana kesemua yang dimilikinya

  7. sedih banget sih kang 😦
    —++—
    mendengar berita tentang gempa mengingatkan tulisan saya tentang musibah, maka ini segera kuposting

  8. Aku kini menangis dikau kini tlah pergi
    memberi seribu duka
    Lara hati kehilangan dikau
    slalu menyertakan serpihan
    hadirmu disisi slalu aku kehilangan

    (Itu syair lagunya Melly Guslaw “Kehilangan” dinyanyikan secara seriosa oleh Aning Katamsi-lagu favorit saya)
    Sangat perih mendengarnya sama seperti membaca cerita di atas.

    Kehilangan selalu memberikan luka yang tak pernah tersembuhkan. Entahlah.
    —-+++—
    kehilangan dalam kisah ini juga tak kan pernah tergantikan Mas

  9. uh… masih sedih 😥
    —+++—
    memang lagi sedih

  10. kata orang sunda jadinya ngenes pak…sedih…
    —++—
    ngenes banget Om

  11. Assalaamu’alaikum

    Alhamdulillah, sudah pindah rumah baru ya … saudara Sunarnosahlan…. Mengapa tidak dimaklumi…. Sudah lama juga kita tidak bersilaturahmi…. harap perkongsian ilmu apa sahaja akan memanjangkan persahabatan di dunia maya ini. Tulisannya makin mantap dan rumahnya… ya… pilihan citarasa si empunya diri… tentu ada nilai sentimentalnya kan…. Salam mesra dari UKM, Bangi, Malaysia.
    —+++—
    terima kasih Ummi atas apreasiasinya

  12. salaaam.. wah udah lama ga main kesini skrg ganti wajah baru.. semoga selalu sehat semangat dan berbahagia yah ^^
    —-+++—-
    amin

  13. Shilaturrahmi ba’da Idul Fitri Mas
    Apa Kabar ?
    Semoga Kita semua senantiasa diridlai Allah
    Amiiin
    —++—
    Amin ya rabbal alamin

  14. Blogwalking, nemu cerpen.
    —+++—
    monggo

  15. itu beneran? ato fiktif? hiks hiks nih
    —++—
    benar-benar fiktif

  16. semua kejadian selalu ada hikmahnya ya mas…maaf y coz makin jarang nge blog nich ^^
    —++—
    saya juga baru muncul kembali kok

  17. apapun cobaannya berilah sebuah senyuman
    —++—
    senyum Manis untuk Dias

  18. ceritanya begitu menyesakkan hati…
    betapa menakutkan bila membayangkan kejadian yg ternyadi…
    terasa sesak dada ini…
    sungguh menggugah emosi…
    —++—
    entahlah, ketika saya menuliskan kisah ini mengalir begitu saja

  19. hadooh..
    dua kali saya baca.. , uaraian kata sederhana mengalir indah.. tapi mempunyai bobot luar biasa.. ! tanpa disadari semua pembaca akan termeteraikan satu pesan :
    betapa kecil dan tak berdayanya manusia di hadapanNYA…
    sesungguhnya kita mencari apa..? dan akan kemanakah..??
    setangguh apapun manusia.. sekaya apapun dia..
    sesungguhnya kita adalah lemah adanya..
    dan hanya satu kekuatan yg kita miliki adalah penyerahan diri kepadaNYA.

    Salam buat Pak Sastro mas..
    kalau Sogol anak Kr.gede tmn sekolah saya di Sala3 dulu haa..haaa..
    —++—
    Pak Sastro itu guruku waktu SD, sedang Sogol teman sekelasku sekarang di Jakarta

  20. cerita yang menarik, pak…
    —-++—
    terima kasih putri

  21. Ah, kisah yang sarat dengan kepedihan. Semoga Pak Sastro tidak putus asa melanjutkan hidupnya …
    —++—
    semoga sebagaimana harapan Bu Tuti

  22. Musibah kadang datang tanpa diundang
    —++—
    kalau musibah tak ada yang mau mengundang Bu, apalagi dengan sukarela

  23. uh…..sakit dan perih..
    bagai tersayat sembilu 😥
    —++—
    kisah yang dibuat secara sederhana kok

  24. salam… apa kabar mas sunar… sekalinya nenggok dapet tulisan cakep nih. Selalu sad end yah…??? yang happy ending mana…???
    —-++—
    itulah hasil olahan saya Mas! kalau suruh buat yang happy ending gagal melulu

  25. Salam

    tercengan aq di buatnya …..wah seperti susu campur kopi hitam
    —-++—
    pahit banget Pak??

  26. Mantap banget tulisannya… Serasa nyata sekali dibuatnya…
    Akhir2 ini…alam memang sepertinya kurang bersahabat dgn kita…
    Salam hangat… Salam damai selalu…
    —-+++—
    salam juga sobat

  27. keras dan pedih, seperti tidak to be continued
    —-++—
    masih ada yang lain, dengan judul Tak Ada Lagi Cinta

  28. pedih sekali mas narno.. bundo ndak pernah bisa bikin tulisan bernuansa kelam seperti ini.. bagian hitam selalu mengendap dibagian bawah..
    —-++—
    itulah uniknya saya Bundo, kalau diminta menulis kisah yang hapy ending atau tema remaja susahnya luar biasa, tapi kalau tokohnya pedih, tertekan, atau mati cepat sekali jadinya

  29. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

    —+++—-
    sami-sami Kang

  30. pertamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaxxzz
    —+++—
    huahhaaaahaaaaaaaaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: