35 Komentar

Redaktur Kejam

Tak jarang dalam acara talk show para penulis, pembicara atau kadang peserta menyampaikan statemen tentang kejamnya sang redaktur. Benarkah redaktur itu kejam?

Joni Ariadinata yang pernah ratusan kali ditolak oleh redaktur yang kini adalah redaktur majalah Sastra satu-satunya di negeri ini (waktu itu di Solo tepatnya acara peluncuran kumpulan cerpen: Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf) mengatakan bahwa sebagian besar naskah yang masuk ke meja redaksi berlanjut ke tong sampah. Berarti benar kan redaktur itu kejam.

Nanti dulu, jangan terburu-buru untuk meluapkan kemarahan. Postingan ini saya buatpun untuk meregangkan ototo-otot sedikit meninggalkan file-file yang harus diobrak-abrik.

Kenapa banyak tulisan yang berakhir di tong sampah? Apa memang tulisan sampah?

Coba bayangkan berapa banyak naskah yang numpuk di meja redaksi semacam Horison, ribuan naskah sobat. Mau dimuat semua jelas tidak mungkin, ruangnya sangat terbatas. Lalu yang itu tadi, masuk tong sampah. Beda pula dengan media kecil yang peredarannya sangat terbatas, dengan oplah tak sampai 2500 exemplar. Naskah yang masuk bisa dibilang tak sampai ujung jari habis untung menghitungnya. Permasalahannya bukan pada banyaknya naskah yang masuk, tapi dengan terbatasnya naskah yang masuk, maka redaktur terutama si tukang obrak-abrik harus super kreatif.

Kalau Pak Ahmadun Yosi Herfanda pernah menolak tulisan Seno Gumira Ajidarma karena terlalu panjang, gampang saja karena masih ada alternative tulisan lain yang tak perlu banyak mengurangi huruf. Lha ini penulisnya local, tulisannya jarang yang sesuai dengan kolom yang ada. Halaman untuk majalah jelas terbatas, tidak bisa ditarik ulur seperti halaman web. Maka kesan kejam tak terelakkan, benar-benar naskah yang kedodoran diobrak-abrik. Potong sana potong sini agar pas. Tak jarang naskah yang masuk hampir dua kali lipat yang seharusnya, jadi kalau kemudian ada beberapa alinea yang tidak utuh atau malah ada yang dihilangkan sama sekali maka jangan marah-marah pada redaktur. Redaktur juga manusia.

Ambil saja hikmahnya, tulisan yang tidak dilirik oleh redaktur bukan berarti tulisan sampah, meskipun nasibnya masuk tong sampah. Ada banyak kemungkinan yang terjadi, mungkin ya itu tadi tidak sesuai ukurannya (kurang panjang atau terlalu panjang), tema yang diambil tidak sesuai dengan misi media yang kita kirimi naskah, atau bahkan temanya sudah usang. Jika bukan karena yang terakhir maka masih ada peluang ke media yang lain.

Sekian dulu, mau kembali ngobrak-abrik huruf.

Iklan

35 comments on “Redaktur Kejam

  1. ngeblog aja lagee…
    sudah pasti lolos sensor
    —-+++—
    asal masih dalam batasan norma tak masalah

  2. aku dah beberapa kali nulis dan ngirim, kayaknya juga masuk tong sampah
    ada ide?
    —+++—-
    jangan pernah bosan untuk mengirim naskah sukur-sukur redakturnya yang bosan sehingga timbul penasaran dan akhirnya dimuat juga

  3. intinya positive thinking ya 🙂
    —++—
    betul, bukan bermaksud melemahkan semangat justru untuk menyemangati

  4. di blog nggak ada yang ke sampah mas. 😆
    —-+++—
    kalau di blog ya terserah yang mengelolanya sendiri, mau dibuang mau disimpan bebas-bebas saja

  5. aQ pernah menjadi salah satu korban naskah berakhir di tempat sampah.. bakan bisa dibilang sdh berkali-kali… ^^ tapi aQ tau itu bukan akhir dr cita2Q, aQ justru smkn bljr dan banyak mmbca cara menulis yg baik . Akhirnya ada naskah yg ckp bs diterima 🙂 Dan rasanya sungguh menakjubkan, tetapi seumur hidup aQ lbh g bs melupakan rasanya naskah yg berakhir di tempat sampah… :p
    —+++—
    kita jadikan pemicu semangat bukan pematah semangat, semoga dengan pengalaman-pengalaman yang ada membuat kita semakin bisa meningkatkan kualitas tulisan

  6. jadi tambah ragu buat kirim2 tulisan 🙂
    —-+++—–
    kenapa musti takut?

  7. Bagaimana dengan tulisanku pak, kira-kira masuk tong sampah nggak ya? 😀
    —-+++—-
    tong sampah di web saya belum pernah tahu keberadaannya

  8. Mimang butuh perjuangan keras pak.
    —+++–
    jangan keras-keras to Pak

  9. Wew .. menulis itu gak gampang loh … saya salut sama orang2 yang hobi menulis *mengacungkan jempol tangan + jempol kaki* 😀

    Terus menulis + tuangkan semua kreatifitasnya lewat tulisan ya Mas 😉
    —-+++—
    kalau saya memang tiada hari tanpa menulis, hanya saja apa yang ditulis ya itulah macam-macam, ada yang dipapan tulis, ada dibuku, ada komputer, tergantung kebutuhan

  10. Menulis, menulis, menulis.. , banyak tokoh besar yg mampu merubah dunia karena terus menulis dan menulis.. , spt al mis keberhasilan Bung Karno membawa Indonesia ke gerbang kemerdekaan pun sebetulnya karena menulis..dan menulis.. ditolak..! tong sampah..! dan lain-lainnya itu hanyalah konsekwensi yang harus ditanggung..! dan bukan berarti menghentikan perjuangan , tapi justru sebagai KOMPOR..!! he..hee.. atau motivasi untuk lebih banyak mendapatkan inspirasi dalam berkarya… dan lebih banyak menulis lagi..
    ……..Rubahlah DUNIA dengan tulisanmu..
    ……..Damaikan bumi dengan senyumanmu..
    ……..dinginkan hati dg nyanyikan Puji Syukur…
    **wallah…. Paklik ngelantur.. he..heee…

    tetap semangat mas..!!

    Salam.
    —+++—
    nggih pak lik pangestunipun

  11. dulu, waktu masih SMA pernah berkali2 dikembalikan naskah saya oleh majalah Gadis.
    tapi, akhirnya tembus juga dan dapat uang honor Rp27.500, habis utk makan bakso bareng teman2 di kantin sekolah.
    Salam.
    —-+++—-
    kalau saya tak ada satupun pengalaman naskah dikembalikan, mungkin redaksi seperti yang saya ulas, lebih memilih membuangnya ke tempat sampah, bagi saya tak masalah karena belum sampai lima kali ditolak, lebih banyak diterimanya

  12. ruang redaktur hanya satu persinggahan dari karya2 yang menarik, tapi ia bukan perhentian dari sebuah kerja menulis, bukan…
    —-+++—
    benar-benar, bukan yang terakhir tapi masih banyak jalan yang bisa kita tempuh

  13. Salam

    sabar bilangnya orang pinter subur .

    hidup adalah tantangan yang harus kita hadapi dan bukannya untuk ditinggal lari ….

    salam Damae selalu
    —+++—
    iya pak, kesabaran itu memberikan berkah tersendiri

  14. Salam Takzim
    Selamat siang, beranjangsana mengunjungi saudaraku, yang telah melepas jejak hingga menemukan via goresan Redaktur Kejam. Komentarnya bagus-bagus, jadi takur selebor, maklum biasa selebor. Izin berkenalan ya kang sunarno. Semoga berkenan
    Salam Takzim batavusqu
    —-=====—–
    monggo dipun keparengaken

  15. hihi.. aku gak ngerti masala begituan, lha wong redaktur aja sy kagak tw
    —+++—
    lho kan anda juga redaktur, setidaknya untuk blognya sendiri

  16. ..percaya sama pak redaktur aja deh, dia kan lebih banyak tau.. 😉
    —+++—
    sepakat banget

  17. kangen dengan artikelnya pak
    —-+++—
    silahkan

  18. lha ibu tirti lebih kejem lagi pak hehe
    —-+++—
    ibu tirinya siapa mas?
    aku punya ibu (mertua) tiri tapi tidak kejam kok

  19. ditolak redaktur terus2n akhirnya membuat kian kuat mental saya pak he..he… ketika mahasiswa dulu saya lumayan aktif nulis di media. pengalaman saya, Kompas sangat sulit ditembus. untungnya, mereka mau mengembalikan naskah yg ditolak itu (meskipun saya nggak menyertakan perangko). sekali saja, pernah nongol di resensi buku.
    skrg saya jd redaktur untuk majalah internal perusahaan, saya nggak kejam… malah mendorong teman2 kantor spy memasukkan artikel/tulisannya
    —-+++—
    apa yang bapak lakukan di internal sebenarnya juga sama, tak jarang saya main todong ke teman-teman untuk segera menulis, tentang honor pun kami sampaikan kami siapkan, dengan cara demikian saya berharap saya tidaklah menjadi redaktur yang kejam

  20. sabar itu subur….
    —+++—
    semakin makmur

  21. Numpang promosi blog aku… plis dech yg mo liat2 blogku sapa tau bermanfaat buat kamu2 dan teman2 😉
    —+++—
    segera ke TKP

  22. kerjaannya redaktur kali buang sampah 😆
    piss………………………..
    —+++—
    kalau tidak dibuang lama kelamaan kantor redakturnya berubah jadi tempat sampah, maka harus dibuang

  23. tempat kerjaku dulu juga udah jadi penerbit kalo mau diterbitkan ya bisa kok kirim ke email aku. silahkan
    —-++—-
    kapan-kapan kalau tulisannya sudah cukup banyak dan layak untuk diterbitkan

  24. aku pikir benar pak , jadi bukan tulisan nya nyampah namun belom sesuai kreteria yang diinginkan. jadi memang setiap tulisan yang akan dikirimkan memang harus sesuai keinginan bagi redaktur
    —+++—
    betul, itu sarat mutlak

  25. Assalaamu’alaikum

    Sabar aja kalau ada redaktur sedemikian.. bukankah itu membangunkan jiwa supaya kuat dan tabah untuk menerima sesuatu walau pedih dirasai. Itu namanya mencari sesuatu yang bermutu dan punyai nilai tersendiri. Salam mesra selalu.
    —-+++—
    betul Ummi, dengan cara yang demikian seharusnya semakin memacu kita untuk meningkatkan kualitas tulisan kita

  26. Kan bisa jadi semangat agar tulisan kita lebih baik lagi..

    Tapi sakit hati juga kalau diperlakukan gitu ya..
    —+++—
    artinya tergantung bagaimana kita menyikapinya, sebagai cambuk penyemangat atau sebagai palu vonis kegagalan

  27. hai,
    senang bertemu Anda melalui blog ini sy Agus Suhanto, tulisan yg oke 🙂 … lam kenal yee
    —+++—
    terima kasih atas kunjungannya

  28. sekejam apa sih redaktur itu ? jd pingin kenal…kadang pingin banget tulisan2 kita di buat 1 buku…tp gimana caranya yach…? apa bisa bantu? 🙂
    —+++—
    jika serius silahkan kirim ke email saya, nanti saya bantu carikan penerbit

  29. Tapi tak sekejam ibu tiri kan?
    Heheheh.. 😀
    —++—
    kalau itu saya sendiri tidak tahu

  30. redaktur kejaam.. hmm… baru tahu..
    blm pernah kirim tulisan ke redaktur,
    gak pede aja .. makanya cukup ampe di blog aja hehee

  31. emaparan yang unik mas, begitulah tugas redaktur. Dan itu adalah tantangan bagi penulis untuk bisa membuat tulisan yang bermutu.

    salam 🙂
    —-+++—
    benar mas, kedua hal itu sangat kurasakan

  32. […] Redaktur Kejam Tak jarang dalam acara talk show para penulis, pembicara atau kadang peserta menyampaikan statemen tentang kejamnya sang redaktur. Benarkah redaktur itu kejam? Joni Ariadinata yang pernah ratusan kali ditolak oleh redaktur yang kini adalah redaktur majalah Sastra satu-satunya di negeri ini (waktu itu di Solo tepatnya acara peluncuran kumpulan cerpen: Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf) […] AKPC_IDS += "12275,";Popularity: unranked [?] […]

  33. heheh… tenang aja ya pak.. ada blog yang minus redaktur… ga ada yang ngobrak ngobrik.. ga ada yang sortir.
    —-+++—
    ngobrak-abrik huruf itu sudah keseharianku lho

  34. salam kenal………
    terimakasih sudah berkunjung…….
    —+++—
    sama-sama

  35. klo tulisanku bisa diterima ga tuan redaktur? 😀
    —–+++—
    Klo tulisan Bundo kan sudah dipesan, jadi itu spesial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: