47 Komentar

Tak Lagi Kukenali

banyak sudut tak lagi kukenali
silih berganti mengisi
tak pula kutemukan pejalan kaki
mesin beroda saling berlari
berebut entah apa lagi

sungguh
aku tak mengenali
wajah-wajah baru
tanpa petak-petak sawah
tanpa pejalan kaki

pohon yang kutanam dulu
menjulang tinggi
di sudut kampus
terasa purba
di tengah gedung nan megah

sayang
kemana pula rumah-rumah
yang dulu keakrabi

lalu kemanakah wajah-wajah
yang dulu kukenal?

Inikah wajah pembangunan itu?

Purwokerto, 23/12 09

Iklan

47 comments on “Tak Lagi Kukenali

  1. skrg di depan kos masih terbentang sawah hijau..
    sering liat petani beraktifitas waktu bangun pagi..

    beberapa tahun yang akan datang..
    jika kemabali ke tempat saya berada sekarang,,
    mungkin sawah nan hijau itu sudah terganti dengan bangunan2 minimarket dan sejenisnya..

    hikss

    kunjungan perdana mas…
    ^_^
    —-===—-
    daerah kampus biasanya perubahannya akan sangat cepat

  2. Ikhlaskan semua wajah yang telah berubah mas, semoga hati tak ikut menghilang
    —==—–
    ikhlas tidak ikhlas perubahan tak bisa dielakkan

  3. perubahan itu perlu bos
    —===—
    sangat perlu, harus bahkan

  4. kerap kita merasa menjadi asing dinegeri sendiri mas…
    —====—-
    begitulah adanya

  5. Pembangunan memang tak selalu mengarah ada kebaikan tapi pasti mengarah pada perubahan.
    Apakah kita siap utk setiap perubahan? itulah masalahnya.
    —===—
    masalah yang justru terasa rumit Mas, karena berkaitan dengan soal rasa bukan logika

  6. setiap tahun saya sempatkan napak tilas di kampus biru.. selalu saja banyak terjadi perubahan.. dan saya semakin tdk mengenalnya lagi..
    —===—-
    kampus biru? julukannya sama, tapi saya yakin tempatnya berbeda. Benar Pak setiap saya ke kampus sepanjang jalan selalu mendapati sesuatu yang baru dan kemaren itu nyaris tak bisa mengenali lagi

  7. sebuah proses pengembangan atau pemerataan kalau kaya gini Pak ?
    —===—
    sepertinya bukan kedua-duanya

  8. wajah kampung halamanku pun sudah banyak berubah……
    tambang-tambang timah yang menjadi sumber penghasilan sebagian besar masyarakat, menghiasi wajahnya kini
    —===—-
    kalau masih pada bidang pertanian, maka alam akan tetap ramah tapi kalau bidang yang lain tanpa diimbangi dengan penghijauan ya cepat atau lambat akan terasa dampaknya

  9. Ketika pepohonan justru berganti dengan pencakar langit berbahan beton…..

    rada miris…

    tp, sy selalu yakin jika akan ada pembangunan berdasarkan green enviroment… πŸ™‚
    —====—
    semoga ada, tetapi tidak ada jaminan

  10. semakin sulit kutemui tupai berloncatan di belakang rumah.. 😦
    —===—-
    apalagi tupai tak ada lagi, entah kemana

  11. lagi pangling Pak ??? saya juga pangling lihat kampus saya sekarang he he.
    Yang lebih hebat lagi, saya melongo di setiap sudut banyak yang telpon dan pencet2 HP … lupa masuk kampus beda jaman he he he
    Trims Pak.
    Salam πŸ™‚
    —====—-
    saya tidak sempat lihat para pemegang hape, karena hanya sebentar, hanya bengong saja ketika membandingkan pohon-pohon di kampus yang semakin menjulang dengan gedung-gedung baru di sepanjang jalan sebelum masuk kampus, maka terasa kampus yang tua

  12. Semuanya tlah berubah..

    Seiring berjalannya waktu.. πŸ™‚
    —===—
    karena itulah kehidupan

  13. meski tak kau kenali
    aku tak henti mencintai

    huehehhehehe
    —===—-
    cintailah dengan sepenuh hati

  14. Swara jangkrik tansoyo sepi
    Kodok yo arang-arang muni
    thulat-thulit sworo hape awan lan bengi
    sworo speda motor ngrusak endahing wengi

    Salam kagem sedoyo kulowargo mas
    –===—-
    nggih Pak, sampun mboten wonten suoro kodok, jangkrik, walang, entene kebo wesi engkang mrisiki sanget

  15. mengunjungi pagi hari para sahabat narablog sambil melihat jikalau ada info baru buat nambah wawasan serta ilmu, selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta di penghujung tahun, Selamat menjelang tahun baru 2010. Salam dari ruang hati terdalam
    —===—-
    silahkan, kunjungannya sangat berarti

  16. ..
    balik ke masa lalu saja Pak, make’ mesin waktunya doraemon..
    he..he..
    ..
    pembangunan selalu ada sisi positif dan negatif..
    kesihan aja sama yg kena gusur secara paksa..

    —===—-
    itu hanya khayalan semata, dan untuk ke masa lalu lebih mudah dengan mengkhayal tanpa perlu alam semacam yang dimiliki doraemon

  17. Assalaamu’alaikum

    Mudahan saya masih lagi dikenali dalam ruang blogger ini ya, mas Sunarno walau mungkin banyak perubahan yang akan berlaku selepas tamat belajar ini..he..he..

    Mudahan perubahan yang baik tidak akan menghapus sesuatu yang menjadi nastolgia yang membawa kepada perubahan tersebut.

    salam mesra selalu.
    —===—
    Amin, semoga lah demikian Umi, perubahan memang tak terhindarkan namun jangan pula menghapus kenangan yang telah ada

  18. Salam Takzim
    Puisi pak Narno sudah bagus, hanya terkadang ada huruf yang kurang jadi saat berjuang pada acara unggulan ken finalti deh sama dewan juri, maap say copas salah satunya
    lalu kemakah wajah-wajah
    Salam Takzim Batavusqu
    —===—-
    wajah-wajah itulah yang telah berganti membuatku tak mengerti

  19. dulu sekali
    yang kukenali
    telah pergi

    kini datang
    lagi
    kenalan yang baru

    he..he…, walah sulitnya πŸ˜†
    —===—-
    datang pergi silih berganti

  20. keabadian..memang tak ada kecuali
    —===—-
    benar Pak

  21. People change, yang dulu kita kenal, suatu hari akan tidak mengenali kita … 😦
    —===—-
    wah, repot kalau begitu Mbak, bisa jadi suatu hari nanti Mbak Rindu tak lagi mengenaliku

  22. dunia memang berubah. kita juga berubah. makin besar, makin tua, makin banyak pengalaman kita. nah, masalahnya apakah kita akan membuang memori masa lalu/ kenangan masa lalu kita yang indah?
    bagaimana ini?
    —===—-
    dengan sengaja membuang tentu saja tidak, justru dengan memori itulah maka saya bisa membuat puisi yang seperti ini membandingkan antara masa kini dengan masa lalu

  23. Begitu banyak pembangunan, yang kadang membuat kita semakin ‘sumpek’ untuk tinggal. Semakin sedikit ruang kosong yang bisa digunakan untuk bermain di luar. Berapa tahun lagi, mungkin ruang kosong tinggal sejengkal…. πŸ˜₯
    —===—-
    tak jarang pula menjadi tersingkir

  24. langkah kaki tak kuasa mengejarnya
    kadang aku hanya termangu olehnya
    jangan tinggalkan aku wahai…………..
    —–====——
    wahai sang ………

  25. ada kota emang sbaiknya ada desa.. πŸ™‚

    *nyambung nggak, ya?
    —===—
    ya disambbung-sambungkan tak mengapa

  26. kalo ada kota emang sbainya ada desa.. πŸ™‚

    *nyambung nggak, y??*

  27. wah puisi tentang pembangunan, keren πŸ˜€
    —===—-
    terima kasih

  28. tak kenal jadi tak sayang
    tak sayang karena tak kenal

    sudah gak mengenal karena sudah sangat berubah
    yang dulu sawah jadi pemukiman
    yang dulu kecil sekarang sudah membesar
    yang dulu asri sudah menjadi Gersang .

    salam damae selalu …damae itu indah
    —===—-
    fakta yang terjadi demikian, semoga tetap damai karena damai itu indah

  29. itulah modernisasi
    —-====—-
    yang tak bisa dihindari

  30. hm… inilah efek globalisasi. susah juga ya…
    —===—-
    begitulah adanya

  31. wah iya sekarang lahan-lahan hijau sudah mulai habis untuk pembangunan gedung2 πŸ˜‰
    —===—-
    dan kebanyakan justru penanaman gedung lebih banyak menyedot lahan subur, yang gersang tetap tertinggal, karena dianggap kurang menjanjikan

  32. Pembangunan memang pesat apa lagi kalau itu di kampung halaman yg lama kita tinggal puluhan tahun setelah kita kembali pasti banyak perubahan dan hampir tidak bisa di kenali lagi…salam pak..
    —===—-
    kalau di kampung saya, saya masih bisa mengenali dengan baik bahkan hingga lekuk sungainya, tapi di puisi ini adalah kampung halaman kedua, tempat saya menimba ilmu dan pernah tinggal pula lebih dari 10 tahun dan belum ada 6 tahun saya menengok kembali sudah benar-benar berubah

  33. jadi ingat lagu gersang nya niki astria, salam sukses selalu ya pak
    —===—-
    sama-sama semoga sukses pula

  34. mantap PAK…
    tapi kalo tentang puisi saya tdk tahu mau ngomentarin apa karna saya tidak tahu banyak pak tentang puisi. hehehe
    —===—-
    sebenarnya puisi kali ini tak berat untuk dipahami, mungkin Mas Alfa sudah merasa bahwa puisi itu susah maka jadinya benar-benar susah, padahal bisa saja judulnya yang dikomentari

  35. Tak ada yang tak berubah di dunia ini. Kemana arah perubahan, itu merupakan pilihan. Kadang, sebagian kita justru tidak menyukai pilihan yang telah digariskan.
    —====—-
    tak jarang pula tak bisa memilih, terseret arus yang belum tentu pula mengenakkan, tinggal bagaimana kita menyikapinya

  36. perubahan senantiasa membuat kita pangling
    melihat wajah baru yg kadang tak semenyenangkan wajah lama.
    sebuah pemandangan yg teramat sering kita temukan di belahan bumi manapun.
    Semoga perubahan wajah tetap menetapkan jiwa-jiwanya dalam kebaikan. Lebih bagus lagi jika perubahan semakin memperindah wajah yg hadir dalam pembaharuan.

    nice poem ni.. gaya penulisan Mas sangat khas.. penulisan seorg saintis yg bersastra πŸ™‚
    —====—-
    saya hanya mencoba menerapkan wejangannya Pak Taufiq Ismail agar sesekali mewedarkan ilmu-ilmu biologi saya dalam wujud puisi, wejangan tahun 2002 yang tak mungkin saya lupakan, itulah Mbak tulisan saya jadi begini

  37. bercerita tentang masalah pembangunan ya…,
    —====—-
    tepatnya efek pembangunan

  38. Perubahan menyisakan kenangan. Kalau tidak berubah kita akan tergilas. Tergilas oleh perubahan itu sendiri.

    SElamat sore Bapak. Semoga selalu sehat dan bahagia selalu.
    —====—-
    yang saya amati, memang ada yang tergilas dalam artian tersingkir karena tidak memiliki modal, sementara pendatang yang modalnya lebih besar menggantikan dengan perubahan yang lebih besar pula

  39. Kenangan kini tinggal kenangan
    tanpa visualisasi kebelakang
    Alhamdulillah masih di anugerahi ingatan
    —-=====—–
    alhamdulillah Mas, masih ada anugerah bernama ingatan

  40. dari yang sawah, sekarang diganti gedung2 bertingkat, perumahan dll… penduduknya diganjar dengan iming2 imbalan dengan sejumlah uang….tidak bisa disalahkan memang, hak mereka… tapi, setidaknya, jika menebang satu pohon, tanamlah satu pohon juga… bukan begitu…
    —–====—-
    setuju setuju setuju

  41. Semacam lagi rindu pada kampung halaman ini Puisi..
    πŸ˜› πŸ˜€
    sepertinya ada rencana pulang kampung ini berlibur tahun baru
    Salam anget dari Medan Om
    Semoga ceria selalu bersama keluarga πŸ™‚
    —===—-
    salam kembali Kang Dadang dari Kuningan

  42. Bahkan…..
    Selokan tempat ku memancing ikan
    tak kudapati gemericik…..
    —===—-
    semakin kering ya, terus ikan-ikannya tinggal ditangkapi saja tanpa pancing atau malah ikutan lenyap

  43. memang pembangunan melahirkan perubahan yg tdk dapat dihindari.
    walaupun kadang kita merasakan keterasingan dgn hal2 yg dulu pernah kita akrabi.
    Salam.
    –===—-
    saya tidak menentang perubahan, hanya saja ada beberapa perubahan yang saya lihat sepertinya penduduk asli perlahan-lahan tersingkir tergantikan oleh pemilik modal

  44. Pembangunan selalu menyisakan berubahnya wajah, tempat dan bahkan perubahan budaya bagi yang terkena pembangunan itu.
    Di satu sisi, pembangunan diperlukan untuk membuat mobilitas kebutuhan pokok sehari-hari berjalan lancar.
    —-====——
    yang saya sedihkan adalah pada kemana pemilik tanah yang asli, sepertinya tumbuh bangunan baru dengan pemilik yang baru pula

  45. wajah yang dulu yang dikenal dulu udah pergi kali pak
    —===—
    wajah manusia ya, tapi wajah-wajah yang lain kemana?

  46. ia tumbuh
    dan berkembang
    menjadi dewasa
    menjadi tua
    untuk selanjutnya
    mati, tiada
    —====—-
    proses alamiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: