49 Komentar

Ketika Aku Berpuisi (Bukan Tutorial)

Tergelitik oleh beberapa rekan blog yang meninggalkan jejak tentang puisi-puisi saya, maka rasanya perlulah sedikit saya mengapresiasi.

Perjalanan saya bergumul dengan puisi tidaklah linear, bahkan pernah mengalami masa-masa stagnan yang sangat lama. Kalau sobat mendapatkan tahun pembuatan puisi saya paling lawas adalah tahun 1998, tak ada yang lebih tua dari itu.

Apa memang tidak ada?

Sebenarnya saya berpuisi sudah sejak SMP turut meramaikan mading sekolah, hanya saja ketika kelas 3 SMA puisi-puisi saya terbagi menjadi dua, satu bagian dibawa pergi oleh beberapa teman sekelas, entah sekarang mereka ada dimana. Yang kedua telah saya abadikan dalam Mencabut Ikrar, habis saya serahkan pada api yang menyala. Semenjak itu tak ada lagi puisi yang saya hasilkan, saya berkutat dengan lumpur sebelum akhirnya meninggalkan Merapi mendekati lereng Slamet.

Di lereng Slamet pun tak hendak aku berpuisi, padahal beberapa kumpulan puisi sempat saya nikmati. Tahun 1998 sebagai tukang ketik maka banyak kesibukan berkaitan dengan ngutak-atik huruf. Banyak order yang harus saya kerjakan, mulai tugas makalah, laporan keuangan, skripsi, hingga banyak yang kemudian menjadi sahabat.

Memindahkan huruf milik orang lain kadang menjemukan juga, maka sesekali mengekspresikan diri dengan nuansa asal keluar huruf, maka banyaklah puisi-puisi gelap yang kadang saya sendiri tak mengerti apa yang kumaksudkan.

Tahun 1999 saya nekad membuat sebuah cerpen dan lebih nekad lagi mengirimkan ke redaksi Koran local, hanya beberapa hari kemudian nongollah sebuah judul Rumpun Padi. Tak banyak saya menghasilkan cerpen, apalagi sampai masuk media massa. Matahari Tergadai adalah kenekatan ku yang lain, tanpa pertimbangan apapun saya serahkan naskah ke kantor pos untuk dikirimkan ke majalah islami remaja. Saya sudah lupa kalau pernah mengirimkan naskah, tiba-tiba ada teman yang memberitahu kalau naskahku nongol di Annida dan kemudian dibukukan bersama dalam Fiksi Limabelas Penulis (Bundo sudah tamat membacanya).

Kok cerpen sih, puisinya mana?

Tak ada puisi yang nyangkut di media massa. Bahkan sempat ada keinginan untuk tidak lagi menulis puisi setelah mengenal penulis top yang pernah dinobatkan sebagai salah satu sastrawan angkatan 2000, Mbak Helvy Tiana Rosa, waktu itu ketua Umum FLP Pusat, saat memenuhi undangan saya sempat mengatakan buatlah tulisan yang memberikan makna pada orang yang membacanya. Saya rasa puisi-puisi saya malah bikin orang bingung, maka saya hentikan saja.

Tapi sayang juga kalau saya berhenti, tapi tak ada prasasti, maka saya pilih yang masih mungkin bisa dinikmati saya serahkan ke tukang fotokopy untuk dijilid.

Ada satu lagi tokoh nasional yang sangat mempengaruhi puisi-puisi saya terutama akhir-akhir ini, beliau adalah penyair senior Taufiq Ismail yang pernah meninggalkan pesan untuk saya agar membahasakan ilmu-ilmu biologi saya dalam puisi-puisi saya, maka sobat bisa dapatkan Laron, Lupa Membalas Cinta.

Ikrar itu memang harus saya cabut, setelah bergeser lagi mendekati lereng Cermai, saya mengenal blog dan ada kegamangan apa yang harus saya sajikan untuk narablog. Maka untuk memantapkan langkah saya menuliskan Mencabut Ikrar. Dan sejak saat itu saya ambil kumpulan puisi lawas dan kadang-kadang yang anyar untuk memenuhi koridor perpuisian saya, entah bermakna entah tidak. Setidaknya ada dukungan Mbak Rindu (sayangnya sekarang sedang hiatus): cabutlah bila itu bisa membuat mas bahagia, dan biarkan semua yang kita miliki terbang bersama sayap malam. Atau Pak Doelsoehono: mas saya sependapat dengan mbak Ridu ….cabutlah bila itu akan membuat engkau bahagia ….tukang puisi satu kata banyak maknanya ..Makasih

Katanya mau membicarakan ketika berpuisi, ah biarlah lain waktu saja, sementara cukup sampai disini.

49 comments on “Ketika Aku Berpuisi (Bukan Tutorial)

  1. halooo ikutan lewat nih salam kenal?
    —===—-\
    hati-hati lho

  2. halooo salam kenal ikutan lewat niih?
    —===—–
    salam kenal juga

  3. apalah itu, janganlah kau bunuh dia
    biarlah ia berlari dan mengeja maknanya sendiri

    (tetap semangat ya pak Narno)
    —–====—–
    tidak ada pembunuhan kok, semuanya berjalan apa adanya

  4. Saya suka puisi. dimulai dari hobi dan kemudian sampe bisa ikutan lomba baca puisi sejak SD (PORSENI). 😀

    Salam kang. Sehat bukan? 🙂
    —===–
    alhamdulillah sehat

  5. walau bukan penikmat puisi sejati, tapi saya yakin ada suatu kenikmatan tersendiri dalam menyampaikan untaian kata indah dalam sebuah bait …
    —-====—–
    sangat nikmat

  6. wah…. klo puisi saya tidak bisa memberi penilaian karena juga ga’tahu apa-apa tapi klo cerpen saya menyukainya sejak sma, pengalaman 7 tahun membaca cerpen
    —===—-
    7 tahun itu sangat lama, kenapa hanya jadi penikmat saja sesekali menulis

  7. wewkwkwk…
    puisi oh puisi…puisi tinggal mimpi …diganti cerita cerpen hehehe
    —-===—-
    silahkan digonta ganti sesuka hati

  8. teruslah berpuisi………
    meskipun tdk dimuat di media masa, pasti puisinya akan dinikmati pembaca blog ini………… 😀
    —===—-
    itulah yang selama ini terjadi

  9. Kang bikinkan puisi tentang ban atuh…
    —===—-
    maaf Kang, untuk pemesanan puisi saya tidak bisa menyanggupi, beda dengan artikel

  10. berbakat nih mas sunarnosahlan..
    kembangkan, biar orang-orang menikmatinya deh…
    hehe
    —-===—-
    karena kebiasaan saja kok

  11. hidup puisilah….!!!
    —===—
    hidup lebih hidup

  12. Sebuah ketrampilan dan kepintaran jangan dibiarkan tanpa wadah mas, sayang sekali kalu panjenengan berhenti berpuisi. Menambah boleh misalnya menulis cerpen, tetapi jangan mengurangi yang sudah ada.

    Panjenengan harus tetap menulis puisi plus karya yang lain. Dijamin jos.

    Salam hangat dari Surabaya
    —-===—-
    puisi, cerpen, artikel, profil tokoh, wawancara, sudah semua Pak De

  13. sungguh puisi yang indah dan bermakna
    Selamat ber akhir pekan buat para sahabat semua semoga happy akhir pekannya dan damai beserta keluarga
    —===—
    Amin

  14. Mas Sunarno memang type mahluk yang romantis dan penuh dengan penghayatan.
    Maaf baru mampir lagi, dan saya tunggu puisi super pendek yang pernah dijanjikan.
    —===—
    romantis? Wah jadi tersipu-sipu, kembang kempis

  15. Baru sempat mampir lagi. Kalau boleh, link blog pak Narno akan sy pasang di blog sy.

    puisi-puisinya selalu menginspirasi.
    —===—-
    dengan senang hati disilahkan

  16. kunjungan perdana nih pak…

    tetep jaga stamina untuk berpuisi…
    —-===—
    puisi itu mengasyikkan, maka saang kalau tidak terjaga

  17. tetap semangat berkarya yah Pak..
    menurut saya karya-karya bapak punya karakter dan ciri tersendiri…
    great!
    —-===—
    karena berkarakter itulah saya teruskan saja

  18. puisi yang penuh makna….,
    —===—
    terima kasih

  19. mas Narno ternyata seorang penulis yang andal, buktinya cerpennya bisa masuk media, sekarang bagaimana dengan puisinya…
    —===—-
    media umumnya sangat pelit menerima puisi

  20. Lanjutkan, Pak. Lebih banyak puisi lebih baik. Saya suka.
    —===—
    memang blog ini sebagian besar puisi, postingan kali inpun kata Pak Karno tetap saja puisi

  21. Lanjutkan, Pak. Lebih banyak kreasi lebih baik.
    —====–
    ya, nanti dilanjutkan

  22. Hujan hanyalah badai
    bagi puisi-puisi di pasir
    Rintiknya kan menghapus makna
    Derasnya mmusnahkan dahaga

    Wahai pujangga sunarno sahlan, Jangan titipkan rindumu pada bunga atau pepohonan yang rapuh
    Karena suatu saat daun-daunnya akan gugur, dan
    Harumnya akan hilang begitu saja

    Titiplah setiap rasa pada puisi ….

    Ade a.k.a RINDU
    —===—–
    terima kasih Mbak atas supportnya

  23. kata yang penuh makna jika itu disingkap.. 🙂
    —===—-
    silahkan disingkap

  24. tidak mudah dlam membuat puisi, karena di perlukan ketenangan jiwa dan pemikiran yang kuat..salut buat bapak..yang sangat puitis…salam selalu…

    —-===—–
    terima kasih dan salam kembali

  25. Puisi=kata terangkai.
    anpa kita sadari, kata2 yang kita ucapkan tiap hari juga merupakan puisi..
    Cuma beda logat :mrgreen:
    —===—-
    bedanya tulisan dengan lisan

  26. konon ketika bisa membuat puisi maka membuat tulisan lain lebih mudah. Benarkah apa yang dirasakan Pak Narno ?
    —-====—-
    yang saya rasakan juga begitu, nantilah saya ulas tersendiri

  27. Indahnya tulisan kita untuk semua ya…
    —-===—-
    semua ya semua

  28. hmm puisi itu emang kadang absurb mas, tertuang begitu aja sesuai dg mood yg ada.. saya beberpakali buat puisi yg kadang ga semua org ngerti maknanya apa, but it’s ok… 😀

    btw, salam kenal ya… 🙂
    —===—–
    itulah yang menyebabkan saya pernah berhenti berpuisi

  29. Terkadang…banyak yg memang harus tertulis..terangkai dalam satu alunan syair….tetaplah semangat mas…ayo berkarya lagi 🙂
    —===—-
    semangat itu selalu kujaga

  30. Rangkai saja nyanyian dihati bila itu bisa membuatmu selalu tersenyum….lukiskan saja duka yang terpendam bila itu bisa sedikit mengikis beban…jangan pendam dan jangan sungkan untuk mengukir kembali goresan-goresan tinta di atas kanvas putih… 🙂
    —===—
    tersenyum untuk diajeng

  31. kunjungan pertama ne mas…sambil baca curhatan tentang yang punya blog tentang puisi lawasnya…
    —==—-
    sambil mengingat-ingat masa lalu

  32. untuk bunda yang kurang mengerti puisi, tulisan2 disini bagi bunda semua itu adalah puisi yang Mas Narno persembahkan utk kami, para pembacanya.
    terima kasih Mas telah membuat bunda sedikit mengerti ttg puisi.
    salam.
    ——===—–
    sama-sama Bunda, saya juga terima kasih sering di tengok Bunda

  33. sebuah upaya saya kira dilakukan Mas Narno untuk menjadikan blog bermanfaat, menjadikannya lebih fokus dll.
    mantap nih.
    —===—-
    itu maksudnya Mas

  34. membayangkan bagaimana jika aku berada di antara Bapak Taufiq Ismail dan Bapak Sunarno Sahlan ketika itu.. apakah pesan yang akan mereka sampaikan untukku?

  35. lagi membayangkan bagaimana jika aku berada di antara Bapak Taufiq Ismail dan Bapak Sunarno Sahlan ketika itu.. apakah pesan yang akan mereka sampaikan untukku?
    —===—
    maka ilmu tentang gigi haruslah menjadi bahasa puisimu, Pak Taufiq Ismail kan dokter juga, maka beliau menulis tuhan 9 centi

  36. wahhh ,,, iya mas kangen berat neh sama mbak rindu yg lagi hiatus, hee. dari dulu kutu juga suka bikin puisi (tp klo cerpen entah knapa terlalu malas buat bikin), pernah ikutan lomba juga di sekolah tp sayang kalah di babak pertama, hee …

    Tp kutu gak patah semangat koq, kutu hanya melakukan apa yang kutu suka selama itu gak mengganggu orang lain, titik. ^^
    —===—
    karena puisi lebih singkat, sekali duduk selesai

  37. bingung saya om mau komen apa . saya kasih jempol aja ya (Y) :mrgreen:
    —===—
    itu juga komen

  38. wah tadi udah koment panjang pake basa puisi kok ga ada ya.

    akhir akhir ini aku lagi macet nulisnya pak, jadi postingan itu dah lama ku publish saja.

    abis aku nulis keknya pada pening yang baca ya jadinya aku tidak nulis dulu untuk sementara walau tetap ada post
    —-===—
    itu perasaannya saja kali

  39. hmmm mau ngomentari apa ya ???????
    —===—-
    sesukanya saja

  40. yang paling susah pas mau nulis (puisi/artikel/cerpen) tuh kalo saya rasa pas memulainya ya pak??
    —-===—-
    masalah paling umum bagi para penulis

  41. Penyair kelas atas niyh! 😀
    Truzlah membuahkan karya yapz!
    —===—-
    saya sudah tak punya kelas Mas, belum ada ongkos untuk sekolah lagi

  42. Berkreasilah sebisa kita untuk membangun peradaban dalam tulisan yang bermanfaat….
    —-==—–
    siap, melaju dengan tulisan membangun peradaban

  43. Saya kalo kepingin baca puisi 😛
    Langsung disini tempatnya
    Semangat
    —===—-
    siiiiip Kang

  44. artikel ini sebenarnya juga serpihan2 puisi pak narno yg terangkai jd kalimat panjang, bukan? 🙂
    —===—-
    ketahuan juga, Pak Karno memang mudah tahu dibalik yang dimau

  45. puisi salah satu cara untuk meluapkan uneg uneg kita yang tidak berani kita sampaikan secara gamblang, jadi semua orang saya yakin bisa berpuisi
    —===—-
    pengakuan jujur nih, puisinya sebagai tempat penyampaian maksud terselubung

  46. puisinya tetap di tunggu loh…. (satu kata bisa berarti banyak, apalagi sebait puisi). ajarin aku mas….
    —===—-
    wah say jadi malu nih, senior mau belajar ke yunior

  47. Salam puisi pokoknamah 🙂
    —–====—–

    pokoknah boleh sajah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: