63 Komentar

Ketika Aku Berpuisi 2 (Sungguh Bukan Tutorial)

Rasanya tak enak jika tak berbagi dengan para sahabat tentang berpuisi. Banyak sobat yang mengapresiasi sangat positif tentang puisiku  kenapa pula aku tetap bersembunyi dengan kedok: satu puisi seribu arti. Meskipun postingan kali ini saya yakin takkan memuaskan keingintahuan sobat narablog tentang ada apa dibalik puisi-puisiku.

Berpuisi itu mengasyikkan, melepaskan penat jiwa. Ketegangan otot-totot syaraf mengendur dengan mengalirkannya menjadi sebuah puisi. Secara teori akupun tak tahu seperti apa batasan puisi yang baik itu. Maka aku tak pernah merancang sebuah puisi haruslah berirama misalkan vocal belakangnya harus huruf yang sama, kalaupun pernah ada hanyalah kebetulan semata. Atau pula jumlah bait yang harus kutuliskan, aku tak peduli semua itu. Apalagi jumlah baris dalam bait, tak pernah ada pola yang pasti. Bahkan ada yang hanya berisi tiga baris sudah selesai sebuah puisi, atau sangat panjang ada satu bait yang hanya berisi satu baris.

Menyimpangkah puisi-puisiku?

Aku tak peduli teori, karena memang sangat sulit mencari tutorial menulis puisi. Maka apa yang ada dalam aliran hati itulah puisi. Biarlah mengalir tak usah diatur jumlah baris, jumlah bait. Jika hanya tiga baris berhenti ya berarti puisi itu tiga baris, jika satu halaman penuh ya itu puisi satu halaman penuh.

Untuk menuliskan sebuah puisi tak harus merenung panjang sehari semalam, tidak pula tekun di depan internet atau bolak-balik buku, apalagi kamus, hal yang sangat jarang saya lakukan.

Ketika aku berpuisi, saat itulah ada lintasan kalimat-kalimat yang mengalir pelan-pelan meminta jalan yang merangsang jari jemari untuk menggoreskan huruf demi huruf. Tak peduli topik yang diangkat hal yang baru ataukah justru sudah sangat lekat dalam keseharian. Atau pula tiba-tiba saja ide itu muncul saat itu dan langsung menjadi sebuah puisi.

Sebagai perbandingan ketika kutulis sepotong doa, itu sangat spontan, ini kisah saat menjelang akhir kuliah, detik-detik masa ujian konprehensip (pendadaran) ada seorang sahabat yang menyampaikan dukungannya berupa doa semoga aku tak perlu ujian dua kali. Hal yang sangat wajar sebenarnya, antar sahabat saling mendoakan, tapi bagiku ketika hal ini sudah menyentuh rasa kepuisianku yang biasa bisa juga jadi puisi, sebaliknya yang luar bisa belum tentu bisa jadi puisi. Tiga baris spontan mengalir.

Sebaliknya yang sama-sama tiga baris, Laron, adalah sudah kukenal sejak belum mengenal puisi, bahkan jauh sebelum saya bisa baca tulis, karena jika musimnya setiap pagi aku menunggu sarang laron untuk menangkapnya, jika sudah dapat satu kantung plastik baru pulang dan siap pergi ke sekolah. Tapi ide untuk menjadikan puisi itu baru muncul ketika sehabis jamaah isya di masjid di usiaku yang sudah lebih dari 30 tahun. Saat mau beranjak pulang melihat laron sudah tanpa sayap merayap dua-dua. Maka ide itu menelusup mengalir. Jadilah sebuah puisi yang singkat.

Mengenai makna yang ada dibalik puisi, kutegaskan bahwa apapun itu sudah menjadi bahasa publik sehingga siapa saja yang membacanya sah untuk melekatkan makna, tak harus mengetahui betul apa yang kuhadapi ketika menuliskan puisi itu.

Puisiku bukan termasuk puisi yang enak diperdengarkan, kata Pak Dharmadi penyair yang tak pernah mau membaca puisi, bahkan tipe puisi ku dan beliau adalah tipe puisi kamar, yang hanya untuk diresapi bukan untuk dibaca di depan publik, apalagi untuk mengobarkan semangat. Jadi puisiku tak bakalan laku untuk para demontsran. Berbeda dengan puisi Pak Taufiq Ismail atau almarhum Rendra yang memang sangat cocok untuk dibacakan.

Mohon maaf saya tak bisa menyiapkan tutorial untuk berpuisi.

Iklan

Comment navigation

Newer Comments →

63 comments on “Ketika Aku Berpuisi 2 (Sungguh Bukan Tutorial)

  1. Saya suka sekali Blog ini, tapi belum pernah meninggalkan jejak disini… :mrgreen:
    dan tulisan ini membuat saya tidak tahan untuk meninggalkan jejak disini…
    terimakasih tulisanya Pak… 🙂

    salam saya
    —–=====———-
    terima kasih atas apresiasi terhadap blog ini dan terima kasih pula telah meninggalkan jejak sehingga ada jalan bagiku untuk berkunjung pula

  2. Saya maafkan, Pak. Ga ada tutorial juga ga pa-pa. Mau berbagi, itu yang penting hehehe
    —===—-
    mencari tutorial tentang penulisan puisi itu sangat sulit, bahkan sampai saat ini sayapun masih mencari-cari

  3. kebetulan penelitian saya tentang puisi pak, jadi beberapa hari ini saya selalu menggeluti dunia puisi (dalam ranah teori). dan hasilnya malah tambah puyeng… 😀

    intinya, nulis puisi nggak perlu pake teori, tapi kalo meneliti puisi barulah teori itu wajib ada. 😉

    jadi, bersyukurlah bagi anda yg merasa penulis puisi. dan selamat berpuyeng ria bagi anda peneliti puisi…. 🙂
    —===—
    yang paling nyantai ya penulis puisi karena dialah yang menyibukkan orang lain, pembaca sibuk melekatkan makna, peneliti lebih puyeng mengait-ngaitkan dengan teori, dipas-paskan, begitu kan Mas?

  4. bahkan paragraf di atas saja seperti puisi, pak. mantaap. :mrgreen:
    —==—
    begitu ya, terima kasih atas apresiasinya

  5. mantap Pak.
    Puisi sudah menjadi ciri khas dan jati diri blog Bapak.
    saya salut untuk konsistensinya Pak. semoga saya bisa belajar dari Bapak.
    —===—–
    hanya mencoba untuk sedikit bisa, ke depannya entah masih bisa entah tidak

  6. dari sekian banyak posting, menurut bapak kira-kira berapa persen yang dikomentari pak? apa 100%?
    —===—
    kalau berapa persen saya tak bisa jawab, karena belum pernah menghitung secara matematis yang sesungguhnya

  7. Puisi memang Indah Pak..penuh syarat dan makna…ternyata membuat puisi nggak mudah heee
    saya nyoba 1 kali membuat aja cuapeknya bukan main memang nggak ada bakat saya bikin puisi heee….
    —===—-
    kalau baru satu kali itu belum apa-apa, belum puluhan kali kan, tak ada kata menyerah jika ingin bisa

  8. sepakat dengan tulisan ini. puisi saya malah ndak masuk kategori manapun, ndak berdasar teori apapun. cuma asal nulis aja. hehehe….

    🙂
    —===—-
    ya, dan kita lebih nyantai ketika menggoreskannya, karena tidak khawatir disalahkan

  9. mas narno
    mana puisinyaaa?
    —===—-
    bentar Yul belum ada ide

  10. Puisi… Tak semua orang bisa mengutarakan isi hatinya dalam sebuah baris-baris puisi. Padahal puisi tak harus begini, atau begitu… Puisi memberi kita ruang merdeka untuk berekspresi…

    Salam kenal Mas… 🙂
    —===—
    ekspresikan jiwa begitu ya
    salam kenal juga

  11. aku tak tahu apa yang harus ku katakan tentang sajakmu, tp aku sangat menikmatinya
    —===—
    itupun cukup bagiku

  12. setiap orang punya cita rasa sendiri dalam membuat dan membaca puisi…bagi saya pribadi, puisi yang indah itu adalah puisi yang ketika saya baca begitu menyentuh perasaan saya…barangkali itu karena sesuai dengan apa yang saya rasakan saat itu yaaa
    —===—–
    saya tak pernah memperhitungkan bagaimana perasaan pembaca ketika membaca puisi saya, ketika menulis bahkan tak ingat puisi ini untuk dibaca siapa

  13. waduh….
    saia gak terlalu ahli dlm menulis puisi, pak….
    jd bingung mau kasih saran apa…..hehehe

    puisi kan curahan hati dan untuk dinikmati…
    jadi, gak masalah kalo gak ngikutin rumus2 yg ada dlm menulis puisi… 🙂
    —==—-
    rumus ada karena diada-adakan, jadi kita bisa buat rumusan yang baru

Comment navigation

Newer Comments →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: