72 Komentar

DI BATAS URUNG

“Benarkah kau akan…?”

Pertanyaan yang tak pernah usai. Seribu tanya tak beranjak. Menyangsikan tekad yang memuncak. Meragukan langkah yang telah kuputuskan. Salahkah aku hendak membentangkan layar menata masa depanku sendiri. Haruskah aku menarik kembali biduk yang belum juga mengenal lautan?

“Benarkah kau akan…?”

Sepenggal tanya menggantung disudut bibir. Kembali mengendap tak tentu jawab. Tak bolehkah bila aku ingin menegak kembali luka yang tinggal puing. Merajut sisa-sisa ketegaran, menguatkan keinginan. Jeda waktu telah melepas jarak, namun tak juga mongering nanah. Angin hanya mengirimkan serangkum cibiran desah. Sebait luka yang dulu nganga tercipta karena tak memandang realitas. Salahkah bila aku ingin membangun kembali catatan mimpi menjadi sebongkah keniscayaan.

“Ya, memang demikian.”

“Jangan lupa, satu keputusan ini dibawa mati.”

Emak mempertanyakan kepastian. Menegak bahtera bukan barang mainan, yang tak suka gampang ditinggalkan. Sekali mencoba, gagal, membekas sepanjang hayat. Tidak mustahil melahirkan kesendirian berkepanjangan. Ketidakpedulian serta keterasingan terhadap diri menjadi deraan justru tak terelakkan. Logika tak sanggup menjawab kata definisi. Hitungan matematis tak mampu memberikan jaminan kelanggengan, bila tanpa bahasa yang padu. Nahkhoda memang benar penentu arah, namun tak boleh seenaknya mengendalikan kemudi. Ada tanggung jawab yang harus dijaga. Ada kehormatan yang tak boleh dianggap enteng. Emak akhirnya menyatakan kesepakatan. Satu kelegaan menyelinap.

Alasan sederhana cukup membulatkan keinginan. Melabuhkan ketidakpastian menjadi pendar-pendar keniscayaan. Melanggengkan pohon sejarah kehidupan itu sendiri. Membagi duka bahgia bersama. Melengkapi nurani yang baru setengah kumiliki.

“Sesederhana itukah?”

Aku sendiri tergeragap. Benarkah sesederhana itu? Tak adakah alasan lain yang lebih nyata? Bukankah kata emak tidak sesederhana penjelasan angka-angka matematis. Bukan laiknya saputan hitam atau putih. Tidak pula setajam perbedaan siang dengan malam. Ada guratan pelangi yang kumpulan kata belum tentu sanggup menjabarkan menjadi sepenggal makna. Jadi…

“Tidak! Ada hal yang tak sanggup terpetakan dalam deretan kata” aku melirih gumam selandai tenang aliran sungai. “Sebagaimana kita tidak bias mengenali hari esok sebelum kita sendiri menitinya.”

Tetangga kiri, kanan, tidak hanya itu, kerabat seberang saling menaut heran. Langkah yang kuambil dianggap sebuah ketergesaan. Begitu cepat, tanpa  membawa bahasa perkenalan, tanpa permulaan bilangan tahunan. Lebih memperturutkan darah muda.

* * *

Sekali ingin kucoba menegak bahtera, belum juga melepas sauh, badai memusing mempertanyakan bekal yang harus aku bawa. Bukan sekedar angka-angka dalam pendapatan akhir bulan, lebih kalimat atas nama nenek moyang. Emak pasti menggugat kata sepakat yang ditetapkan. Darah nenek moyang tak mesti diterima alirannya mentah-mentah. Yang memberati langkah ditnggalkan syaratnya tanpa menelikung syariat. Aku merasai kelimpungan. Pijakan mana yang musti aku pegang?

“Ini syarat” tandasnya ketika itu.

Ini bukan keinginanmu, aku tahu itu dan aku memahaminya. Lagu yang telah menadi dalam desah irama pesisiran. Haruskah selalu diturut? Ada kerabatmu yang mengusik. Mementahkan kembali kesepakatan yang tinggal meniti waktu. Harus mengulang langkah seirama bahasa kehormatan katanya. Sama artinya kembali ke titik nol. Aku tak lagi mengerti, bahasa negosiasiku tak sanggup mengurai kalimat itu.

“Bukan syariat kan?” aku mencoba bertahan bersama langgam kesederhanaan. Lagu yang tak lagi asing dalam desah nafasku.

“Maksudnya?”

“Syariat tak mengharuskan bukan?”

“Tak ada urusan dengan syariat. Ini sebuah kelaziman. Masyarakat memandangnya dari hal demikian!”

“Pandang memandang hanya suatu kelaziman, tanpa dasar syariat, haruskah selalu dijunjung di atas kepala? Tak bisakah barang kita menenggang. Bukankah kita diajarkan falsafah kesederhanaan?”

“Syariat yang mana?”

Sayang, aku tak hendak mempertentangkan syariat dengan syarat. Toh, tak ada artinya. Hampir dipastikan tak mendapatkan titik temu musti sudah diupayakan seiringan. Kita berpijak pada logika yang berbeda.

“Ini sudah menenggang, ada beberapa hal yang kami rela ditiadakan. Bukankah itu suatu bukti kami telah menenggang? Tidak hanya mau menang sendiri bukan?”

“Aku takk lagi paham. Kelaziman bisa menyamai syariat, bahkan mengatasinya.”

“Ini benar-benar sudah diluar kelaziman. Betapa memalukannya, seolah kami tak lagi punya harga. Muka kami mau dikemanakan?”

“Aku tak bermaksud untuk…”

“Kalau tidak siap, jangan dipaksakan. Tunda saja dulu.”

Ditunda? Lantas kalimat apa yang telah menjadi kata pengikat tempo hari. Begitu gampangnya dimentahkan oleh sepenggal kata atas nama seirama kelaziman. Apa artinya penantian merambatnya waktu? Haruskah demikian laku menyiapkan menegak bahtera? Aku nyata-nyata memerah muka. Ingin rasanya muntahkan semua tekanan itu. Ya, ingin kulayani tiap penggal kata dengan kalimat baru. Ia bilang kecewa, sekeluarga serasa ditampar muka. Lalu, apa yang dilakukannya kini bukan langkah mencoreng moreng? Namun, akhirnya aku tersadar saling mengungkap ketersinggungan hanya akan menyeret persoalan kian menegang benang tak terurai. Mempertegas jurang ketidakpastian. Dimanapun usai peperangan hanya akan menyisakan kengerian atas luka dan puing-puing yang poranda.

* * *

“Aku batalkan saja” tukasku melandai air sungai nyaris tanpa ekspresi.

Mungkin kau anggap aku main-main, bercanda, hanya akal-akalan menghembuskan badai baru mencari posisi tawar. Mengulur-ulur kesepakatan. Tidak. Aku mantap sudah. Aku tak sedang melakukan penawaran apapun. Tak peduli dianggap surut langkah membunuh kehidupan itu sendiri. Bayangan biduk tak nyaman mengendap pekat. Tuntutan demi tuntutan, keinginan seiring menggelincirnya waktu tak mungkin dielakkan. Nilai optimal catatan dalam slip akhir bulan yang tak pernah pasti, belum lagi status social. Aku hanya seorang seniman pinggiran yang nyaris tak pernah dipertimbangkan orang. Mungkin tidak darimu. Tapi siapa jamin ini bukan awal beratnya laut membadai. Lelah mengayuh tanpa jelas alur. Kemudi yang belum mengarah telah dipatah badai. Bisa-bisa ditertawakan angin. Dicibir kecipak ombak.

Maka, salahkah bila aku menggulung kembali layar hanya karena masih mendermaga. Keputusan gila macam apa yang telah aku lakukan, itukah yang akan kau gugatkan pada malam itu. Tak bolehkah bila aku ingin merajut kembali nukilan bahgia yang telah terenggut sebelum sempat kucecap. Atau haruskah aku mempertahankan biduk meski badai nyata-nyata mengendus dermaga. Ah, tidak. Kurasa ini bukan suatu dosa. Hanya sekelumit ketidaklaziman, yang sekali lagi, hidupku bukan memperturutkan kelaziman.

Apa makna kegagalan ini?

Kujejakkan kembali batas pengembaraan. Kubiarkan segenap memori tentang keputusanku melangkah mundur. Menelaah kembali, meniti satu persatu tikaman peristiwa. Mengeja kembali susunan abjad yang bermakna kegagalan menjejagi negeri asing yang pernah kurenda bersama mimpi. Saat ini, kenyataan itu menikam perih.

“Tersaruk kerikil-kerikil adalah keniscayaan perjalanan.” Hiburku atas kecewa yang memeras segenak rasa. Belum genap hitungan bulan keputusan mengarungi samudra disergap badai. Biduk masih mendermaga harus juga menggulung layar. Kaki belum juga melangkah sudah tersaruk. Menggores luka. Nyata aku tak sanggup mengokohkan langkah. Bagaimana mungkin aku sanggup menegak langkah jika belum mendongak, sudah dilecut petir kesangsian. Salahkah pijakanku tentang kesederhaan? Tak layakkah aku membangun biduk bermodalkan segenggam saling kepercayaan?

“Hanya saja setajam apakah kerikil itu?”

Kusaput luka yang mengoreng nanah. Kubasuh dengan sejuk embun pagi. Menegak kembali kata-kata emak tentang hitungan matematis bukan garansi kelanggengan, selain direkati bahasa yang padu. Benar, baru kurasai kini bahasa padu itu tak sempat kurangkai. Tergadai sebelum hutang masa depan ditetapkan. Mimpi saja terhempas, lagi-lagi masih di dermaga. Tergores kerikil yang tak pernah masuk hitungan.

* * *

Salahkah keputusanku dulu? Keputusanku kini? Kutimang ayunan langkahku sendiri. Jejak-jejaknya kueja kembali dalam diam. Menyuruk ke kedalaman hati. Bercermin pada diri mempertanyakan kejernihannya. Menata serpihan-serpihan kesangsian, dorongan atas keputusanku menegak bahtera yang akhirnya menggulung kembali layer. Titik terang itu masih saja memekat baying-bayang.

“Benarkah kau akan…?”

Kata tanya itu tetap saja tak pernah usai. Tidak hanya satu mulut, berpuluh bahkan beribu mulut satu tanya. Kini, aku mengulum nyeri di sudut bibir. Mereka tidak salah, meski menyayat tajam. Entah ketergesaan ketika menentukan langkah, mungkin keangkuhan mengambil sikap yang telah memurukkan diri dalam deraan nestapa. Kejernihan hati sendiri tak lagi kudapati. Hanya kalimat luka yang nanah melengkapi ngerinya lecutan masa lalu. Tak ada lagi gumaman lirih, selain membatu bisu. Tegur sapa serasa cibiran kekalahan. Cemburu atas bahgia yang lain menyita sebagian besar kesadaran.

“Mengapa diriku tidak seperti  mereka? Tak bolehkah aku menikmati sepenggal bahgia?”

Pertanyaan itu hanya kian mempertajam keluh, melengkapi keterasingan. Demi melihat wajah-wajah mungil penuh ceria mencandai kehidupannya. Ingin rasanya memeras air mata hingga tuntas segala rasa, lepas segala beban. Tapi, layakkah aku menuangkan air mata untuk kandasnya sebuah harapan masa depan? Aku tak lagi paham bahasa air mata sejak tamparan kehidupan memarginalkan kesederhaan, karena aku tidak tahu bagaimana harus menangis, bagaimana caranya menangis, untuk apa menangis. Tangis itu sendiri telah mongering bersama membirunya tekad.

“Jangan lupa, satu keputusan ini dibawa mati.”

Keputusanku dulu, keputusanku kini, membelit keterasingan. Emak, bahasa apa lagi yang dapat menetaskan beribu maaf. Membalut selaksa luka hingga tanpa garis alur bekas bopeng. Membebaskan dari ketidaknyamanan pergaulan. Menerima kenyataan tanpa harus memeram sembilu dendam. Agar tak membusuk jadi kecewa.

* * *

Kusadari kini, kita dibesarkan di alam yang tak seiring sejalan.

Purwokerto, Nopember 2002.

Iklan

Comment navigation

Newer Comments →

72 comments on “DI BATAS URUNG

  1. Cerpen yang berpuisi. Padanan katanya tepat dan menarik. Menjadi sebuah cerita yg utuh dan menyiratkan makna dalam.
    Salam kenal mas…:)
    ———————-=============———————
    salam kenal juga, terima kasih atas apresiasinya

  2. keren yaw cerita dan kata2na indahh

    berkunjung di pagi hari
    —===—-
    terimakasih atas kunjungannya

  3. Indah mas
    Pengungkapan yang indah
    Rasa
    Cara
    ohhh
    —===—-
    terima kasih atas apresiasinya

  4. Dibatas Urung = Tiada Batas ?
    Pengertian saya seperti itu Mas, kalaupun salah mohon dimaklumi.
    Karena kepalaku masih mumet, sisa-sisa pil kina masih tertanam disana…
    —-===—-
    yang saya maksudkan batas antara lanjut atau mundur (urung = batal)

  5. sepakat sekali dengan pendapat uda Vizon,….niru ndot com 😆
    —-===—–
    pendapat tak harus beda, jadi sependapat juga boleh

  6. setiap akau berkunjung ke sini, sulit rasanya membalasnya dengan kata2 yang indah Mas Narno…

    Mantaaaap 😆
    —===—
    tak mengapa mas, yang penting ada tanda bahwa Mas Badruz telah mengunjungiku

  7. pak, tahu buku photoshop yang cover depannya cewek gak?
    aku cari-cari gak ada.
    ilustrasi itu kisah putri bapak ya?
    aku kira resensi buku
    —===—–
    tentang photoshop saya tidak paham, kurang berminat
    ilustrasi yang dimaksud mana?

  8. Ass.wr.wb,

    Sungguh tulisan yg indah. Kata demi kata mengalir bak air sungai jernih nan sejuk.

    Berkunjung pertama kali kesini. Jabat erat persahabatan.

    Salam,
    —-====—–
    silahkan sering-sering kemari, banyak bacaan yang semoga mencerahkan

  9. salam kenal pak:) mohon kunjungannya eke blog aya dan komentar di setiap possssssssting saya.. heheh nice
    🙂
    —===—-
    yayayaya nanti diusahakan

  10. Menanamkan keyakinan bahwa bahtera yang akan berlayar pasti akan sampai pada tujuan yang hakiki sejak dini sehingga keputusan mengarungi bahtera bukan keputusan tergesa2….
    —===—-
    terima kasih telah berbagi

  11. komen saya kok hilang ya
    —====—-
    nggak kok, tidak ada yang hilang

  12. mampir nih, salam kenal ya (_ _)
    —-====—–
    silahkan nikmati tulisan yang ada

  13. singgah hanya untuk menebar harapan agar semua sahabat sehat dan bahagia selalu di akhir pekan ini

    salam hangat
    —-===—-
    terima kasih atas goresan huruf yang ditinggalkan, semoga memberikan manfaat bagi kita semua

  14. Banyak yang sudah sepakat, mengayuh bahtera…tapi karena suatu hal, layar kembali tergulung. Nahkoda yang baik, tidak hanya mengatur bahtera saja, tapi berusaha menjaga bahtera itu dari terpaan badai dan hempasan ombak….
    —===—-
    karena tak yakin akan sanggup menjaga bahtera dari terpaan badai dan hembasan ombak dan demi kebaikan bersama maka bisa jadi menggulung layar adalah keputusan yang layak dipertimbangkan

  15. Selamat pagi Mas Narno……… Saya terhanyut dengan kalimat2 philosofis yang tertuang, hanya saja sulit sekali mencerna arti sesungguhnya di balik tulisan ini, di pagi buta yang masih gelap…

    Selamat berhari minggu, semoga keadaan Mas Narno dan keluarga sehat wal afiat…
    —-====—-
    terima kasih atas goresan yang ditinggalkan, terima kasih pula atas doanya, semoga Akang juga dalam keadaan sehat wal afiat

  16. nikmat betul membaca untaian kata-kata indah yang terangkai dalam posting berjudul “Di Batas Urung” ini,,,
    meskipun saya tak mampu mengungkap misteri dari sepengggal kalimat “Benarkah kau akan…?”…

    terima kasih telah menyanyikan tulisan yang begitu nikmat untuk dimaknai,,,

    Salam Hangat Selalu,
    AbulaMedia.com
    –===—-
    saya juga berterima kasih telah dikunjungi dan ditinggali sepenggal kesan yang menyejukkan

  17. numpang lewat
    mau baca cerpennya 😀
    —===—–
    silahkan

  18. mas aku lagi dapet peer bikin cerpen nih
    *puyeng
    —===—-
    tulis saja seperti apa yang ada dibenak

  19. Mampir aja ni buat baca2 karya indah ni,tapi sayang ni ggak bisa ksh kmentar ni,karna kesulitan mau kment apa ya? 🙂
    Berkungjung ni di blog sahabat 🙂
    Kali aja dapet kungjungan balik 😀
    —==—-
    kunjungannya dengan sedikit meninggalkan jejak huruf sudah cukup

  20. numpang mampir,, baca2..
    —===—
    silahkan

  21. pak, indah sekali sastra yang disajikan dalam tulisan ini… aku jadi ingat tulisan cerpen/sastra setiap minggu di salah satu media/koran nasional Indonesia yang sering kubaca.
    karena bahasanya yang ‘tidak lazim’ membuat kita meraba2, apa siy maknanya? begitu…

    yang kutangkap dari tulisan bapak sepertinya mengarah pada perbedaan pemikiran antara ibu/keluarga/tradisi dengan pemikiran anak yang melandaskan syariat untuk memulai biduk rumah tangga.

    tapi seperti biasanya, aku tak berani menilai. hanya bapak yang tahu makna secara ‘bahasa lazim’nya…

    nice sharing ^^
    —===—–
    Yani bolehlah mengartikan seperti itu, tak mengapa

  22. selamat pagi dan selamat berakhir pekan,,,,
    —===—
    selamat berakhir pekan pula sobat

Comment navigation

Newer Comments →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: