68 Komentar

REALITAS IMAJINATIF

Tak jarang kita temukan, bahkan sudah menjadi menu keseharian kalau kita melihat sinetron, maka di bagian awal atau di bagian akhir ada embel-embel kisah ini fiktif belaka, bila ada kesamaan nama, tempat,& cerita merupakan suatu ketidaksengajaan. Tulisan special yang sudah tidak special lagi ini banyak pula kita temukan di beberapa buku atau blog.

Bagi saya justru embel-embel ini menjadi menggelikan. Kenapa coba?

Sebenarnya apa tujuannya membuat sebuah karya kalau kemudian ada embel-embel semacam itu?

Beberapa blog yang saya kunjungi (mohon maaf tak bisa menyebutkan satu persatu) diantaranya Kyaine, Om Trainer, Bundo Nakjadimande, Om Vyan, banyak sekali membuat postingan dalam bentuk cerita bahkan para tokohnya adalah riil namun dikemas secara fiktif tak pernah sekalipun mencantumkan embel-embel special itu.

Bagi saya (entah orang lain), kalau tujuannya agar kisah yang kita tuliskan bias memberikan makna bagi orang lain, maka penulisan dalam bentuk kisah akan terasa lebih berkesan tanpa embel-embel bahwa kisah ini fiktif belaka.

Kenapa demikian?

Kalau kita belum-belum sudah disuguhi kalimat bahwa ini fiktif belaka maka yang membacapun akan merasa ada sekat bahwa yang dibaca pastilah hanya khayalan si penulis yang tak mungkin terjadi dalam keseharian, atau tak perlu lah menghubungkan kisah itu dengan kehidupan nyata.

Inilah yang saya sebutkan sebagai realitas imajinatif. Realitas yang diciptakan oleh penulis berdasarkan imajinasi. Bukan sekedar imajinasi kosong, tapi imajinasi yang berdasarkan fakta. Sedikif fakta diolah secara imajinatif agar lebih menarik dan pesan yang ingin kita sampaikan bisa ditangkap oleh pembaca.

Maka kalaupun kemudian banyak yang memaknai puisi dan cerpen saya adalah nyata adanya, saya akui memang saya tulis berdasarkan realitas. Hanya saja apakah itu realitas saya pribadi atau orang lain tak perlu saya sampaikan pada pembaca. Yang jelas saya merasakannya langsung, kalau tidak jelas tak mungkin bisa saya transfer menjadi sebuah karya.

Siapapun boleh berpendapat dan boleh pula tak harus sama dengan pendapat saya.

Comment navigation

Newer Comments →

68 comments on “REALITAS IMAJINATIF

  1. Microsoft Word otomatis mengubah kata “bisa” menjadi “bias”.

    Jadi, hati-hati kalau menulis draft memakai Mcrosoft Word. Nonaktifkan correctionnya atau language nya set kan ke Indonesia.
    ————–============——-
    terima kasih atas pengingatannya

  2. sinetron..o sinetron…menjadi Pe eR bersama gimana membuat sinetron atau tontonan yang lain lebih berbobot dan bermanfaat, karena setidaksukanya bnyk orang masih lbh bnyk yg tetap mengonsumsi karena masih jarangnya alternatif tontonan sejenis yg lebih mendidik.
    ————————=============——————–
    semoga para pembuat sinetron menyadari akan kebutuhan pemirsa bukan memanfaatkan keterbatasan pengetahuan pemirsa

  3. Saya lebih suka kisah yang bisa dipetik pelajarannya
    ————========————–
    saya juga begitu

  4. hee, iya yah … di cerita2 lucu karangan Bundo gak pernah ada embel2 seperti itu, tapi kita bisa lebih membayangkan dan berimajinasi apa sih yg dimaui si penulis.

    Teknik yg menarik, patut dicoba, hee …
    ————-==============———–
    silahkan untuk dicoba sedikit demi sedikit

  5. saya tidak suka sinetron sama sekali, maaf, karena tentunya ada yang lebih mendidik daripada kisah yang berulang kali diputar ulang dengan genre, nama orang, latar, alur yang berbeda tapi tetep menunjukkan ide pemikiran yang sama semenjak jaman jebot dulu kala…
    lantas kalau dikatakan realitas imajinatif sendiri sebenarnya ada yang bisa disetujui dan tidak disetujui, tergantung dari sudut pandang mana kita akan melihat itu sebagai sebuah realitas (Yang Nyata) atau sebagai realitas (Yang Ada)… kalau kita mengatakan bahwa sebuah kisah yang dituliskan dalam blog-blog yang ada tidak mencantumkan tulisan yang dianggap tidak penting itu, maka hal ini berarti kita membicarakan pada tataran “yang ada’ dengan kata lain itu adalah realitas yang diakui keberadaannya. namun memang yang ada tidak selalu nyata. nah di titik ini, saya sependapat dengan mas sahlan bahwa perlu adanya satu sudut pandang bahwa sebuah karya semestinya lahir untuk memberikan pelajaran, bukan sekedar mencantong hal-hal yang tidak berguna bahkan diulang-ulang seperti sinetron kita…. salam

  6. sepertinya emang untuk berkelit mas….biar tidak ada yang menuntut pertanggungjawaban
    —————-============————-
    sepertinya emang begitu

  7. duh, memang banyak membingungkan juga istilah2 di sinetron tv kita ya Mas, itu mungkin salah satu hal yg menyebabkan saya tdk pernah menonton sinetron.
    bagi saya sendiri, selama yg dituliskan atau diceritakan, dapat memberikan hikmah pd pembacanya, ya itulah yg paling pas.
    seperti tiap kali saya membaca disini, selalu mendapatkan hikmah atau sesuatu yg bisa ‘dibawa’ pulang.
    salam
    ————–============————–
    saya inginnya selalu berbagi hikmah Bunda, agar banyak manfaatnya bagi yang membacanya

  8. kalo menurut saya..mau sebenernya diambil kisah nyata ato fiktif, jika ketika membacanya saya menerima kesan ini adalah kisah nyata, maka pesannya akan lebih mengena ke saya, daripada jika saya sudah tau itu kisah fiktif sebelumnya
    ————–============—————–
    inilah yang saya maksudkan, kalau sejak awal dikatakan ini fiktif belaka kan ngawang-awang tak membumi

  9. Membaca ini, saya jadi teringat sebuah aliran sastra yang bernama Realisme Sosialis.
    ————-============————–
    saya malah tidak tahu

  10. mau disuguhi tulisan itu atau tidak ,selama ceritanya bagus sih buat saya gak masalah,yg penting ceritanya mengandung hikmah,toh sebuah cerita untuk diambil hikmahnya kan mas narno?? 😀

    kunjungan pertamax ke blog ini ,ditunggu kehadirannya kalo lagi lewat depan rumah saya mas 🙂

    your friendly blogger next door <— julukan dari om NH :mrgreen:
    —————============—————
    hikmah itulah yang lebih utama, bisakah diambil manfaatnya oleh yang membaca

  11. Saya suka dua-duanya, baik yang real maupun imajinatif. Dua-duanya ada manfaatnya masing-masing.
    ————–============—————-
    saya suka pemaparan realitas yang dibalut dengan imajinasi, terasa lebih menarik

  12. aku paling suka kisah yang asli tidak dibuat buat dan banyak mengambil pelajaran dari beberapa pristiwa
    ————============————-
    sepakat

  13. relitas dan fiksi memang tipis bedanya ya pak, bahkan di depan pengadilan sekalipun
    ————=========————
    kalau di sana sangat susah membedakannya, kembali ke hati nurani sang hakim

  14. Seringkali, justru yang pake embel-embel fiktif itulah yang berdasarkan kisah nyata. Ditulis dari kisah nyata yang ditambal-tambal dan di blur kiri kanan. Nah, supaya yang menjadi cerita tidak marah dan kalaupun marah tetap bisa berkelit dari tuntutan hukum, embel-embel fiktifnya dipasang.
    ————============—————
    itulah hanya untuk berkelit semata

  15. saya ndak suka nonton film atau sinetron yang berdasarkan fiktif belaka. Rasanya kurang nendang pak. Jadi lebih baik yang realistis aja. Atau jika fiktif sekalian seperti film-film luar, kelihatan pak teknologinya. 🙂
    ————–============—————–
    betul Pak, itu pula yang saya rasakan, ceritanya hanya muter-muter saja bahkan tak jelas pesan apa yang bisa kita ambil

Comment navigation

Newer Comments →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: