67 Komentar

Berganti Peran

Ini bukan sandiwara, bukan realitas imajinatif, bukan pula bertukar nasib seperti yang ditayangkan salah satu stasiun TV. Ini sungguh-sungguh terjadi. Dalam satu hari saya harus memerankan diri dalam beberapa babak. Hari kemaren sabtu (15/5) Panitia Milad Yayasan Husnul Khotimah mengundang dua orang media yaitu Bp. Wakhudin dari Pikiran Rakyat dan Bp. Zaenal Muttaqin pendiri majalah Sabili. keduanya kami undang untuk menyampaikan materi seluk beluk kepenulisan.

Inginnya saya menjadi peserta saja, namun keputusan panitia milad sayalah penanggung jawab acara, jadilah saya sebagai panitia. Sebagai penanggung jawab, karena saya tak ingin mengecewakan peserta maka saya juga bertanggung jawab membuat sertifikatnya karena salah satu janji panitia adalah bersertifikat. Jadilah tukang ngeprint sertifikat. Praktis materi kepenulisan tak ada satupun yang bias saya ikuti.

Selepas sholat duhur inginnya istirahat sejenak, oleh teman yang punya rumah makan, diwajibkan bahkan langsung saya ditarik untuk datang ke rumah makannya katanya perlu menemani pembicara makan-makan. Alhamdulillah rizkinya.

Inilah ganti perannya yang kontras, yang paginya ingin menjadi peserta ternyata kebagian tukang ketik, maka siang harinya justru didaulat menjadi pembicara. Gagal jadi peserta dipagi hari kok malah disuruh jadi pembicara siang harinya. Memang sih pesertanya beda, kalau pagi hari pesertanya para guru, sedangkan siang hari pesertanya para siswa.

Adapun yang peran saya sebagai pembicara adalah menayangkan:

Belajar bersama siswa bagaimana membuat sebuah blog.

Comment navigation

Newer Comments →

67 comments on “Berganti Peran

  1. iya. kalau punya banyak ketrampilan, memudahkan melakoni banyak peran. sisi baiknya jadi tidak tergantung sama satu-dua orang tertentu.

    bisa desain, bisa ngemce… wah nanti jadi bener2 andalan. yang penting banyak orang dan temen yang seperti itu dan bisa mengkader adik2nya… kalau nggak ya nanti meninggalkan lubang yang menganga. kan repot juga akhirnyaπŸ™‚
    ——————–===========——————–
    untuk hal-hal tertentu memerlukan minat tersendiri, sehingga perlu waktu untuk kaderisasi

  2. Saya juga jadi tukang ngeprint sertifikat bulan lalu. Tapi nda apa2 pak, yang penting kegiatan lancar dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.
    —————–==============—————–
    alhamdulillah, amin

  3. Maaf,ada huruf yg terlupakan utk ditulis.
    ————-=============———
    tak mengapa

  4. Hebat ya Pak, para siswanya sudah diajarkan membuat blog.
    Di tempat lain, para guru belum tahu apa2 tentang internet.
    ————-==========————-
    sedikit belajar bersama mereka

  5. Salam Takzim
    Bawa kue namanya ongol ongol
    katanya sih dari tanah betawi
    Maap kalau saya jarang nongol
    Karena banyak urusan pribadi
    Salm Takzim Batavusqu
    ————-=============——-
    tak mengapa, yang penting persahabatannya tetap ada

  6. Ayikk yah…. blog memang perlu disosialisasikan khususnya di kalangan Akademik.
    —————=============————–
    mari kita sosialisasikan

  7. salam kenal dari http://aby-umy.blogspot.com/
    kalau ada waktu, mampir ya ke blog saya??πŸ™‚
    ————-==============———–
    akan disempatkan

  8. semangat pak guru
    —————=============————-
    ayo semangat

  9. wah pak guru memang selalu memberi yang terbaik
    —————-==============———–
    alhamdulillah semoga bermanfaat

  10. Yang penting pemegang pemeran utamanya tetap Mas Narno.
    —————==============—————-
    saya malah tidak tahu pemeran utama apa pemeran tambahan

  11. hebat pak!!..πŸ™‚
    ————–=============————
    apanya?

  12. Saya juga sering gitu mas dikampus, niat jadi peserta eh malah jadi tukang foto (dokumentasi) atau malah moderator. Niat penonton malah jadi ditonton.
    ———————–==============———————
    terlalu seringnya saya dulu di kampus jadi panitia bagian sekretariatan makanya sekarangpun masih kebagian urusan sertifikat

  13. Berkunjung lagi malam2 mas…
    ————-================———-
    silahkan

  14. Pegalaman tak jauh beda juga pernah Riza alami, Pak. Ketika itu FLP Aceh bikin Bedah Buku The Gate of Heaven. Awalnya diberi amanah untuk memastikan bahwa pembicara yang diundang akan hadir. eee… karena ada satu pembicara yang tak hadir, jadilah saya ditodong sebagai pembedah.

    Kalut juga awalnya. Beban mental. Baru penulis kecil-kecilan malah disuruh mengkritik novel orang di hadapan khalayak di sebelah penulisnya pula.
    πŸ˜€
    —————======================———–
    sebuah pengalaman yang sangat mendebarkan tentunya, juga sangat mengesankan

Comment navigation

Newer Comments →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: