59 Komentar

Ayahku (Repost)

Secara jujur kuakui postingan ini terinspirasi dari weblog lain (milik dinda27). Bedanya dinda disitu sebagai seorang bunda. Di sini saya sebagai seorang anak.

Ayahku yang kukenal tidak begitu banyak yang bisa diingat. Kehidupan masa kecil yang bisa jadi amat jarang dilalui oleh anak seusiaku. Aku seorang anak laki-laki yang merasa teramat dekat dengan sosok seorang ayah. Mungkin ini pula yang diwariskan kepadaku, aku bisa merasa begitu dekat dengan anak mungilku yang belum genap empat tahun.

Ayahku bukanlah seorang pejabat, bukat pula seorang tokoh masyarakat yang banyak dikenal dimana-mana. Bahkan jujur kuakui ayahku tidak mengenal baca tulis, karena sejak kecil harus bisa mandiri.

Namun demikian kenangan manis tetap terajut. Sebagaimana layaknya kehidupan petani era 70-an. Tiap pagi sudah meninggalkan rumah. Satu-satunya anaknya yang ikut adalah diriku. Karena kakak pertama sudah menikah, kakak kedua bersama ibu, dua kakak yang lain sibuk di sekolah. Kemana ibuku? Ibuku masa mudanya adalah seorang pedagang beras. Sejak usia belasan hingga punya cucu. Itulah profesi ibuku. Artinya aku harus sering berpisah dengan ibu. Justru inilah perekat tersendiri, yang secara otomatis melengketkan diriku dengan ayah.

Benar-benar masih pagi, ayah sudah memanggul cangkul dan menuntunku ke sawah. Apakah aku ikut mencangkul? Dalam realitasnya aku tidak mencangkul, akan tetapi dalam dunia kanak-kanak, rasanya aku telah membantu ayah mencangkul, padahal yang aku lakukan adalah mengacak-acak tanah yang belum dicangkul. Atau sepuasnya bermain air, tak peduli wajah coreng moreng dan baju belepot lumpur.

Satu hal yang sampai kini selalu kuingat. Ayah tak pernah marah karena ulahku itu. Kalaupun sesekali ibu menanyakan, ayah hanya bilang wajarlah namanya anak-anak, toh belum sekolah. Biarlah bermain sepuasnya yang penting masih dalam penjagaan.

Saat kelas dua SD, aku masuk agak siang. Ayah sering membuat anyaman dari bambu untuk keranjang atau tempat menjemur gabah. Lagi-lagi aku turut bermain sisa-sisa bambu dari ayah. Aku ikut-ikutan membuat ayaman dari bambu. Tanpa kusadari aku telah belajar secara langsung di bawah bimbingan yang tidak pernah mengguruiku. Hal ini kusadari kesita sudah di SMA ketrampilan ini mampu membantuku membeli buku-buku pelajaran dari buruh membuat anyaman bambu untuk tempat menjemur padi.

Di kelas dua itu pula aku belajar melayani ayah dengan merebuskan sebutir telur setiap pagi. Kuningnya buat ayah, putihnya untukku. Yah, saat itu ayahku disarankan untuk banyak menkonsumsi telur ayam kampung, agar kesehatannya terjaga.

Saat perpisahan tak mungkin dihindari. Kelas tiga SD jarak beberapa hari setelah idul adha, ayah meninggalkan kami semua. Bahkan saat itu ibu sudah berangkat ke pasar. Saya dan kakak-kakak siap-siap berangkat ke sekolah yang akhirnya tidak jadi ke sekolah.

Sayangnya tak ada satupun foto yang ditinggalkan. Ya wajarlah ayahku bukanlah mantan pejabat atau tokoh masyarakat.

Comment navigation

Newer Comments →

59 comments on “Ayahku (Repost)

  1. bapak saya pernah bercerita kenapa memberikan nama kepada saya: sukarno.
    >> sukarno (yg proklamator itu) dan bapak saya teman seperjuangan. sukarno berjuang untuk negara, sedangkan bapak saya berjuang bagi keluarganya🙂
    ————————===============———————
    inti sama-sama berjuang

  2. Selalu ada kenangan yang indah dengan sang ayah🙂
    Meskipun kenangan itu hanya samar2 bagi saya, namun saya yakin ayah saya sangat sayang pada anak2 beliau🙂
    —————=====================—————–
    hanya orang tua yang tak beres saja tentunya yang tak menyayangi anak-anaknya

  3. Aku sekarang sudah punya foto bapak sama simbok Mas. Simbok duluan yang meninggalkan kami. Kini hanya Bapak alasan kami berkumpul di rumah.
    ——————-================—————
    apapun itu, orang kita wajib kita junjung tinggi, istilah jawanya mikul dhuwur mendem jero

  4. saya jadi tambah sayang dengan ayah saya pak …
    —————–===============————
    itu wajib Pak bayu

  5. Ayah…
    kenangan yang hampir serupa dengan yang
    telah kulewati.
    Salam…
    —————-=============———–
    ada kemiripannya? cinta seorang ayah tak kan pernah putus meski dibatasi oleh usia

  6. Ayah, sosok yang bisa terlupakan karena klimaks pembicaraan yang mengagungkan sosok sang Ibu. Keduanya penting buat kita semua…..
    ———-=============———–
    ayah, ibu tak sepantasnya dilupakan oleh seorang anak, kalau tak mau disebut sebagai anak yang durhaka

  7. kenangan seorang ayah, meski tak meninggalkan album foto kenangan tapi saya yakin, beliau akan selalu terpatri, menyertai perjalanan hidup kita sebagai anak.
    —————=============————–
    betul sekali, ada foto atau tidak, nama seorang ayah tetap terpatri kuat dalam sanubari anak-anaknya, apalagi yang merasa sangat dekat

  8. Sosok yg kita cintai memang terasa lebih berharga jika sudah tak ada, apalagi menyangkut kenangan masa kecil yg membentuk kepribadian kita..
    —————=================—————–
    sebenarnya tetap berharga hanya kadang sifat manusia kita yang merasa memiliki justru setelah kehilangan

  9. keren….
    ————==============————
    terima kasih

Comment navigation

Newer Comments →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: