62 Komentar

Pilihan Kedua (Jadi 2)

Kali ini saya akan fokus tentang pilihan kedua saat kuliah. Kalau pemilik padeblogan adalah alumnus kampus biru, maka sebenarnya saya juga alumni kampus biru. Meskipun sama-sama kampus biru, kami belum pernah bertemu di kampus. Ya pastilah, kyaine alumni kampus biru di kota besar, kota budaya, kota pelajaran dan cukup dua atau tiga jam perjalanan naik bus dari rumah. Sedangkan saya alumnus kampus biru di kampong bekas ladang kangkung. Kalau julukan kotanya dikenal dengan kota mendoan, kripik, juga ada beberapa patung Jenderal Soedirman. Perlu waktu setengah hari lebih untuk bisa sampai ke kampus nan sepi.

Waktu saya ikut SPMB kemungkinan besar seangkatan dengan Pak Guru Wandi. Jurusan yang dipilihpun sama, hanya beda fakultas. Pak Guru Wandi sukses jadi mahasiswa UNS, saya sampai capek melihat Koran tak ada satupun yang mencatatkan nama saya. Tahun berikutnya saya masih nekad mematok matematika UNS sebagai pilihan pertama dan Biologi UNSOED pilihan kedua. Tak ada satupun yang FKIP, karena memang aturannya tak membolehkan. Saat melihat Koran saya hanya bilang ke tukang korannya saya hanya mau beli kalau ada nama saya. Tak sampai lima menit say abaca Koran dan akhirnya saya bayar, tercatatlah saya di fakultas pilihan kedua.

Ternyata, ya ternyata, sebagian besar teman-teman saya di kampus adalah hasil saringan pilihan kedua. Padahal kalau dirunut akreditasi dan usia fakultas sudah lumayan. Meskipun letaknya dikampung telah mengantongi akreditasi A dan usianya hanya selisih satu tahun dengan peristiwa September kelabu. Salah satu alasannya memang Fakultas Biologi bukanlah fakultas yang favorit, masa depan yang tak terbayangkan oleh orang kampong seperti saya. Apalagi letaknya di kampung kurang punya daya jual, kalah jauh dengan kampus birunya kyaine.

Di antara yang memotok pilihan kedua, bahkan bisa dikatakan sebenarnya adalah pilihan keempat. Maksudnya mentok di tahun pertama, pilihan kedua pun gagal kemudian baru diterima di pilihan kedua untuk tahun kedua, sama artinya pilihan keempat.

Gejala pilihan kedua ini juga melanda orang-orang asli Purwokerto. Mereka inginnya ke Yogyakarta, Semarang atau Solo. Lha saya yang dari Solo malah masuk ke Purwokerto.

Sudahlah, semua sudah terjadi, dan kini pun saya telah pindah jalur, dengan melengkapi diri sebuah sertifikat yang resmi bahwa saya boleh menjadi guru. Kandaslah satu mimpiku untuk menjadi ilmuwan matematika.

Comment navigation

Newer Comments →

62 comments on “Pilihan Kedua (Jadi 2)

  1. hebat jadi mahasiswa lagi y pak xixi
    —————–===========————-
    inginnya sih

  2. Tidak apa2 pak. Toh semuanya bermuara pada satu tujuan yaitu mengabdikan ilmu yang kita dapat kepada orang2 yang memerlukannya
    ———————-==============———-
    ini sekedar introspeksi diri

  3. Pilihan yang telah ditunjukkan Allah adalah pilihan terbaik mas, tinggal kita mampu mensyukurinya atau tidak.
    Salam hangat slalu dari kota hujan
    ————–=============—————
    benar, tergantung kita apakah termasuk yang bersyukur atau sebaliknya

  4. Memang ada yang diberikan bakat numeriknya kuat, saya kok merasa pak Narno tetap bisa menjadi ilmuwan matematika – salam saya
    ——————-==============—————-
    amin

  5. Jadi apa pun, yang penting kan manfaatnya, Mas Narno. Tapi, boleh juga sih aku yang fobia sama angka-angka “diciprati” ilmu matematikanya, ya semacam kiat mudah memahami dan mencintai matematika.
    —————============————-
    kiatnya bagaimana ya, saya dari dulunya suka, dan tak punya trik apa-apa, semuanya berjalan begitu saja

  6. pak nanrno..
    dulu pun saya juga perlu berkali2 untuk bisa keterima UMPTN.

    akhirnya yang kepake untuk kerja juga bukan ijazah S1 nya.. D3 yang kepake..🙂
    ——————-==============————–
    yah kita syukuri saja apa yang telah kita lalui, ilmu takkan rugi kita peroleh

  7. Just be yourself aja pak =)
    —————-==============————-
    oke

  8. nama boleh sama, pilihan berbeda namun semangat kan tetap ada
    —————–=============——–
    seperti pemilik blog ini dengan dua nama, okelah kalau begitu

  9. Assalaamu’alaikum

    Semua manusia punya pilihan yang semuanya bakal menghasilkan sesuatu buat kita. Apapun pilihan kita, yang penting bagaimana pilihan itu telah menjadikan kita manusia yang berguna.

    Ternyata pilihan yang dilih walau kedua, membuahkan hasil yang tak terhingga. oleh itu, kita harus banyak bersyukur ke hadrat Ilahi kerana pilihan itulah yang mengena dan sesuai buat kita. Punya hikmah yang besar sekali. Semoga selalu sukses mas Narno. Salam mesra dari saya.
    —————-==============————-
    alhamdulillah, meskipun sebelumnya tak terpikirankan sama sekali, ternyata inilah jalan hidupku

Comment navigation

Newer Comments →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: