55 Komentar

Tiga Kota

Ini sebuah kisah masa SMA. Masa yang sudah lewat puluhan tahun yang lalu. Kisah belajar meresensi buku. Sebenarnya kisah yang memalukan.

Waktu itu guru Bahasa Indonesia membacakan Mbah Danu dari Tiga Kota. Kami sebagai siswa bertugas menyimak. Pecan berikutnya giliran kami yang bicara di depan kelas. Sebelumnya sudah ditentukan bahwa pembagian kelompok berdasarkan posisi deretan tempat duduk. Karena meja membentuk deretan 4 kolom, maka kelompok dibentuk menjadi 4 kelompok.

Satu persatu kelompok mempresentasikan hasil resensi, dan tibalah giliran kelompok saya. Aneh, tak ada satupun yang maju, dan memang tak ada pembicaraan apapun sebelumnya tentang tugas ini. Namun rasa malu pada diriku lebih besar jika tak ada yang maju presentasi, daripada mengakui bahwa kami tak melakukan pekerjaan apapun.

Dengan modal nekad dan sedikit corat coret pekan kemaren  maka teramat nekad saya akhirnya yang maju.

Dengan amat meyakinkan saya mula-mula benar-benar membaca, lama kelamaan saya tak jujur. Bukan tulisan yang saya baca namun mulut ini ngelantur sendiri sambil merenda ingatan apa yang kemaren dibacakan oleh Pak Guru, juga sekaligus merenda ingatan Koran-koran yang pernah memuat sebuah resensi buku. Luar biasa nekadnya.

Jika seandainya Pak guru menilai atas apa yang kami lakukan bukan apa yang saya ucapkan pastilah kelompok kami akan mendapatkan peringkat pertama sebagai kelompok yang amburadul. Kompak dalam tidak mengerjakan tugas. Jika Pak Guru menilai hasil tulisan bukan apa yang didengar, maka kelompok kami tetap mendapatkan peringkat satu. Sebagai kelompok yang tak bias menyusun kalimat.

Berhubung Pak Guru saat itu hanya menilai apa yang didengarkan, tentu dengan asumsi apa yang diucapkan sama persis dengan yang dituliskan, maka kelompok kami memperoleh peringkat pertama. Plus segudang pujian bahwa yang barusan membacakan di kelak kemudian hari layak menjadi seorang penulis, bahkan bias menghidupi diri dengan tulisannya. Entahlah sampai saat ini sepertinya pujian itu belum juga sepenuhnya tercapai, namun juga tak sepenuhnya tak sampai.

Tentang Tiga Kota sendiri adalah hasil karya seorang sastrawan yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan, namun tak sampai pada akhir masa jabatan karena terlebih dahulu dipanggil oleh yang maha Kuasa. Settingnya memang menggunakan tiga kota: Rembang, Yogya dan Jakarta.

Comment navigation

Newer Comments →

55 comments on “Tiga Kota

  1. ^_^

    klo ane yang jadi gurunya, hmm …
    dasar murid yg kreatif …
    hehehe … maaf …

    kunjungan di pagi hari …

  2. yang suka nonton film amrik, nih saya kasih keyword dan link nya 17:20

Comment navigation

Newer Comments →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: