48 Komentar

Batas Hujan

Pemahaman dan pengalamanku tentang batas hujan ternyata semakin lama semakin sempit.

Ketika masih anak-anak, belum mengenyam pendidikan yang saya pahami kalau di tempatku turun hujan maka diseluruh permukaan bumi ini juga turun hujan. Merata, tanpa kecuali.

Ketika mengenal televisi dengan tayangan ramalan cuaca (baru ada TVRI waktu itu), pemahaman itu berkurang. Sesuai dengan yang ditayangkan bahwa kota A hujan deras, kota B mendung, Kota D panas. Maka yang saya tangkap waktu itu hujan itu memiliki wilayah tertentu namun cukup luas. Jika dalam berita disebutkan Jakarta hujan maka seluruh wilayah Jakarta diguyur hujan. Inipun diperkuat dengan pengalamanku kalau aku sedang di sawah kehujanan maka sampai di rumah pun tetap hujan. Atau ketika SMP yang harus kutempuh hampir 2 km, saat di sekolah hujan maka di rumah pun selalu kutemui tanda-tanda yang sama.

Kali ini berubah drastis, bukan karena pemahaman atas suatu berita semata, namun karena aku mengalaminya sendiri secara langsung. Sewaktu SMA tiap jumat di sekolahku selalu mengadakan senam pagi. Artinya aku harus berangkat dari rumah paling siang adalah jam 06.00. Ini berarti aku harus berangkat sekolah sendirian tidak bareng teman-teman yang memang tidak satu sekolah meski sekolah kami hanya dibatasi jalan raya.

Sekali waktu, aku tak bisa berangkat pagi-pagi banget karena hujan cukup deras. Kupikir juga di sekolah yang jaraknya 2 km lebih itu pun hujan. Setidaknya pengalaman yang sudah-sudah juga demikian. Dan kupikir, kalaupun aku terlambat sampai sekolah juga dimaklumi.

Kutunggu-tunggu hingga pukul 06.30 hujan belum juga reda. Akhirnya bermodal payung akupun berangkat dengan harapan tidak terlambat masuk kelas. Ternyata aku salah dalam beberapa hal. Hari itu senam tetap berlangsung, akupun terlambat masuk kelas, karena begitu sampai di kelas pak guru yang ngajar fisika sekaligus wali kelasku telah duduk di depan kelas.

Yang benar hanya satu, keterlambatanku dimaklumi oleh semua pihak, namun demikian aku terasa sangat aneh. Betapa tidak, teman-temanku habis senam dan basah oleh keringat, sedangkan aku hampis jalan kaki basah oleh air hujan. Karena hanya sangat sedikit teman-teman satu sekolah yang searah dengan saya bahkan tak ada satupun yang satu kelas, maka keanehan itu benar-benar terasa.

Sebenarnya keanehan itu mulai kurasakan ketika melewati jembatan peninggalan Belanda yang menghubungkan dua wilayah kecamatan. Jarak dari sekolah sedikit lebih dekat bila dibandingkan dengan jarak ke rumah. Sepertinya jembatan itu pula sebagai pembatas wilayah hujan dan wilayah tidak hujan. Sebelah barat jembatan hujan deras, sedangkan sebelah timur jembatan yang menuju ke sekolah justru panasnya terasa. Saat itu pula perasaanku sudah tidak karuan, khawatir dianggap sengaja mangkir tidak ikut senam pagi dan almadulillah ternyata tak ada satu orang pun yang menyalahkanku.

Dan kini di tempatku yang baru, berdasarkan pengalaman juga ternyata perbatasan hujan itu jauh semakin sempit. Dari rumah kontrakan ke pesantren berjarak 1 km. Sedikit mendekati pesantren adalah tempat tinggal kakak iparku. Seringkali aku mengalami tiga lokasi itu berbeda-beda dalam kondisi hujannya. Pernah suatu ketika di pesantren hujan deras, sampai dirumah ternyata tak ada bekasnya sama sekali. Atau pernah pula di rumah panas, aku mau ke pesantren mampir dulu ke kakak ipar, di sana hujan cukup deras dan tentunya aku istirahat dulu sejenak. Setelah agak reda baru kulanjutkan perjalanan dan ternyata di pesantren bekasnya hanya gerimis tipis saja. Pengalaman ini terjadi berulang-ulang dan yang terakhir adalah dua hari yang lalu. Saat aku mengantar ibu mertua ke kakak ipar pulangnya ngebut karena berkejaran dengan gerimis, eh sampai di rumah tak ada setitik air pun sebagai tanda bahwa di tempatku juga ada hujan .

Itulah sedikit pengalamanku tentang batas hujan yang semakin menyempit.

48 comments on “Batas Hujan

  1. kadang membawa bahagia, kadang juga membawa duka…

  2. hujan membawa rejeki…baik lahir maupun batin…

  3. ditempatku, hujan sering dijadikan alasan untuk tidak kesekolah, ya guru ya murid

  4. kang priwe kabare?
    pangapurane tembe nongol maning kiye…🙂

  5. perlu dirumuskan batas hujan lagi kayaknya

  6. benar pakde sekarang hujan sering seperti itu…
    kadang disini kita basah kuyup tapi beberapa meter kemudian tak ada tetesan hujan sedikitpun…,

  7. batas hujan semakin sempit, air datang siap menjepit, menghadirkan luka yang pahit, semoga derita ini tak membelit.

  8. tes..tes..tes…bunyi hujan diatas genteng.kodok bernyanyi di atas teratai kwok ….kwok….kwok….
    anak ayam berlari ke sayam induknya sambil berteriak cik…cik…cik…
    maka terciptalah nada pengiring hujan yg harmoni..
    tes,,tes,tes,kwok,kwok,kwok,cik,cik,cik.. 7 x
    selamat mencoba nada ini ya hitung2 buat senam mulut…
    hehehehe……..

  9. Wah sekarang ini musim hujan tidak bisa di prediksi, kadang di daerah yang berdekatan pun tidak sama-sama merasakan hujan atau malah panas banget. Yang jelas kalopun prediksinya panas, kita tetap harus sedia payung sebelum hujan..he,

  10. Saya sangat menyukai postingan ini. Mulai dari judulnya sampai kalimat terakhir. Santai dan begitu teratur. Topiknya sederhana sekali. Nikmat, Pak🙂

    Batas hujan di tempatku juga begitu. Malah hujan sering mengkhianati matahari. Suak main serobot tempat :-<

  11. salam kenal,,musim tahun ini ga bisa di tebak-tebak ya,,kalau di kalteng sampai ga ada musim kemarau hujan terus,,gimana di tempat bapak,,mampir juga di blogku ya,,

    http://yoyon12.wordpress.com

  12. kalau lagi di tol cipularang, sering banget dapat bener2 di batas awan hujan. lagi hujan deras2 eh tiba2 awannya habis dan terang benderang. padahal di mobil bagian belakang hujan lebat banget🙂

  13. Lagi msuim hujan saat ini🙂

    Salam persohiblogan

    Lama tak bersua. Maaf karena kesibukan membuat saya sulit BW.
    Baru sempet nih, itu pun sekedar sapaan sembari lewat.🙂

    Mohon Maaf Lahir & Bathin

  14. hehehe… pernah gara-gara di rumah hujan tapi sekolah tidak, saya memilih untuk membolos karena seragam yang saya kenakan telah basah kuyup…

  15. Info menarik sobat,…salam dari pekalongan

  16. inilah salah satu bukti tentang tanda2 kebesarang Sang Pencipta…

  17. puncak hujan lebat katanya november thn ini

  18. Semakin terasa perubahan yang terjadi di alam ini, musim kemarau dan musim hujan juga sudah tidak teratur lagi. Kadang kita dianggap berbohong kalau keterlambatan kita ke suatu tempat yang dijanjikan dengan alasan hujan, karena hujannya itu tidak merata. Kita juga sering menemukan pengendara sepeda motor dengan jas hujannya yang basah di tengah hari yang panas.

    Terima kasih Pak Guru, ceritanya menarik.
    Salam.

  19. dulu pun kukira hanya turun saat musim penghujan.. eh ternyata..

  20. Salam semakin kerent untuk cari Inpirasi .

  21. cuaca sudh tdk dpt di prediksi pak …..udah jaman semakin canggih pilih sendiri .

  22. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang Bisnis dan Kesehatan di blogku : http:// http://www.indonetwork.co.id/ptmsinet, silahkan kunjungi, mudah-mudahan manfaat

  23. Assalamualaikum mas Narno… Gimana kabarnya???

    Kalo di Samarinda ato Balikpapan bisa kita sebut hujan lokal. Makanya selalu sedia payung sebelum hujan. Dan sekarang semakin sering terjadi.

    Saya juga pernah mengalaminya. Seaktu hendak berangkat kerja. Belum hujan… kira-kira seperempat perjalanan tiba-tiba hujan deras. Dengan segera saya mengenakan mantel hujan saya. Perjalanan saya lanjutkan,,, eee kira-kira 2 menit dalam perjalanan sya melihat bayangan matahari. Karnea sudah malas melepas mantelnya. Saya terlihat aneh karena menggunakan mantel hujan di tengah teriknya matahari….

    Mungkin inilah tanda-tanda kiamat semakin dekat ya MAs…

  24. Kalo sekarang batas hujannya juga tidak jelas waktunya mas. Dulu bulan-bulan gini dah panas kemarau, sekarang di solo hujan tiap hari. Bikin pusing BMG saja.

  25. Hmm..hujan, selalu membawa suasana romantis yang aku suka..apalagi kalo hujannya tidak besar dan tidak kecil..

  26. saya pernah dikejar2 oleh hujan… dan ternyata hujan lebih cepat larinya😀

  27. dr hujan aja, bs bkn tulisangini.. indah bgt ms😀

  28. he he hujan tidak merata ya pak.. sangat menarik pengalamannya.. sepertinya hujan punya tirai yang membatasi..

    Salam saya

  29. waktu pulang kampung kemarin saya juga mengalami hal yang serupa. Hujan deras secara tiba-tiba mengguyur badan padahal dari tempat berangkat dan tempat tujuan terang benderang tanpa ada mendung sama sekali.
    Saya kok seperti orang kecebur empang jadinya

  30. Hehe… hujan lokal yang semakin sering terjadi dan tak dapat diprediksi. Mendingan sedia payung/mantel sebelum hujan🙂

  31. Saya rasa saya pernah mengalami hal serupa, saya rasa itu bagian yang unik dan menarik dari alam kita.

  32. ingatr terus sampai sekarang pak ya? hebat sekali. aku sering kadung bawa jas hujan tidak hujan. tapi kadung aku tinggal aku kehujanan. gimana ini? nggak fair.

  33. batas hujan yang semakin menyempit, dan tanda alam lain nya, benar – benar merupakan tanda – tanda kebesaran Nya yah pak🙂

    di jogja juga sering seperti itu. apalagi kalau udah naek motor, lengkap dengan mantel dan basah kuyup dan nyampe di tempat laen panas terang benderang. seperti alien rasanya.
    hehehehehhee…

  34. dulu sekali saya sempat menertawakan sebuah pantun yg dilagukan:
    indung2 kepala lindung
    hujan di udik, di sini mendung

    skrg, hampir tiap hari kejadian hujan lokal selokal2nya. nggak peduli lagi datang di bulan2 yg terkenal bulan kemarau.

  35. itulah kekuasan Sang Maha Pencipta, ya Mas.
    orang2 bilang namanya hujan lokal, padahal satu kelurahan, tapi yang basah hanya sebagian saja🙂
    salam

  36. Salam Takzim
    Pengalaman sama pak, waktu itu akan kondangan dengan jarak rumah 500 meter saya gunakan bebek merah untuk kesana, dirumah cerah sekali eh sampai sana badan saya lepek karena hujan (ga bawa mantel) ya terpaksa deh kondangan bentaran karena malu
    Pak Sunarso
    Met lebaran ya, maap telat
    Minal Aidin wal Faidzin
    Salam Takzim Batavusqu

  37. kan menurut BG sering disebutkan ” hujan tidak merata” mas.
    Itulah kebesaran Tuhan ya mas
    salam hangat dari Surabaya

  38. Dimana-mana hujan lokal😀

  39. hmm… menakjubkan hujan dan penciptanya..😉

  40. Batas hujan yang semakin menyempit itu membuat lebaran kami kemarin jadi kurang menyenangkan. Karena, ketika berangkat dari rumah terang benderang, tapi begitu jalan beberapa km, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya…
    Tapi, buat apa mengeluh ya Mas Narno, toh dengan begitu takkan merubah keadaan…🙂

  41. apalagi sekarang perubahan musim menjadi tidak menentu, bumi telah menjadi rusak karena ulah manusia juga …

  42. yang paling lucu klo kita sudah berpakaian lengkap dengan jas hujan ya mas.. taunya di sebelah sana terang benderang, xixi
    ————-=========————-
    ya, dan itu sering terjadi padaku dan memang hal yang biasa di sekitarku

  43. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Waktu saya bersepeda juga pernah ngalamin yang kek gini, Pak. Setelah basah kuyub oleh hujan tak selang dua km, malah panas terik tak ada tanda-tanda habis hujan.
    Akhirnya jadi kelihatan aneh sendiri, deh
    ——–==============—————-
    ditempatku kini, pemandangan yang seperti itu sudah biasa, karena memang jarang 1 km saja bisa melewati daerah panas hujan panas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: