15 Komentar

Memaknai Bencana

Di penghujung tahun hijriah yang juga berimpitan dengan tahun masehi ini, negeri kita banyak didera berbagai bencana. Bencana yang melanda beberapa daerah, baik yang menjadi berita besar secara nasional atau juga yang yaris tanpa pemberitaan oleh media cetak maupun elektronik.

Dari sisi besarnya kerugian materi pun beragam, mulai hitungan angka ratusan ribu hingga milyaran rupiah atau bahkan tak terhitung jumlahnya. Belum lagi korban nyawa yang hingga kini di beberapa tempat belum dapat diketahui jumlahnya secara pasti. Tak kalah pentingnya adalah korban psikologis berupa rasa trauma yang membutuhkan waktu yang tak bisa diprediksi dengan mudah kapan pulihnya. Dan tiap lokasi, tiap orang memiliki daya tahan yang berbeda-beda.

Pasca bencana juga menyisakan permasalahan yang tak bisa dianggap ringan. Recoveri tak hanya sebatas fisik, namun justru yang lebih memerlukan penanganan khusus adalah mental. Secara materi jelas mengenai tempat tinggal yang lenyap akibat tsunami Kepualauan Mentawai atau pasca letusan Gunung Merapi (Jawa Tengah – Yogyakarta). Ditambah lagi sebagian besar mata pencarian masyarakat yang dekat gunung Merapi adalah bertani, maka muncul masalah baru bagaimana untuk memulai lagi mengolah lahan. Permasalahannya tak hanya bahan baku yang ludes, namun juga lahan tempat mendulang nafkah juga rusak oleh terjangan lahar maupun terbenam dalam kuburan abu vulkanik. Memang dalam jangka panjang abu vulkanik itu merupakan sumber humus yang akan memberikan kesuburan tanah.

Belum pula gempa di Padang yang tentu belum hilang dari memori kita, dan kini ada gempa baru, meskipun tak sebesar yang dulu. Namun efeknya tak sedikit membuat masyarakat panik dalam menyikapinya. Khawatir kalau gempa kali ini sebesar yang dulu atau bahkan mengundang tsunami sebagaimana yang terjadi di kepulauan Mentawai, yang tak begitu jauh dari Sumatra Barat.

Sebagai seorang muslim, tentu kita perlu menyikapinya dengan bijak. Ilmu pengetahuan banyak mengungkap bahwa bencana yang terjadi adalah karena pergeseran lempeng muka bumi. Baik itu gempa bumi ataupun meletusnya gunung berapi. Atau juga karena terganggunya keseimbangan eksistem yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor. Secara garis besar bisa dikatalan bahwa segala bencana yang melanda bumi ini atau bahkan di belahan bumi yang lainnya pastilah terjadi karena adanya hubungan sebab akibat.

Kenyataan ilmiah ini sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Karena agama Islam tidak menafikan logika ilmiah. Justru fenomena alam merupakan sarana yang sangat bagus untuk memperkuat keimanan kita. Sarana yang semakin meyakinkan bahwa fenomena alam adalah tanda-tanda kekuasanNya.

Lantas bagaimana dengan musibah yang mendera negeri ini?

Berkaca pada masa Rasulullah dan kehidupan para sahabat, kita bisa mengambil sikap bagaimana sebaiknya dalam menghadapi bencana yang sepertinya tak pernah ada hentinya ini.

Ketika menghadapi keringnya Sungai Nil, khalifah Umar tidak serta merta meminta tolong kepada pawang hujan atau tidak pula mengikuti desas-desus yang berkembang di sebagian masyarakat. Justru beliau dengan tegas mengirimkan sepucuk surat kepada sungai Nil dengan dua pilihan, jika Sungai Nil mengalir karena Allah maka mengalirlah, dan jika bukan karena Allah maka tetaplah kering. Dengan kuasa Allah, maka mengalirlah air di Sungai Nil dan kembali suburlah tanah di sekitarnya.

Ketika menghadapi gempa bumi Khalifah Umar sempat mempertanyakan kepada kaum muslimin kiranya dosa apa yang telah diperbuat sehingga bumi menjadi murka.

Dari dua kejadian pada masa khalifah Umar ini kita bisa berkaca bagaimana sebaiknya menghadapi bencana. Yang utama adalah kita memahaminya bencana itu terjadi karena ada sebabnya. Baik sebab yang bisa dirunut secara ilmiah ataupun tidak. Namun demikian tak perlulah saling menyalahkan bahwa bencana yang terjadi itu karena dosa masyarakat setempat atau oleh ulah segelintir orang. Karena kalau itu yang kita ketengahkan justru yang terjadi adalah saling curiga, dan pihak yang dianggap sebagai penyebabnya pastilah tidak mau terima. Karena memang belum tentu yang terkena bencana itu karena di azab atas kesalahannya. Masih ada dua kemungkinan lain, yaitu sebagai ujian bagi orang-orang yang bertaqwa agar bersabar dalam menghadapinya, sebagai teguran bagi orang-orang yang melakukan kesalahan. Dan kita sebagai manusia tidak boleh memvonis siapa-siapa yang termasuk ke dalam ketiga kelompok manusia tersebut.

Sikap kedua yang patut kita lakukan adalah tidak meninggalkan Allah. Maksudnya bahwa bencana itu terjadi pastilah atas kekuasaan Allah, bukan karena kehendak makhluk. Maka, tak selayaknya kalau kemudian kita menganggap adanya hubungan mistis antara bencana yang terjadi dengan ulah makhluk ghaib. Dan sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah Umar menghadapi Sungai Nil, maka keyakinan bahwa Allah lah satu-satunya yang kuasa mendatangkan atau menghentikan bencana ini, bukan yang lainnya. Secara ilmiah kita sudah selayaknya berusaha, namun pada akhirnya tetaplah Allah yang menentukan.

15 comments on “Memaknai Bencana

  1. wisata bandung selatan

    Memaknai Bencana | kampungmanisku

  2. Selamat siang pak Guru,

    Salam kenal ini Eyangkung blogger lansia yang sejak bulan Puasa yll coba2 merambah dunia maya. Ini adalah kunjungan balik. Saya senang setelah beberapa membaca menu “Sekilas Diriku”. Ada persamaan mas Narno dengan saya yaitu orang2 teknis/ eksata yang mencintai dunia sastera. Hanya saya sekarang sudah pensiun sejak awal 2003. Pada saat kerja daerah kerja saya juga sampai kab Blora dan Rembang. Mungkin sekitar th 80-an kita pernah ketemu.

    Saya minta ijin bergabung di blog ini dan minta ijin ikut komentar di blog ini sesuai “GAYA EYANGKUNG”

    Terima kasih kunjungan mas Narno di blog saya yang banyak posting sastera. Komentar mas Narno saya butuhkan karena sekian banyak komentator baru seorang yang laki-2. Artikel terakhir di semesem.com sbg uji coba dalam rangka mendorong sastera di tanah air. Saya tunggu. Matur nuwun. Ijinnya juga saya tunggu. Komentar ini belum berkait dengan blog ini maka kalau sudah dibaca bisa di-delete

    Salam persaudaraan blogger
    —————-=============———
    terima kasih eyangkung atas kesediannya mampir kesini

  3. musibah bencana semoga tak datang di tahun depan dan tahun mendatang ya mas narno…
    —————==========————-
    amin

  4. yang sulit disembuhkan adalah tentang trauma dan kenyamanan itu sendiri.. Luka fisik mungkin cepat diobati, tapi kalau ditinggal orang2 yang kita sayangin, itu mungkin yang sulit disembuhkan.
    —————-===============———-
    semoga kesembuhan itu masih bisa diraih

  5. Cuma sayang, kebanyakan dari kita sering salah memaknai bencana😦
    ————–============—————-
    semoga kita tidak termasuk yang kebanyakan itu

  6. tiwi bersyukur, sangat bersyukur dibandingkan saudara2 tiwi yang sekolah nya terluntang lanting…..
    terima kasih ya, uncle…..
    postingan ini menyejukkan hati
    —————============——————
    sama-sama

  7. Barangkali lirik lagunya Ebiet baik untuk kita renungkan. “… mungkin Tuhan telh bosan melihat tingkah kita yang selalu bangga dengan dosa-osa kita …”
    —————–===========————
    itu termasuk lagu kesukaanku

  8. selalu ada hikmah dari apa yg terjadi
    moga bencana tak meluluhlantahkan iman para korban🙂
    ———-=========———–
    amin

  9. you lulusan taunbrapa ya ?????
    ————–=====——–
    maksudnya??????

  10. Bencana yang datang bertubi2 di negeri ini, banyak faktor penyebabanya ya Mas Narno,
    mulai dr tangan2 manusia yg merusaknya , yg menyebabkan longsor, dan juga faktor alam, dgn meletusnya gunung dan gempa bumi .

    dibaliknya pastilah selalu ada hikmah , bagaimana kita seharusnya lebih bersyukur lagi, dianugerahi negeri yg kaya raya .
    Merapipun setelah meletus, nanti akan membuat daerah disekitarnya lebih subur lagi, insyaalah
    salam
    ————-=============————–
    begitulah Bunda, adanya akibat pastilah karena ada sebabnya, tak akan berdiri sendiri

  11. Semoga di tahun Depan Allah memberikan keberkahan dan keselamatan untuk negeri ini. Kang blognya saya link ulang ya.🙂
    —————–=============————-
    silahkan dan terima kasih, saya sendiri belum sempat menata link sahabat

  12. semoga ndak ada lgi bencana alam di negri ini,tapi ada kbr katanya gunung bromo mau muntah lgi ya…wahhh
    ————-============———-
    kabarnya sudah batuk-batuk

  13. Akhirnya “Kampung Manis” hadir di pelataran browserku..
    Salam kangen, mas Narno.. aku cukup lama gak online juga dan alhamdulillah bisa ketemu sekarang…
    ————–=============———–
    sama juga saya juga agak lama tak online banyak yang harus diselesaikan

  14. kalau di negara kita musibah malah dijadikan perdebatan, kapan kita memiliki pemimpin yang seperti umar
    ———-==========————
    kita sebagai wong cilik bisanya hanya berdoa

  15. semoga di sisa hidup saya, saya bisa menjadi hamba Allah yang benar-benar bertaqwa
    ——-======———-
    amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: