6 Komentar

Tentang Pengorbanan

Bicara tentang pengorbanan mengingatkan kita pada perjuangan para pahlawan. Jiwa kepahlawanan tentu berkaitan erat dengan pengorbanan. Pada masa penjajahan Belanda, banyak lahir tokoh-tokoh yang rela berkorban memelopori rakyat untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Tak sedikit sebenarnya para tokoh itu memiliki kesempatan duniawi yang sangat besar, tanpa perlu bersusah payah meninggalkan kasur yang empuk untuk tidur disembarang tempat, tak usah meninggalkan kaum kerabat keluar masuk hutan yang penuh dengan penderitaan. Demi terbebasnya tanah air ini dari belenggu penjajahan.
Namun itulah jalan hidup pilihan para pahlawan. Jalan yang sangat jauh dari kemewahan. Kita tengok Pangeran Diponegoro, seorang bangsawan terkemuka di Mataram Yogyakarta. Seorang ulama yang lebih didengar suaranya daripada raja. Maka menyingkir dari kemewahan sudah menjadi pilihannya sejak belia. Rasa keprihatinannya atas penderitaan rakyat karena kesewenang-wenangan Belanda mengobarkan perang melawan tiran hingga pupus lima tahun kemudian karena akal bulus Belanda yang berpura-pura mengajak berunding damai di Salatiga.
Para pahlawan era Rasulullah pengorbanannya jauh lebih luar biasa. Bilal merelakan dirinya dijemur diteriknya matahari masih ditambah ditindih batu besar demi satu kalimat tauhid. Tak mau mengikuti bujuk rayu sang majikan supaya melepaskan keyakinannya terhadap Islam. Banyak pula para sahabat yang rela meninggalkan anak istri dan kemewahan duniawi demi menerima dakwah Rasulullah. Dakwah yang jauh lebih menjanjikan kehidupan yang lebih damai di akhirat nantinya. Sebut saja Mush’ab bin Umair yang demi menyongsong kemuliaan dakwah rela mengorbankan harta duniawi yang melimpah hingga dikabarkan ketika meninggal dunia hanya memiliki selembar kain dan itupun tidak cukup untuk digunakan sebagai kain kafan karena kurang panjang. Jika ditarik ke atas maka kakinya kelihatan dan jika ditarik ke bawah kepalanya kelihatan.
Masih perlukah pengorbanan di jaman yang materi telah melimpah ruah ini? Pengorbanan tak pernah mengenal batasan ruang dan waktu. Tak lekang karena perubahan jaman, tak pula hilang karena perbedaan budaya.
Tentang pengorbanan macam apa, tentu masing-masing orang memiliki jawabnya sendiri-sendiri. Tiap profesi memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tentu memerlukan bentuk pengorbanan yang berbeda pula. Setidaknya ada satu kesamaan yaitu adanya kerelaan hati untuk meluangkan waktu, yang sebenarnya adalah hak pribadinya digunakan untuk kepentingan bersama.
Seorang siswa tak lepas pula harus siap dengan pengorbanan. Apalagi santri yang jelas-jelas tinggal jauh dari orang tua. Maka pengorbanan yang dilakukannya tidaklah sepele. Bisa jadi tak terasakan atau dianggap sepele karena tak dianggap sebagai sebuah beban yang memberatkan dan justru sebaliknya dinikmati sebagai sebuah keniscayaan.
Seorang santri tentunya haruslah merelakan jarang berkumpul dengan orang tua dan saudara-saudaranya, karena santri harus menginap di pesantren. Rela meluangkan waktu untuk mengurangi kesenangannya bermain-main, karena ada kewajiban-kewajiban santri yang melebihi kewajiban siswa di sekolah lain. Jika sekolah lain cukup sampai jam 13.00 atau lebih sedikit dimulai jam 07.00 dan selebihnya adalah urusan pribadi, maka kehidupan seorang santri tidaklah demikian. Sehari dalam 24 jam adalah dalam bingkai kegiatan kesantrian.
Pengorbanan para pahlawan tak ada yang sia-sia. Meskipun secara lahiriah mereka telah meninggal dunia, hasil perjuangannya belumlah nampak, akan tetapi jiwa pengorbanannya tak pernah mati. Syahid yang pertama dalam dakwah Islam tak menyurutkan apalagi mematikan dakwah, bahkan itu sebuah martir yang mengobarkan semangat dalam membela Islam. Yang kemudian kita kenal dalam Sirah Nabawiyah telah terjadi peperangan yang dahsyat di berbagai tempat dalam menegakkan panji-panji Islam.
Demikian pula dengan kepahlawan nenek moyang kita dalam mempertahankan hak tanah air dan bangsa. Gugurnya satu pahlawan tidak menyurutkan langkah pahlawan pahlawan baru. Bahkan selalu saja terlahir pahlawan-pahlawan baru, dengan perlawanan-perlawanan yang semakin sengit. Semakin membuat pusing para pimpinan penjajah saat itu. Semisal perang Diponegoro juga menyebabkan pusingnya Belanda karena juga harus menghadapi perlawanan Imam Bonjol di Sumatra. Dari rentetan perjuangan merekalah kemudian Negara ini bisa memproklamirkan diri sebagai Negara merdeka. Bukan hanya atas perjuangan Soekarno saja atau para pejuang yang segenerasi saja.
Maka sebagai santri tak sepantasnya sedikit sedikit mengeluh jika karena alasan terampas hak bermainnya sebagai remaja. Kehidupan santri selama di pesantren adalah sebuah pengorbanan yang tak sia-sia. Bukan hanya buang-buang waktu percuma. Kehidupan santri di pesantren adalah sebuah langkah awal dalam menata kehidupan di masa yang akan datang. Baik kehidupan dunia maupun akhirat.
Apa yang dilakukan santri dalam menuntut ilmu di pesantren bukan sebuah bentuk hukuman, atau pemaksaan akan tetapi sebuah cara agar ilmu yang didapat bermanfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga ada nilai barakah dari Allah swt. Tentu hal ini tidak bisa diperoleh secara seketika, bukan sesuatu yang instant tetapi memerlukan proses yang membutuhkan pengorbanan berupa waktu yang berbeda dengan sekolah umum, tenaga yang sepenuhnya memang tinggal di pesantren dan juga biaya yang harus ditanggung oleh wali santri.
Buah pengorbanan jelas tak akan langsung diperoleh seketika itu juga. Bahkan boleh jadi memerlukan waktu yang tidak sebentar. Setidaknya pengorbanan waktu yang dilakukan ada buahnya setiap akhir semester dalam bentuk angka-angka di raport, atau pula dalam bentuk kelulusan. Buah yang lebih besar lagi adalah akan terasakan nanti di kemudian hari yang tiap orang tentu berbeda-beda baik waktu maupun hasilnya.

6 comments on “Tentang Pengorbanan

  1. doa dan pengorbanan adlah kunci k suksesan🙂

  2. nama anakku Mush’ab, berharap bisa spt Mush’ab bin Umair..:)

  3. Setahun jumialely [dot] com, dengan penuh penghargaan saya ucapkan Terima Kasih karena sahabat sudah pernah Menorehkan jejak cinta di rumah maya saya. I love You

  4. Pengorbanan yang disertai kerja keras akan menghasilkan kesuksesan….!

  5. Pengorbanan adalah sebuah bentuk perjuangan yang akan berujung indah bila bisa melewati ujian-ujian itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: