Tinggalkan komentar

FENOMENA OUTBREAK HAMA DAN KETIDAKSEIMBANGAN EKOSISTEM

Fenomena ulat bulu yang banyak menyita pemberitaan di media massa bukanlah satu-satunya peristiwa out break di negeri ini. Out break merupakan peristiwa ledakan hama dimana kondisinya jauh melampui normal, bahkan cenderung sangat banyak dan tidak hanya berada di area pertanian bahkan sampai ke perumahan, hinggap di dinding-dinding rumah, serta menghabiskan berhektar-hektar tanaman pangan.

Tahun 1990-an akhir adalah merupakan titik balik kemakmuran petani kentang di daerah Pegunungan Dieng. Tahun-tahun sebelumnya petani leluasa menggunakan berbagai jenis pestisida untuk mendongkrak hasil panenan dan rata-rata sukses untuk meningkatkan taraf ekonominya. Hal ini bisa dilihat jejaknya dengan banyaknya parabola yang bertengger di atap rumah juga mulai maraknya kendaraan roda empat bahkan roda enam. Namun akhir tahun 90-an muncul hama baru yang tadi sama sekali tidak berstatus hama. Lalat kecil berwarna hitam sedikit lebih kecil dari lalat buah tiba-tiba menyerap hampir separoh produksi kentang tiap kali panennya. Jenis lalat ini menyerang bagian jaringan tumbuhan, sehingga daun sedikit demi sedikit menjadi layu, berbeda dengan ulat yang menggerogoti dedaunan hingga habis karena memang langsung memakan daun.

Lalat-lalat inipun tak hanya menyerang tanaman kentang di ladang, namun juga masuk ke kampung bahkan sampai ke rumah-rumah, menggasak tanaman apa saja yang ada di pekarangan rumah. Padahal jenis lalat ini termasuk tidak begitu aktif bergerak, sehingga sangat mudah untuk ditangkap baik secara langsung maupun dengan perangkap.

Bagaimana tanggapan petani?

Para petani memberikan tanggapan terhadap fenomena ini dengan melakukan uji coba berbagai jenis pestisida, mulai dari yang sesuai dosis anjuran hingga membuat oplosan sendiri. Hasilnya lalat-lalat itu tetap bandel. Sangat sedikit mengurangi populasinya, sehingga yang terjadi pendapatan petani turun drastis, karena banyak digunakan untuk membeli pestisida namun hasil panenan turun hingga setengahnya.
Penulis dalam satu kesempatan pernah menawarkan cara penanggulangan hama terutama bagaimana agar lalat ini bisa dikendalikan (penulis lebih cenderung menggunakan istilah pengendalian bukan pemberantasan). Penulis hanya meminta syarat yang sama sekali tak berkaitan dengan materi, yaitu kemauan untuk berubah, kekompakan warga dan ketelatenan dalam penanganan hama, namun usulan itu ditolak mentah-mentah. Karena usulan penulis dianggap tidak lazim yaitu mengendalikan hama secara mekanik dengan menangkapi baik secara langsung maupun dengan menggunakan jaring. Atau istilahnya dengan cara gropyokan.

Cara yang sama pernah penulis ikut terlibat langsung dalam penanganan ledakan hama tikus. Tahun 1992, seluruh laki-laki mulai dari usia SD hingga orang tua tiap malam pergi ke sawah memburu tikus yang menyerang tanaman padi. Bermodalkan lampu petromak dan alat pemukul apa saja yang bisa dibawa. Tak sampai menghabiskan waktu satu bulan tikus-tikus itu telah berada dalam posisi jumlah yang tidak lagi membahayakan. Musim tanam berikutnya tidak ada lagi gangguan tikus yang terasa merugikan. Padahal ketika sedang puncaknya tak ada satu orangpun yang bisa membawa hasil panennya ke rumah.

Setahun yang lalu, penulis juga menemukan seorang teman blog curhat tentang daerahnya yang digasak oleh munculnya sekawanan belalang. Hanya dalam waktu singkat berhektar-hektar sawah ludes oleh serangan belalang. Lagi-lagi penulis menyarankan untuk melakukan upaya menghindari penggunaan pestisida dengan lebih mengedepankan cara-cara mekanik yaitu dengan ditangkap entah dengan menggunakan jaring ataupun secara langsung. Di samping sebenarnya belalang sangat memungkinkan dimanfaatkan sebagai asupan protein dalam makanan bagi manusia ataupun untuk ternak unggas.

Di Purwokerto fenomena outbreak ini menjadi perhatian serius seorang profesor dalam bidang serangga. Prof Anarno begitulah kami akrab menyapanya. Dua kali menemukan peristiwa outbreak. Pertama meneliti serangan hama ulat yang menggerogoti tanaman kelapa, hingga daunnyatinggal tulangnya, produksi kelapa turun drastis. Peristiwa yang kedua adalah meniliti serangan ulat yang masih sekerabat dengan yang menyerang kelapa, namun kali ini ulat tersebut menyerang jenis pisang tertentu, tidak sembarang tanaman pisang.

Peristiwa outbreak tersebut jika ditinjau dari ilmu ekologi maka penyebabnya adalah karena ketidakseimbangan ekosistem. Seperti fenomena ulat bulu di Jawa Timur disinyalir merupakan bentuk migrasi dari hutan dan sebenarnya hanya memakan daun pohon mangga saja. Dan itupun kerugian secara ekonomi tidak begitu signifikan. Namun yang lebih terasakan adalah kehadirannya yang begitu banyak hingga ke rumah-rumah. Tingkat bahayanya masih sangat jauh bila dibandingkan dengan serangan tikus yang pernah penulis alami ataupun serangan hama belalang yang sangat cepat memakan daun apa saja yang dilewatinya, terutama tanaman pertanian.

Ketidakseimbangan ekosistem merupakan salah satu penyebab utama munculnya outbreak suatu jenis hama. Secara normal kehidupan serangga ataupun hama dikendalikan oleh musuh-musuh alaminya yang disebut dengan parasitoid ataupun predator. Parasitoid merupakan jenis serangga yang seumur hidupnya menumpang pada serangga lain namun justru secara perlahan-lahan memakan yang ditumpanginya, sedangkan predator adalah pemangsa hewan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penyebab hilangnya atau tersingkirnya musuh alami hama adalah akibat dari aktifitas manusia sendiri. Intensifikasi pertanian dengan meningkatkan penggunaan pupuk dan pestisida diduga kuat merupakan pemicu utama terjadinya ketidakseimbangan ekosistem. Banyak bermunculan jenis hama baru yang dulunya tidak berstatus hama. Juga dipicu adanya homogenitas jenis tanaman tertentu bisa pula memicu pertumbuhan hama tertentu karena mendapatan sumber pangan yang melimpah, sebagaiamana disinyalir penyebab ledakan hama kutu loncat yang menyerang tanaman lamtoro pada masa orde baru justru karena sedang digalakkan penanaman lamtoro. Fenomena ulat bulu di Jawa Timur disinyalir akibat semakin sempitnya lahan hutan sebagai habitat aslinya sehingga berpindah ke pemukiman terdekat dan kebetulan pula sedang banyak dilakukan penanaman pohon mangga yang merupakan makanan bagi ulat bulu tersebut.

Penggunaan pestisida dalam menekan populasi hama dalam kondisi out break adalah sangat tidak efektif. Bahkan sangat beresiko karena sangat mungkin yang terkena dampaknya juga organisme non sasaran, suatu saat bisa memunculkan jenis hama baru. Dengan ikut matinya organisme non sasaran maka organisme terdekat yang paling mungkin terkena imabasnya adalah musuh alaminya. Maka biarlah alam yang mengatur keseimbangannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: