14 Komentar

BULAN RETAK

Tubuhku bergetar hebat. Mukaku carut marut berlipat-lipat. Kusut. Lagi-lagi anak nakal itu menyatroni rumahku.anak tak tahu diri. Kuberi ia nasi, membalas dengan melempariku kotoran. Anak sial. Maunya bikin susah orang saja. Ingin rasanya segera kutendang ia, kuhajar habis-habisan, kulumat jadi batangan kecil-kecil jika perlu sampai seperti debu yang beterbangan begitu mudah kutiup. Biar. Biar anak itu kapok untuk tidak menyatroni rumahku lagi. Bahkan biar kampung ini tak ada lagi yang berani macam-macam. Aman. Tak sudi aku menganggapnya adik. Sumpah serapah segera mengalir dari mulut mungilku.

“Jangan! Jangan lakukan itu Le!” Mak menghalangi niatku demi mendengar sumpah serapahku.

“Ini sudah keterlaluan Mak”

“Sudahlah, biarkan saja, nanti juga jera sendiri.”

“Jera sendiri? Anak nakal itu? Mustahil”

“Lagi pula aku tidak kehilangan apa-apa kok”

“Mak jangan menutup-nutupi. Sudah berapa kali rumah kita disatroninya. Kemaren memang Cuma mengkang gedhek pojok rumah, Mak. Lalu njebol pintu belakang berikutnya uang beberapa lembar, lantas besok! Besoknya lagi! Bisa-bisa nyawa kita yang diambil. Anak nakal macam begini tak pernah punya kapok. Tidak akan kapok, kecuali kalau…”

“Jangan terlalu berprasangka, itu dosa. Ora ilok. Gusti Allah ndak suka pada orang yang berprasangka buruk.”

Tak kupedulikan lagi kata-kata mak. Segera aku berkelebat menyambar sarung dan jaket dari cantelan sekenanya.

“Le ingat pesan kanjeng Nabi, jangan biarkan dendam merasuki jiwa” mak mengikutiku hingga pintu, aku tetap tak peduli.

Aku berjalan tak tentu arah kadang mengendang-endap penuh selidik, kadang berkelebat cepat. Gemuruh di dada serasa mau pecah saja. Ingin segera kudampart anak nakal itu. Kuabaikan tatapan aneh orang-orang yang kutemui di jalanan, kadang sapaan hanya kujawab dengan lenguhan tak jelas.

Di pertigaan aku menghentikan langkah. Biasanya kata orang-orang anak nakal itu sering tongkrongan di sini, atau setidak-tidaknya lewat sini, tak peduli sedang sendiri atau dengan kelompok gengnya. Bahkan kabarnya bila akan beraksi tempat inilah salah satu tempat awal operasinya. Ah, itu tidak penting benar bagiku.

Pokoknya begitu kudapati entah dimana, kuhajar dia,kupukul hingga minta ampun. Tidak. Aku tidak akan mengampuninya sedikitpun. Harus. Harus kuhajar sampai babak belur. Biar pipinya lebam kebiruan, atau tangannya bahkan kakinya kupatahkan sekalian biar ia tersiksa tidak bisa menyatroni rumah tetangga lagi. Sampai hatiku puas. Tak peduli apakah ia akan kesakitan. Apakah akan mengerang. Yang penting hajar. Hajar dna hajar lagi hingga lumat. Mengerang? Oo itu bagus. Biar ia mengerang seperti lolongan anjing tidak kebagian tulang padahal sedang kelaparan. Tapi benarkah ia akan minta ampun.

Tak pernah aku merasakan segarang ini. Masih teringat begitu jelas dalam benakku. Bahkan kini berkelebatan silih berganti di ruang mataku. Beberapa tahun yang lalu ketika itu aku masih remaja.

Anak itu sudah kuanggap adikku sendiri. Kemana-mana sering kuajak. Ke pasar, ke rumah teman, bahkan sekedar jalan-jalanpun sering mengikutiku. Banyak kuajari ia. Bagaimana menghargai rahim mak, mencangkul di sawah, menggembala kambing bersama-sama. Tak lupa pula kutuntun belajar membac alif, ba, ta. Saat itu serasa ia adalah anak penurut, bahkan aku bisa menjadi pelindungnya bila maknya marah-marah. Betapa tidak, jika maknya marah tahu anak itu bersamaku maka hilanglah amarahnya.

Ah, bayangan-bayangan itu meluluhlantakkan hatiku. Rasa iba menjalar. Tidak. Ini tidak bleh dibiarkan. Ia harus mendapat pelajaran. Tubuhku bergetar hebat. Hatiku berdarah-darah. Aku muak muntah-muntah. Tanganku mengepal mengeras batu. Sakit,teramat pedih, bila mengingat bahwa anak itu dulu adalah adikku. Tapi kini? Kini ia anak nakal yang tak tahu membalas budi yang suka menyatroni rumah tetangga.

Tak ada seorangpun yang menyangkalnya, bila anak itu kini benar-benar telah menjadi anak berandalan, sukanya makan enak, padahal kerjanya hanya lontang-lantung tidak karuan. Tidak hanya satu dua orang pernah secara sengaja bahkan kadang pura-pura tidak tahu menemukan anak nakal itu sedang ongkang-ongkang kaki di warung makan sambil mencomot ayam panggang. Makanan yang cukup mewah bahkan kelewat mahal bagi anak pengangguran macam dia. Hanya ada satu pertanyaan yang muncul di benak siapapun yang melihatnya. Dapat uang dari mana.

Memang tak banyak yang tahu kalau anak nakal itu benar-benar suka menyatroni rumah tetangga. Sampai kini yang pernah disatroninya hanya rumah makku di ujung kampung dan seorang sepupuku saja yang ketahuan, meskipun juga tak pernah diapa-apakan, sekedar ditangkap pun tidak. Lainnya hanya cerita dari mulut ke mulut yang segera dibantah oleh kakak kandungnya. Padahal senyatanya setidak-tidaknya telah sepuluh rumah dalam satu tahun ini disatroninya. Rata-rata uang dan perhiasan yang disambarnya. Pernah sekali radio transistor diembatnya juga. Tapi dasar anak nakal sudah ketahuan belangnya bahkan telah telah menjadi perbincangan masyarakat masih saja berani menyatroni rumah makku.

****

Kini darahku benar-benar mendidih. Wajah, tangan, bahkan dadaku menegang, merah membara. Amarah telah merasuk kuat tak tertahankan hingga ke ubun-ubun. Baru satu tahun yang lalu kudapati anak itu sebagai anak nakal. Aku baru saja pulang setelah beberapa bulan pergi, mak bercerita kalau anak itu baru saja mengkang gedhek rumah mak. Aku diam saja, sulit untuk percaya. Baru tiga bulan kutinggalkan, secepat itukah perangai manusia berubah? Tidak. Aku benar-benar sulit untuk mempercayainya.

Kejadian terakhir, tak bisa kutahan lagi gelegak amarahku. Kini ternyata aku harus memetik buah yang aku ajarkan meskipun itu sangat bertolak belakang. Aku menanamnya dengan penuh kelembutan, tapi kini aku menuai buah yang teramat pahit. Ia menyodoriku, bahkan menyumpal mulutku untuk menelan madu yang berlumuran racun. Mau tidak mau harus kutelan juga. Pahit. Getir. Mengiris-iris hatiku.

Ada suara ranting seperti patah karena ada yang menginjaknya. Kupasang telinga lebar-lebar. Mata menyebar tajam setiap sudut tak luput kupelototi dengan seksama kalau-kalau anak nakal itu tiba-tiba muncul. Tanganku mengepal keras siap meninju kepala. Atau kakiku siap menerjang dada keras-keras hingga jebol. Sial kirik siapa yang kencing itu. Tak urung kulempar dengan batu kerikil. Kena pantatnya. Berkaing-kaing terkejut. Lari terbirit-birit masih terkencing-kencing.

Berjam-jam aku mneunggu. Jemu. Jangankan anak nakal itu lewat, tanda-tandanya saja tidak ada. Cuma seekor kirik kurus yang lewat, yang barusan kencing dan segera terusir oleh kegeramanku. Sial, ini lagi serangga malam tak mau kompromi. Nyamuk bersaing dengan lembing tiba-tiba mengerubutiku. Berdengung-dengung memekakkan telinga campur bau apek membosankan. Hatiku kian rusuh. Baru aku tersadar kalau tempat itu dekat dengan rumpun bamboo penuh serasah dedaunan yang memang banyak dihuni serangga-serangga kecil, apalagi yang berbau apek.

Sebentar. Jantungku nyaris berhenti berdetak. Nafasku tertahan sesaat. Ada bayangan mengendap-endap, seakan ragu melangkah atau takut ada yang memergoki? Kupasang lebar-lebar mataku. Sosok itu makin mendekati tempat persembunyianku. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Ya kutangkap ia. Ia melenguh meronta. Tak kusangsikan lagi dialah anak nakal itu yang sekian lama-lama kutunggu-tunggu. Kulampiaskan segera bara di dada. Kubanting, kubetot. Tak ada kesempatan baginya untuk melawan. Sengaja mata kututup kain sarung rapat-rapat. Kubanting jatuh bedebum kena batu-batu jalanan. Segera ia menjadi bola bagiku. Kutendang ke sama kemari, hanya bisa melenguh tertahan. Sampai aku bosan sendiri. Lenguhan itu tak ada lagi. Kubuka kain sarung. Kududukkan ia terkulai lemah.

Ludah segera muncrat dari mulutku, kena tepat pada rongga mata. Ada bau amis anir darah. Ia tersadar mencoba bangkit, kuayunkan kakiku kuat-kuat kena pelipisnya. Ia sempoyongan. Roboh. Kuinjak-injak perutnya, muntah-muntah. Kupastikan sampai dadanya remuk dan kulempar ke tepian jurang. Burung hantu berceloteh pilu. Angin menangis menendangku sedih.

Segera kubereskan tempat pembantaian itu. Jangan sampai ada darah tercecer kubuat seperti tak pernah terjadi sesuatu. Aku puas. Bernafas lega. Semua barang-barang yang terkena darah kubuang ke sungai yang tak begitu jauh dan kebetulan airnya deras, cukup untuk mengangkut ceceran darah dan semoga tak ada yang menemukannya.

“Anak nakal itu kini tak akan lagi menyatroni rumah mak, tak ada lagi yang akan membuat gaduh kampung”
—-

Pagi-pagi subuh kampung geger. Ditemukan mayat di bawah jurang. Rombongan orang-orang ke pasar yang menemukannya. Dadanya menganga penuh luka. Muka hancur memar-memar. Segera tersiar kabar anak nakal itu mati bunuh diri, atau mati karena gagal beroperasi di malam harinya, mungkin pula dimusnahkan oleh gurunya Karen atelah ketahuan belangnya oleh masyarakat. Ini yang paling santer disebut-sebut ia mati mengenaskan dimakan ilmunya sendiri karena gagal beraksi atau mungkin ada pantangan yang dilanggar.

Banyak cerita simpang siur berkelebatan. Aku hanya duduk termangu di beranda depan. Bilik bambu yang tak tahu apa-apa harus ikut menanggng beban luka dihatiku.
Kini terasa benar apa yang pernah dikatakan mak. Dendam tidak menyelesaikan masalah. Justru masalah baru muncul, aku telah menjadi seorang pembunuh, masihkah dosaku terampuni?

Musnahnya anak itu bukan berarti rusuh di hatiku ikut sirna. Tidak. Luka di hati sepertinya tak tersembuhkan. Racun itu telah mengeram di jantungku. Ya, ia benar-benar meninggalkan racun dalam aliran darahku, pada desah nafasaku. Bulan telah retak tinggal sepotong. Entah kapan pulih kembali.

Purwokerto, 17 April 2000

14 comments on “BULAN RETAK

  1. Cinta berubah benci karena dikecewakan kenyataan. Tak disadari memindahkan benci itu dari orang lain ke dalam diri sendiri. Semoga kita terhindar dari hal seperti ini ya T.T Bencilah perilakunya bukan orangnya….
    —————=============—————–
    oke sob

  2. Cerita yang sangat menarik, apalagi kalau si korban diberi kesempatan bicara, misalnya baru saja dia pulang dari memohon ampun kepada Tuhan Maha Besar atas segala dosa-dosanya, dan sangat ingin diberi kesempatan untuk memulai hidup baru yang jauh dari kejahatan. Wah, itu hanya hayalan saya, kalau saya disuruh membuat cerita seperti Mas, mana mampu

  3. Bukan saja tidak mampu memahami perasaan diri sendiri, melainkan juga perasaan orang lain yang berinteraksi dengan kita.
    —————–===============————–
    itulah manusia

  4. Astaghfirulloohal adzim….

    ini cerita sungguhan atau hanya karangan?
    ada dilema yg tak dapat terpisahkan
    pada satu sisi dendam kesumat yg terpuaskan
    disisi lain, penyesalan yg tak kunjung padam

    sungguh amat menyentuh…
    ————============———
    ini cerita sungguhan atau hanya karangan?
    silahkan diartikan sendiri

  5. menarik artikelnya…salam kenal aja yaaa
    ————=============———-
    oke

  6. waduh jangan sampai bulan retak atau mungkin jatuh nanti berabe gan . . .😀
    salam

  7. Aku menikmati tulisannya, sampe kebawa masuk kedalam cerita ini.. (ngeri)
    makasih sudah berbagi, mas Narno..

  8. kalau bulan retak maka tidak ada sinar yang menyinari hatimu

  9. Cerita yang mampu memberikan pelajaran bagi kita semua. Memang penyesalan selalu terjadi dibelakang. Sudah sepantasnya kita menimbang tentang dampak keputusan kita, apalagi ketika keputusan itu diambil dalam keadaan marah.. Wah.. wah.. jadinya nanti seperti pada cerita ini🙂
    ———–============————-
    semoga bisa kita ambil pelajaran dari kisah ini

  10. aku membacanya hingga sampai ikut merasakan penyesalan yg ada dlm hati si pembunuh
    cerita yang mengingatkan, bahwa dendam takkan pernah meninggalkan kebaikan .
    terimakasih Mas Narno utk cerita yg indah ini🙂
    salam
    ————–============————
    benar Bunda, dendam itu bukan penyelesaian justru yang ada permasalahan baru

  11. Luka di hati akan sembuh, saya percaya by teh time..dendam akan meleleh dan memudar kok…Btw, great story..salam kenal
    ————==========————
    semoga

  12. bagus mas..🙂
    ——————-================————
    terima kasih Bundo

  13. hmmm ….. endingnya menyedihkan ya … tak bisa terbayangkan bagaimana perihnya luka itu😦
    ————-=============————
    sangat memilukan memang, idenya seperti apa awalnya saya sendiri sudah lupa karena ini tulisan lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: