25 Komentar

Tentangmu

memandangimu dari balik tirai
tak kenal waktu hadirmu disini
kinipun tak hirau sedang musim apa
menyambangiku nyaris setiap hari
sesekali tak hanya sekali sehari
kadang pula seminggu cuma sekali

menatapmu dari balik jendela
rintik-rintik menggaris tanah
menyapa dedaunan,
membelai rerumputan
mengumpul bercengkerama
saling berbagi bahagia

menunggumu di tengah lebat
di daerah orografi seolah
mengundang jemu
apalagi saat lupa jas hujan
inginnya segera pulang
sayang; engkau menghadang

mengikutimu lewat layar kaca
ada yang cerita kau tak hadir
hingga tanah rekah terbelah
orangorang mencari puluhan kilo
ditempuh demi mendapatkanmu

masih lewat pembawa berita
hadirmu di tempat lain berlebihan
hingga mewabah menerjang apa saja
tak peduli sekokoh karang
mungkin menghilangkan sebuah kota

aku tahu: ini bukan salahmu-

(30 desember 2011 masih di kampungmanis)

25 comments on “Tentangmu

  1. rintik-rintik menggaris tanah
    apa ini? hujan? atau gelombang?

  2. nice🙂
    saya senang mengikuti postingan anda
    postingan yang menarik .

    salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
    website kami.

  3. i love ur post, keep share^^
    mampir balik ke website kami yaa…

  4. saya speechless pak.
    ————–=============————–
    terima kasih

  5. assalamualaikum….
    puitis kata katanya…🙂

  6. saya menjumpai kawan-kawan lama disini. betapa saya merindukan mereka, sapa mereka, nasihat bijak mereka dan senyum semangat yang terurai dengan indahnya. salam persahabatan.
    ————===============————-
    ayo saling silaturahim lewat dunia maya ini, saling nasehat menasehati dalam kebaikan

  7. hujan…saya akan selalu merindukan bau khas tanah yang terguyur hujan, menyalakan kembali memori masa kecil saat kaki-kaki mungkil kami menari-nari ditengah nyanyian hujan. salam hangat dari ahsin pak narno. maaf apakah ini pak sunarno sahlan?
    —————==============—————–
    di kampung kita hujan terasa indah, saya dulu sering pulang dari swah hujan-hujan atau kadang juga pulang sekolah

  8. salahnya pasti pada diri kita semua yang tidak lagi menghormati alam
    tidak lagi bersahabat dengan alam😦

    semoga masih ada hujan yang berupa berkah ya Mas, aamiin
    selalu sukaaaaa dgn apapun yg tertuang disini🙂
    salam
    ————–==============————
    Amin Bunda itulah yang kita harapkan senantiasa

  9. Mas, sebaiknya puisi-puisinya dikumpulkan/dibukukan, baik dalam format PDF maupun cetaknya sebagai dokumentasi dan sarana apresiasi/pembelajaran bagi teman-teman semua. Nggak harus menunggu penerbit mau melakukannya.
    Terus terang, sebagai pembaca, saya merasa ada banyak hal bermanfaat dari puisi-puisi Mas Narno, baik dari segi makna maupun struktur teknisnya (antara lain konstruksi dan bahasanya).
    ——————====================————–
    sudah pak,sudah saya terbitkan secara indie, hanya saja keterbatasan dana sehingga saya hanya bisa mencetak sedikit saja

  10. knjungan silaturahmi . . .🙂
    ———===========————
    silahkan

  11. selamat tahun baru,kawan
    salam kenal
    salam hangat dari blue
    ———============================——————-
    salam

  12. Kehadiranmu selalu membangkitkan kenangan, suatu masa dalam gelak bahagia, aku cekikikan bersama teman-teman dibawahmu membasahi seluruh rambut dan bajuku. Tidak puas hanya berlari di halaman, aku membawamu naik ke rumah. Dan tentu saja aku tak boleh kecewa saat ibu menghardik karena membasahi seluruh lantai rumah sebab aku tahu ibu lebih kecewa lagi atas ketidak pedulianku mengotori rumah yang tak pernah kubersihkan..:)
    ———–============—————–
    indah sekali kenangannya tentang hujan

  13. Selamat Tahun Baru Kang…
    —————============————
    siplah

  14. puisi-puisi nya penuh makna, bahasanya ga terlalu berat. makasih dah berkunjung ke blog saya yaa. semoga bisa terus bersilaturahmi🙂
    —————===============————
    amin

  15. hujan adalah berkah
    jika terjadi sebaliknya
    itu adalah salah kita-kita

    *puisinya kereeeeen…..
    ————–==============—————-
    terima kasih

  16. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Narno…

    Terima kasih kembali menyapa di blog saya walau ia sepi tanpa sebarang kalimat untuk kongsian bersama. Terima kasih juga untuk khabar gembira yang di sampaikan.

    Insya Allah alamatnya akan dikirim dalam kadar segera tika koneksi bersahabat dengan musim yang kian cemburu dan menghalang penghantarannya dengan mudah.

    Sebuah luahan hati yang sangat perihatin terhadap ke”sakitan” yang kian menimpa alam di mana-mana sahaja di pelusuk bumi ini. Alam menangisi diri yang terhasil dari kebejatan tangan2 manusia yang tidak mahu menghargainya sehingga nanti kita akan kehilangan nikmat yang harus disyukuri.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀
    ————-=============————-
    selamat datang kembali umi, semoga persahabatan ini tetap berlanjut

  17. iyaaaa, salah kamuuuu
    ha ha puisi bagus sob…. 🙂
    ————============————
    salahku? ah biarlah

  18. kalo bukan salah dia lalu salah siapa, hehehe..
    salam
    —————===============——————-
    salahnya ulah manusia yang serakah pada alam

  19. wah, puisinya mantap ya puisi di akhir tahunnya😀
    —————-=============——————-
    terima kasih

  20. memang bukan salah dia kang. bagi saya semoga bisa membawa berkah buat semua.
    ——————–============================————————
    amin

  21. semoga nanti pulang dengan membawa setumpuk tanda tangan..
    ————–=================—————-
    semoga

  22. wah sulit aku menafsiri puisinya pak. kalo ada jas hujan,layar kaca, pembawa berita apakah ini bertanda bahwa puisi ini bercerita tentang hujan yang dalam berita ada daerah yang kering karena tidak turun hujan sementara daerah lainnya menimbulkan banjir sampai sampai kota itu lenyap. he he kalo salah dimaafkan ya.
    —————-================————–
    tentang makna terserah yang membacanya

  23. mantabs.. puisi akhir tahun
    —————==============—————
    terima kasih

  24. mas….mksh dah mampir…jauh jauh, ketemu di fb…hehehehehe…salam koimpak.😀
    —————-===================————–
    salam

  25. ya kita tahu ini buklan salah dia,
    kalau mereka datang banyak karena aktivitas kita yang berlebihan, kalau mereka murka karena memang tempat tinggalnya telah tandus
    ———=============————-
    betul pak budi, ini justru karena kitalah yang berlebihan sehingga muncul reaksi yang seperti itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: