20 Komentar

Tinggal selarik doa

Awal, Agustus 97
Meski berselimutkan gigil kupaksakan juga ke rumah Pak Kades. Jalanan sepi, maklum mana ada yang mau kedinginan di luar rumah. Televisi filmnya bagus lagi. Mungkin pula sedang bermain bulu tangkis di balai desa. Anak-anak kalong ke mana ya? Nonton kungfu sambil ngopi dan ngerumpi atau main corat coret sembarang kertas. Bisa jadi.

Kubekap mulutku dengan kain sarung menghindari sodokan kabut. Was-was kalau tiba-tiba laringitisku tiba-tiba kambuh. Masih segar dalam ingatan setahun yang lalu saat aku kuliah kerja nyata nyaris pingsan, gara-gara kebanyakan menghirup kabut campur debu. Dadaku megap-megap.

Ijin penelitian tidak sulit untuk kuperoleh, Pak Kades oke-oke saja. Lahan milik siapapun aku boleh tentukan sendiri. Waktunya juga terserah aku. Hanya saja tidak mungkin saat ini, tak ada yang berani menanam, takut embun upas tiba-tiba mengganas. Berarti aku tinggal menyusun proposal dan seminar Ry. Ya, aku harus mempertahankan di depan komisi skripsi. Insya Allah tak akan lama lagi.

Aku akan menjadi sarjana Ry, heboh nggak! Ibu pasti bahagia Ry. Bayangkan tiap praktikum selalu berkutat di laboratorium, betapa bosannya. Kini aku bisa leluasa di sini. Penelitian jalan terus, refresing tak ketinggalan. Teman-teman mikrobiologi mengeluh mahalnya ongkos, entah bahan, bisa pula pustaka. Aku di sini Ry… jangan bilang-bilang, rahasia ya (nyaris gratis he he he).

4 Desember 1998
Astaghfirullah. Hampir saja aku menggugat kehendakMu ya rabbi. El Nino Ry. El Nino datang tahun ini. Praktis memporandakan jutaan rupiah investasi petani. Lebih tragis lagi tak ada satupun yang berani menanam kentang. Tak ada yang mau ambil resiko kentangnya busuk. Aku Ry, tak bisa berbuat apa-apa. Rencana penelitian yang telah kususun rapi kini berantakan. Cerita pada ibu waktu itu kini tumbuh menjadi rasa malu. Mundur satu bulan penelitian berarti mundur satu kali masa wisuda. Itu berapa lama Ry? Tiga bulan, ya aku harus mundur minimal tiga bulan. Itu kalau El Nino sudah lewat, jika belum? Duh Ry, malunya..

21 Februari 1999
Sebenarnya El Nino belum sepenuhnya berlalu. Namun sedikit agak surut. Satu dua petani sudah ada yang berani berspekulasi. Jika sukses berarti untung besar, kalaupun gagal ya itung-itung coba-coba. Aku nekad mengambil data. Resiko terberat paling diwajibkan mengulang oleh profesor. Keuntungannya aku bisa segera jadi sarjana.

Menghitung ulat Ry, yang menempel pada daun tanaman kentang. Phthorimaea operculella entah apa nama menurut orang dieng. Tidak ada yang lebih dari satu setengah sentimeter panjangnya. Berwarna putih susu. Itu kata Kalshoven dalam Crop Pest In Java-nya yang aku kutip dari perpustakaan kampus. Bisa kebayang nggak Ry, tingkat kerumitannya. Teramat pagi aku sudah membolak-balik tanaman kentang. Kabut belum juga beranjak pergi. Matahari baru berupa bola merah di cakrawala timur. Kuhitung-hitung ini baru permulaan. Sayang tak ada satu larva pun yang aku temukan. Tapi nekad sajalah, biar dalam laporan nanti kutuliskan pengamatan pertama belum ditemukan. Alasannya apa? Ah, itu urusan nanti. Mudah-mudahan Kalshoven memberikan jawaban.

9 Maret 1999
Ternyata profesor setuju saja Ry. Tapi bagaimana ya, dari mulai penngamatan pertama sampai kini sangat sedikit ulat yang bisa dipelototi. Paling banter enam larva itupun tak lebih dari sepuluh batang, padahal yang diamati 150-an batang. Berarti rata-ratanya saja masih di bawah satu Ry. Memang kebanyakan tidak kutemukan seekor pun. Padahal menurut Soriaatmadja bisa mencapai rata-rata lima hingga enam larva per tanaman. Bodo ah, toh ini masih sisa-sisa el nino. Wajar kan! Alasan yang bisa aku kemukakan kira-kira begini: curah hujan mempengaruhi pertumbuhan populasi Phthorimaea operculella. Semakin tinggi curah hujan semakin sedikit populasi yang survive. Istilah kerennya tingginya curah hujan berbanding terbalik dengan pertumbuhan populasi hama. Siplah.

Alasan yang klop bukan! sebentar Ry, curah hujan? Lho, itu artinya aku harus menyertakan pula data curah hujan. biar kuat dong argumennya. Hmmm, kemana nih… sebaiknya aku ke kantor Kecamatan Batur saja deh. Itu lho dekat pasar. waktu KKN dulu kan sering ke sana makan bakso dan itu tuh hampir… malu ah.

9 September 1999
Entah ada apa ini, semuanya kacau. Masya Allah Ry, aktivitasku kacau balau. Nyaris tak ada yang beres. Tilawah banyak bolongnya, apalagi qiyamulail, lebih payah lagi. Yang tak habis kumengerti Ry, skripsiku tak juga kelar-kelar kukerjakan. Kemaren profesor lebah itu menegurku. Kok begitu lama belum kelar juga. Aku harus jawab apa Ry, toh aku tak mempunyai alasan apapun. Tadinya memang aku ada gangguan mag, tapi kan hanya satu minggu. Terus yang tiga minggu? Ah, aku tak sanggup menjawabnya Ry. Tak ada alasan apapun yang dapat membenarkan kesalahanku ini.

Bukankah selama satu pekan itu aku minum antibiotik. Apakah yang kurasakan ini adalah efek, sehingga sangat susah untuk sedikit berfikir yang serius? Entahlah, toh aku memang sedang susah untuk berfikir, apalagi yang berat-berat.

10 September 2000
Pagi ini kudapati Koran begitu ngeri lagi Ry. condong Ry. Innalillahi. Embun upas menyapu dataran tinggi Dieng. Entah berapa juta investasi petani lenyap. Pemerintah pun tak kan sanggup menghadangnya. Aku hanya bisa menyambutnya dengan doa, semoga mereka masih mempunyai persediaan makanan untuk musim dingin kali ini.

Sudah berapa lama ya aku belum juga ke sana. sepertinya sudah satu tahun lebih. Rindu aku sama belaian kabut yang menggemeletukkan tulang belulang. Belum pernah aku menyaksikan langsung embun upas turun. Sayang aku tak bisa ke sana. Sangat banyak tugas-tugas yang harus aku selesaikan saat ini. Nanti saja kalau sudah ada waktu senggang.

9 September 2001
Ingat nggak Ry waktu pertama kali aku mengenal lekuk indahnya bumi Dieng? Ada satu doa yang aku panjatkan. Sangat awal. Ketika si Amir mabuk tak tahan meliuknya jalan pegunungan, Rudi, Mila, Indah, Dodi sedang tiduran, dan entah siapa lagi ngobrol tak mempedulikan teman-teman membutuhkan istirahat. Aku hening sendiri. Hatiku melepaskan asa. Dieng semoga menjadi masa depanku. Awal aku menjadi seorang penulis.

Hari ini Ry, ya hari ini aku mendapat amanah memimpin sebuah komunitas para penulis pemula. Perjalanan yang panjang. Nyanyian Kabut Senja, cerpenku tentang Dieng yang menusuk tulang, adalah awal debutku menulis, meskipun bukan yang pertama dimuat di media lokal. Dieng memang penuh kenangan. Aku tak bisa melupakannya begitu saja. kapan ya, bisa main ke sana?

Oktober 2001
Ry, aku sudah tidak ingat lagi sudah berapa lama tidak main ke Condong. Tak tahan akan kerinduan hembusan kabut. Terlebih-lebih wajah cerah Pak Kadus selalu lekat di pelupuk mata. Tiba-tiba wajah itu memuram.

Hatiku remuk begitu tahu apa yang terjadi. Penyesalan demi penyesalan yang takkan mengembalikan keadaan. Pak Kadus Ry! Beliau… sudah… benar-benar tak tahu diri. Kenangan-kenangan indah memberat di mata. Tak ada yang sanggup aku lontarkan. Aku ingin teriak, ingin melepaskan semuanya, tapi tak ada satu penggal kata pun yang keluar. hanya selarik doa mengendap di benak.

20 comments on “Tinggal selarik doa

  1. ehm..meski ini campuran fiksi & nyata, malah mengingatkanku pada kegagalan di akhir masa penelitian yg membuat mudurnya jadwal wisuda, duluuuu…. airmata yg membuat tawa makin berharga…🙂
    ——————-=====================————–
    kalau sampai keluar air mata sih, saya tidak mengalami, mundur wisuda memang itu yang terjadi

  2. Penuturan seorang ilmuwan dalam balutan bahasa sastra yang indah! Bagus banget, Pak.
    Cuma aku jadi mikir sendiri nih.. Apa yang terjadi dengan pak kepala dusun Dieng itu? mengapa wajahnya yang cerah tiba-tiba memuram? Apakah ada yang telah berbuat tidak baikkepadanya? Atau beliaunya yang berbuat tidak baik..sehingga keluar kalimat ..benar-benar tidak tahu diri.
    ————-=====================————
    itu perasaan si aku (tokoh) bukan apa yang terjadi pada pak kadus, berita yang diterima adalah berita yang menyebabkan si aku tokoh tak bisa lagi bertemu dengan pak kades

  3. Saya jadi ingat saat penelitian, karena saat itu untuk menjadi sarjana pertanian harus melakukan penelitian. Saat tanah telah dipenuhi tanaman jagung dan kedelai yang subur, dan siap mengukur lebar daun, batang, serta cahaya yang masuk sampai ke daun kedelai….tiba-tiba ulat menyerang. Terpaksa penelitian diulang, akhirnya yang seharusnya bisa selesai 6 bulan menjadi mundur satu tahun…syukurlah akhirnya semua berlalu.
    ————-======================———–
    tulisan ini campur aduk antara fakta dan fiksi

  4. Selarik Do’a. Pamungkas yang indah, disaat semua seperti menjadi batu, disaat-saat seperti inilah do’a menjadikannya cair. Dan kemudian si Aku-nya menjadi guru dan ngeblog😀
    ———–============———-
    ah mas Adi tahu aja, yang mana ya si Aku nya yang menjadi guru dan ngeblog

  5. inspiring bangat ceritanya🙂

  6. Pengalaman pribadikah?
    sangat menarik,
    ————==============——-
    siapa bilang?

  7. like it! like it! like it!^^
    ————=============——-
    jempol jempol jempol

  8. lalu apakah si aku akhirnya bisa menyelesaikan penelitiannya dan lulus?
    mungkin tidak ya pak
    ————==========———–
    sekarang sudah jadi guru

  9. waduuh. . .
    idah telat baca. . .

    ceritanya baguuus bangeeeeet kak. . .🙂
    ————-===============————-
    terima kasih atas apresiasinya

  10. seperti monolog.. keren pak😀
    ————===========———–
    saya memang suka menulis dengan gaya seperti ini

  11. Dieng yang sangat ingin kudatangi.

    Bertanya2 hal buruk apa yg terjadi sama pak kadus
    ———–=============———
    dalam kisah ini…..
    tafsirkan sendiri

  12. postingan yang sangat menarik🙂
    sangat bermanfaat.. ^_^
    keep posting yaa..

    ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
    kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama..🙂

  13. your post is nice..🙂
    keep share yaa, ^^
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih..🙂
    ————-============————
    sip

  14. Sungguh kisah yang menyentuh dan membangkitkan semangat saya..
    ————=========————
    terima kasih

  15. perjalanan hidup yang menginspirasi, penuh perjuangan dan berliku…
    ————========——–
    tak selamanya jalan itu lurus dan mulus

  16. tulisan tentang buku harian seorang yang hatinya galau,membuat pembacanya mengerutkan dahi sambil bertanya dalam hati :
    Apa yang kau cari ……?”
    ———-==============————-
    yang kucari banyak hal

  17. keren…
    ———–===========————
    terima kasih

  18. aku juga mau mematangkan diri menjadi kritikus pak narno. siapa tahu jadi pelanjut H.B Yasin seperti harapan dosenku di UT yang tak kenal wajahnya karena hanya bertemu via online saja. semoga semakin sukses kiprah pak narno dalam kesastraan.
    salam dari guru bahasa indonesia yang ingin mengasah ilmu kritik sastranya.
    ———–==============————
    terima kasih Bu telah memberikan dorongan semangat untuk terus berkarya

  19. mas ini lama engga muncul, ketika muncul banyak bicara…hehehehe
    bahasa penyampaiannya saya suka mas..
    ———=============———–
    baru sempat muncul, terima kasih atas apresiasinya

  20. aduh pak kadusnya kenapa, ya? memangnya apa yang telah diperbuat pak kadus? sehingga membuat sang tokoh cerita sampai melantunkan doa? padahal awal cerita tokoh pak kadus berkarakter protagonis.
    Cerpen adalah cerita habis dibaca sekali duduk. maka dalam cerpen hanya mencerita satu peristiwa dengan alur tunggal. mengakhiri cerita dengan gaya menggantun bisa dilakukan penulis. tetapi penulis tetap harus menampilkan alur logis. sehingga pembaca dapat menyimpulkan akhir cerita sendiri brdasrkn paparan2 penulis
    ————-============——————–
    terima kasih BU atas, masukannya semoga mematangkan kepenulisanku di masa mendatang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: