12 Komentar

Simpan Saja Rindu Itu

Mutasi kali ini terasa sekali efeknya, meskipun sebenarnya bukanlah sesuatu yang istimewa. Pergiliran tugas yang sudah biasa terjadi, tak perlu disertai intrik-intrik untuk mendapatkan posisi. Toh sama-sama bekerja, tetap saja mengabdi.

Dulu yang biasanya aku enjoy dengan posisi ngobra-abrik huruf, sesekali juga masih sempat menata huruf demi huruf menjadi katakanlah sebuah puisi atau sekedar ngulik novel, rasanya kini harus sedikit menjaga jarak, agar tak menabrak yang di depannya. Bukankah kehati-hatian itu memang perlu?

Biasanya kalau akhir tahun ajaran begini aku menikmati santai dan bebas berselancar didumay untuk melakukan anjangsana ke para sahabat atau memuaskan diri mencari kata menelisik kalimat yang menggelitik rasa. Kini rasanya harus kutahan agar tak menyebabkan kerugian terutama pada diriku sendiri.

Kok diri sendiri yang dipikirkan sih, bukankah habis mutasi harus mempertahankan prestasi.

Nah itu dia. Jeratan angka-angka yang kini harus kugeluti tiap hari agar bagaimana jadwal yang telah ditetapkan kementrian dan dijabarkan lebih lanjut sampai ke level diriku ini tak menyisakan satu anakpun yang masih betah di kelasnya. Tentu dengan harapan dengan perolehan angka yang memuaskan bagi semua pihak tanpa melupakan etika sebagai santri.

Sebuah tugas baru, yang rasanya tak ada usainya. Sekarang anak level tertinggi hingga akhir bulan ini. Selepas mereka masih ada dua angkatan adik kelasnya yang juga harus diurus secara maksimal. Dan masih lagi obsesiku untuk membenahi administrasi teman-teman agar lebih profesional lebih mencintai amanah ini melebihi sebelumnya. Aku ingin maju bersama-sama, bukan sekedar mendorong teman-teman tanpa aksi, bukan pula ingin maju sendiri tanpa peduli yang lain.

Mungkin di tempat lain tak seribet ini. Sangat terasa betapa harus banyak menyisihkan waktu untuk memetakan anamah teman-teman hingga tak ada yang merasa dirugikan, meskipun ini sesuatu yang mustahil, setidaknya diupayakan bisa optimal sesuai dengan amanah undang-undang yang harus memenuhi 24 jam per pekan. Memetakan 77 rekan untuk 37 ruang dengan masing-masing ruang kebagian 51 jam.

Inilah mengapa tak kutengok puisi, tak segera menyelasaikan postingan novel, padahal juga merupakan bagian dari tugas menyortir buku untuk keperluan perpustakaan.

Sepertinya memang harus kusimpan dulu rindu itu, sampai suatu saat bisa menyeimbangkan antara kesukaan pada huruf huruf dengan tugas yang baru ini

12 comments on “Simpan Saja Rindu Itu

  1. I am surfing this post and thinking of it’s theme and attempting to understand what’s this post about. adsfasdf

  2. Tetap semangat, Pak…
    ———–============—
    oke sip

  3. Buzzz Buzzz Buzzz

    Maju trussss😀

  4. Selamat menjalankan tugas baru pak, amanah yang dipercayakan. Salam
    ————–================————
    tugasnya baru, tapi tempatnya kata Bundo hanya sepelemparan sendal saja

  5. semoga betah y pak…

  6. Posisi baru, tantangan baru tapi saya yakin akan dapat menyesuaikan diri.

  7. Selamat tugas pak, semoga senantiasa diberi kemudahan.

  8. tempat baru ya pak. .
    tnetunya dengan semangat baruu. . .
    selamat menjalankan aktivitas ya pak, semoga selalu dimudahkan untuk segala aktivitas. . .

  9. selamat bekerja pak, #loh😀

  10. selamat menikmati sajadah baru, mas..🙂

  11. kerinduan itu akan terbayar ketika waktu berpihak padamu, Mas
    selalu sehat dan sukses ya Mas Narno🙂
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: