16 Komentar

Mengunyah Cahaya Bulan (Re Post)

Tentu terasa asing bagi sobat semua tentang judul yang saya sematkan kali ini. Tiga kata aneh tersebut juga bukan asli hasil karyaku, namun merupakan buah perenungan seorang penyair yang sempat saya kenal. Dan bukunya kutemukan di sebuah toko buku yang sebenarnya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

Saat itu sebenarnya saya hanya iseng-iseng saja ke sebuah mall dan tempat yang kupilih adalah deretan buku (satu hal yang tak bisa lagi kutemukan di Kuningan, kenapa ya Mas Vyan?).

Saat itu sebenarnya statusku sudah tinggal di kampung manis, namun karena ada sesuatu hal maka kusempatkan singgah sejenak ke kampung lama di Purwokerto sambil bernostalgia di mall tempat yang paling sering kukunjungi karena hampir setiap awal bulan ada saja buku yang memikat kepenasaranku. Dan kali ini rasa penasaran itu tertembuk pada sebuah judul Aku Mengunyah Cahaya Bulan dan setelah kubolak-balik ternyata buah karya seorang penyair yang sudah lama saya kenal. Beliau tinggal satu kota denganku, tentu sebelum kepindahanku ke tatar sunda. Namun sudah sangat lama saya tidak bertemu lagi dan kabar terakhir yang saya terima beliau juga sudah tidak bersama istrinya lagi. Hal ini diperkuat dengan beberapa buah puisinya yang isinya menjelaskan perpisahan itu karena lebih dulu menghadap yang maha kuasa.

Aku mengunyah Cahaya Bulan ada sebuah prasasti perjalanan karier perpuisian seorang penyair bernama Dharmadi. Di dalamnya memuat 56 judul puisi pilihan yang beberapa di antaranya juga pernah dimuat dalam kumpulan puisi yang lain. Angka 56 memiliki makna tersendiri karena puisi ini diterbitkan dalam rangka memasuki masa pensiun di usianya yang telah 56 tahun setelah sekian lama mengabdi sebagai PNS sembari tetap mempertahankan kebiasaannya merenungi alam ini untuk mewedarkan dalam bentuk puisi.

Maka saya pilih Aku Mengunyah Cahaya Bulan sebagai salah satu koleksi sebagai bentuk kecintaanku pada puisi sekaligus pengharmatanku pada beliau sebagai pengingat bahwa kami pernah saling bertukar pikiran dan tentu sayalah yang banyak menimba pengalaman dari beliau.

16 comments on “Mengunyah Cahaya Bulan (Re Post)

  1. Ternyata dulu saya belum membaca tulisan ini😀
    Mengunyah cahaya bulan, diksi yang unik. Meski sebenarnya kata ‘mengunyah’ itu menurut saya memang bisa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang kita sukai. Misalnya saja saat saya membaca novel yang saya sukai, saya merasa seperti sedang mengunyah kalimat2 di novel itu😀

  2. menarik…salam kenal ya
    —————=============—————
    salam kembali

  3. mengunyah cahaya bulan, judulnya saja sudah menarik, dan yakin isinya juga penuh kata2 indah dlm puisi
    dan, tentunya bikin penasaran……….
    salam
    ————-======————-
    bagiku sangat menarik Bunda

  4. kereeeeeeeen judulnya🙂
    ————============————-
    terima kasih

  5. Judul postinganya MANTAP….BESOK bikin lagi MENJLATI MATAHARI
    ———============———–
    sudah didahului sama God Bless

  6. gigiku nggak kuat ngunyah bulan, mas… digerus aja ya…😀
    ————-============—————
    monggo kerso

  7. ketika “Aku Mengunyah Cahaya Bulan”…..aihhh indahnya…🙂
    salam kenal sob 🙂
    ———=======———–
    salam

  8. membayangkan bagaimana ya rasanya mengunyah bulan ya ? ….. seperti membayangkan pengen sekali menjaring matahari saat me,buru sunset atau sunrise di kampungku🙂
    ————–=========————-
    menjaring matahari? sepertinya indah banget tuh

  9. dan saya pun baru rilis antologi puisi mas.. hehe😀

    membuat puisi itu kadang sanga mengasyikkan.. salam sastra deh. hehe..
    –==========———–
    mau dong puisinya

  10. macam permen aja kang dikunyah😛
    ———–============———
    mungkin

  11. jadi inget lagu ini :
    bubuy bulan, bubuy bulan sangray bentang.. panon poe, panon poe di sasate..

    😀
    ———–=============———
    indah nian

  12. keindahan puisi tidak hanya terletak dari rangkaian kata tetapi lebih dari itu. puisi menjadi terasa indah dan penuh makna karena disampaikan dari hati dan berisi kebenaran. salam persaudaraan.
    ————=======———–
    salam

  13. salam persahabatan…:)
    —————-============———–
    salam

  14. Judulnya puitis banget, mengunyah bulan. Saya tuh emang sering takjub melihat cara-cara penyair menemukan kombinasi kata-kata. Entah apa yg berkelebat dalam kepala mereka. Yang jelas saat kombinasi kata itu sampai ke kita, kita dapat membayangkan sesuatu yg indah…Salam selamat pagi Mas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: