10 Komentar

Sekedar Interupsi

Tak jarang guru baru, dan saya sendiri pun pernah mengalami merasa gamang dengan hasil belajar yang diperoleh oleh peserta didik. Istilah sekarang banyak anak-anak yang tak mencapai KKM alias belum tuntas dan akhirnya gurulah yang kalang kabut bagaimana agar tuntas dengan berbagai macam tipe remedial yang dijalankan.

Tahun pertama biasanya masih bisa menghibur diri, toh ini pengalaman baru wajarlah kalau begitu. Tapi kalau tahun-tahun berikutnya masih juga mengalami hal yang sama, tak bisa lagi menghibur diri demikian.

Bagi yang tak mau ambil pusing, cukuplah ambil kesimpulan dasar peserta didik yang kemampuannya segitu-gitunya, mau diapakan lagi. Kewajiban sudah ditunaikan, evaluasi pembelajaran telah dilaksanakan, kalau hasilnya masih ada yang di bawah standar ya itu kan kemampuan anak itu berbeda-beda. Ada yang melejit mendominasi perolehan angka-angka hingga menjadi juara kelas, ada pula yang hanya pengumpul standar minimal belaka yang bahkan terancam harus rela meninggalkan teman-temannya.

Saya dulu pun begitu. Menimpakan kesalahan sebagian besar pada kemampuan anak yang segitu-gitunya. Intinya merasa pokoknya saya sudah berusaha maksimal dalam mengantarkan anak-anak menuju pemahaman ilmu yang lebih baik. Semua yang harus saya sampaikan sudah saya jabarkan dalam tiap pertemuan. Sesuai dengan teori normalitas dalam statistik, bukankah memang ada sebagian kecil yang tertinggal, maksudnya memiliki prestasi yang berada di level bawah, dan sebagian kecil lagi yang melejit level atas dan yang sebagian besar berada di papan tengah.

Kini kusadari, itu semua hanyalah sebuah upaya pembenaran karena ketidaktahuan diri saya sendiri. Kalau kita mau jujur dan mau menanyakan pada diri sendiri benarkah upaya yang telah kita lakukan selama telah optimal? Selanjutnya sudahkah evaluasi yang kita lakukan selama ini telah benar-benar mewakili ranah kemampuan peserta didik?

Lagi-lagi jawaban spontan yang akan muncul adalah semuanya telah dilakukan. Proses pembelajaran maksimal, apalagi penilaian hasil belajar. Ulangan harian per bab, tugas tambahan agar nilainya bagus sudah diberikan juga. Tes akhir semester apalagi, kan mengikuti jadwal resmi dari instansi terkait.

Oke, kalau jawabannya seperti itu, saya juga sepakat. Tapi sudahkah kita memahami bahwa tes yang kita lakukan selama ini sebagian besar hanya pada ranah kognitif belaka, lebih dominan mengharapkan bagaimana anak sukses menghafalkan apa yang kita suapkan tiap pertemuan itu. Kita akui atau tidak bentuk tes yang kita suguhkan sebagian besar memberikan peluang kepada peserta didik untuk melakukan undian (bukankah soal dalam bentuk pilihan ganda mudah diundi pilihannya?). sangat jarang kita membuat tes dengan model uraian yang bisa menggambarkan kemampuan tidak hanya dalam hal menganalisis permasalahan, namun juga lemah dalam hal bagaimana mengungkapkan pendapatnya dalam kalimat yang enak dibaca.

Saya juga paham, tes model pilihan memang praktis, banyak materi yang bisa diujikan sekaligus, juga praktis dalam mengoreksinya tak kan muncul kekhawatiran penilaian yang subyektif karena kemungkinan jawabannya hanya benar atau salah, tidak ada yang masuk wilayah abu-abu.

Mohon maaf pada sesama guru ini hanyalah sebuah renungan, yang semoga tak menyinggung siapapun kecuali diri saya sendiri yang sedang belajar untuk semakin memahami bagaimana proses pembelajaran yang efektif itu. Mohon maaf pula tulisan ini belum bicara tentang solusi,semoga akan lahir dari perenungan episode berikutnya.

Iklan

10 comments on “Sekedar Interupsi

  1. problematika pendidikan di Indonesia…
    hah, saya pernah merasa jadi anak didik level atas yang melejit meninggalkan kawan-kawannya sekaligus pernah pula merasakan menjadi anak didik level bawah yang harus rela ditinggalkan kawan-kawannya
    ————==============——-
    bagaimana ceritanya bisa demikian? unik sepertinya

  2. selamat hari Guru 🙂
    ——=======————
    terima kasih

  3. Dulu waktu sekolah saya lebih suka menjawab essay ketimbang pilihan berganda. Dalam essay saya bisa ngecap dan mengembang pemikiran yg saya cuma tahu sedikit . Biasanya guru juga akan memberi nilai lebih oleh jawaban ini. Berbeda dng pilihan berganda, saklek banget. Salah ya salah saja tak ada ruang bagi penilaian bahwa saya telah berusaha mengembangkan logika atas pokok permasalahan yg ditanyakan. Mestinya essay lebih dikembangkan ya Mas Narno…
    —————==========——–
    sebenarnya saya juga lebih suka soal essay tapi untuk sekarang susah memahami bahasa anak-anak

  4. Berat banget tanggung jawab sebagai guru ya, Pak…
    Bersikap cuek, tentu lebih gampang. Namun kasihan murid2nya juga ya…
    ————============———
    bersikap cuek sebenarnya hanyalah menumpuk masalah saja, namun seringnya tak tersadari

  5. Saya setuju saja dengan pendapat kamu, gan….
    ———-===========————–
    sip

  6. Salut seklai atas tulisan ini Pak Narno..
    ———=============———–
    terima kasih

  7. tantangan berat bagi guru dari peserta didik yang berkarakter suka ngobrol dengan teman saat pelajaran, terutama siswa laki laki. kemarin saya juga gresah empat kelas dg menggunakan model pembelajaran yang berbeda pd Kd yg sama . hasilya tidak memuaskan.
    ————–================———–
    haduh, sedih ya Bu, kalau sudah seperti itu. kita benar-benar sudah berusaha namun anak-anak kurang kooperatif setidaknya dalam memahami apa yang dipelajari

  8. Kemampuan mengemukakan pendapat melalui model uraian sangat membantu guru dan murid untuk evaluasi pencapaian pemahaman konsep, penerapan bahkan tataran evaluasinya. Terima kasih Pak telah berbagi, selamat mendidik.
    ————–=============————
    namun test yang paling sering digunakan lagi-lagi pilihan ganda bu, ya dengan berbagai alasan itu

    • bener mas, setahuku dulu jg bgt ya pilihan ganda yg sering digunakan
      ————-===============———-
      kalau mengacu ke ujian nasional yang pakai pilihan ganda

  9. hehhe.. aku sbg orang tua skrg sdg berjuang dengan satu ponakan yang nilainya masih di bawah KKM.. tak ingin menyalahkan siapa2.. memang harus berjuang bersama2.. orangtua, guru dan siswa itu sendiri. 🙂
    —————–==============———
    begitulah idealnya pendidikan, namun tak jarang pula orang tua menyerahkan sepenuhnya anaknya ke sekolah, jika timbul masalah cukup menuding sekolah tak becus mengelola padahal anaknya yang memang bermasalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: