11 Komentar

Introspeksi yang terkena Interupsi

Ternyata Introspeksiku tentang bagaimana menjadi guru, mendapatkan interupsi dari anakku yang terkena tai kotok, hingga sedikit terlambat sampai di tempat kerja.

Kini, terutama dua tahun terakhir saya mendapatkan pencerahan yang luar biasa mengenai bagaimana sebaiknya mengelola pembelajaran agar peserta didik tak banyak yang tersangkut saringan KKM. Pernah dalam diskusi antar mahasiswa yang waktu itu saya sebagai pemakalah mendapatkan pertanyaan dari teman bahwa apa yang diujikan seringkali berbeda dengan apa yang telah disampaikan kepada peserta didik kita. Kita begitu banyak menyampaikan pembelajaran namun ketika diadakan penilaian hanya sedikit sekali yang diujikan.

Sejujurnya saya sangat terkejut sekaligus heran dengan pertanyaan tersebut. Kenapa demikian? Apa sebab? Bukankah penilaian itu kita yang melakukan, pembalajaran juga kita yang melakukan, kok bisa berbeda begitu jauh.

Asumsi yang nyangkut ke dalam pemikiran saya dan ini juga berdasarkan data yang tak diuji secara statistik, namun data riil yang seharusnya masuk menjadi wilayah kerjaku, tapi hampir-hampir tak ada yang menyerahkannya. Ketika guru melakukan proses belajar mengajar itu pedoman apa yang digunakan. Apa berdasarkan apa yang ada di dalam benaknya itu disampaikan, atau apa yang ada di dalam buku itulah yang dibacakan. Kalau hanya mengandalkan dua hal ini apalagi yang pertama kemudian ketika mengadakan penilaian kalau kemudian hasilnya kurang memuaskan ya sangat wajar.

Jawaban yang saya kemukakan: kalau kita melakukan proses pembelajaran berdasarkan rel yang telah kita buat (RPP, silabus) kemudian ketika dalam melakukan penilaian juga masih berpedoman pada rel tersebut, maka ungkapan apa yang disampaikan hanya sebagian saja yang diujikan itu tidak akan ada. Kenapa tidak ada? Karena kedua-keduanya berdsarkan pada rel yang sama, maka keduanya tentu sejalan, misalnya kita melakukan pembelajaran sebanyak sepuluh hal, ya sepuluh hal itu pula yang kita nilai dari peserta didik. Semua teruji kan?
Sebenarnya dengan kita meyiapkan rel di awal tahun ajaran sangat membantu selama satu tahun. Arah pembelajaran lebih jelas, tidak akan ngelantur kemana-mana, bukan berarti kaku, namun tetap mengikuti perkembangan jaman tentu sesuai dengan materi yang sedang kita bicarakan di kelas bukan menyambung-yambungkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.

Ah, semakin banyak saya renungkan ternyata semakin banyak pula kekurangan diri ini. Meskipun bilangan sepuluh tahun sudah lewat, namun pengalaman itu belum ada apa-apanya ketika bersinggungan dengan ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Bagaimana agar menjadi lebih baik.

11 comments on “Introspeksi yang terkena Interupsi

  1. Sulitnya jadi guru…😦
    Guru yang bijak pasti akan peduli banget terhadap pemutakhiran ilmu pendidikan🙂
    —————==============—————
    semoga saya termasuk ke dalamnya, amin

  2. Wah pengalaman berharga dalam dunia perguruan nih🙂
    Tolong dibaca sejenak ya🙂
    http://s4ngp3ngkh4y4l.wordpress.com/2012/12/02/rumah-baca-kaisa/
    ———–=============———-
    sip

  3. nggak selalu mudah ternyata ya mas jadi guru itu
    ————–===============———-
    semua pekerjaan pastilah ada resikonya

  4. Yeah berawal dari diri sendiri dan anda pasti bisa meginspirasi jutaan murid dan bermanfaat buat nusa bangsa
    —————–===============—————–
    terima kasih

  5. Jadi guru ternyata ribet juga ya. Sukses ya mas
    ——————-===========—————-
    ga juga kalau dijalani dengan ikhlas

  6. apapun itu tetap semangat ya mas.. kuncinya, terus mengabdi dengan nurani.. Insya Allah gak salah jalan. #aku sok ngajari pak guru..😛
    —————==============————–
    oke, terima kasih

  7. betul pak narno kita belum dapat sosialisasi rpp berkarakter. kurikulum dah ganti kalau kita tak belajar cari info sendiri di internet gak akan terwujud buat rpp berkarakter. sungguh saya heran pas buat PAK rpp yg dikumpulkan sang guru murni hasil donloutan he he padahal itu hanya panduan.
    —————–=================——————-
    saya bingung sama para petinggi di sana

  8. yang aku perhatikan setelah semakin banyaknya “orang pandai /cendekia” sebagai penentu kebijakan, semakin amburadul tatanan pendidikan di negara tercinta ini, sehingga pendidikan hanya menjadi ajang “uji coba” pemikiran para “cendekia” diatas… :miris:
    Semoga mas Ustadz tetap menjadi guru yang sebenarnya.. Semangat..!!
    ————–===============————
    yang paling repot ya seperti kami ini, satu kurikulum belum stabil sudah muncul yang baru lagi, kemaren belum mendapatkan sosialisasinya kini harus siap-siap ganti yang baru, dan tetap saja kebijakan leve atas tak sampai ke ujung tombak, tapi kalau ada problem, terbawahlah yang kena tuding

  9. belajar memang tak kenal waktu dan usia ya Mas
    ilmu pengetahuan terus berkejaran dengan kita dalam pencapaiannya

    semoga selalu sehat dan sukses ,salam hangat utk keluarga Mas.
    salam
    ————-============——–
    kalau tidak mau belajar lagi, meskipun sudah berpredikat sebagai guru ya tetap saja akan ketinggalan, terima kasih atas doanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: