6 Komentar

Mainkan Pena Ubah Dunia

Mainkan pena ubah dunia. Mungkinkah itu terjadi? Kalaupun mungkin apakah kita bisa ambil bagian di dalamnya? Tentu kita masing-masing memiliki jawaban sendiri-sendiri. Tengoklah peristiwa besar yang pernah terjadi. Apa yang menyebabkan suburnya komunisme, diawali oleh adanya Das capital nya Karl Max dan The Origin Of Spesies nya Charles Darwin. Mengapa revolusi Perancis pecah, salah satunya dipicu oleh karya Montesque yang diberinya judul Trias Politika. Lantas apa yang dilakukan oleh Khalifah Utsman agar Al Quran tidak hilang bersamaan dengan syahidnya pada hufadz, beliau memerintahkan menuliskan ayat-ayat Al Quran menjadi sebuah mushaf yang kemudian kita kenal dengan istilah mushaf Utsmani.

Atau jika masih ingin melihat bukti-bukti lain, tidak usah jauh-jauh ke masa lalu, kita perhatikan saja media massa sekarang ini. Kabar apa yang ada, satu sumber berita tetapi isinya bisa berbeda-beda, secara logika itu mustahil, tapi pada kenyataannya itulah yang terjadi. Kenapa? Jawabannya adalah siapa yang menuliskan semua itu, maka dari mukadimah itu dapatlah kita ambil kesimpulan memang benarlah memainkan pena bisa mengubah dunia.

Berbicara tentang jurnalistik, sangatlah panjang. Banyak tema, banyak bagian yang bisa dikupas. Ada pembahasan tentang fiksi, ada pula non fiksi. Bisa saja kita membicarakan non fiksi yang di dalamnya ada berita, artikel, opini, yang masing-masing memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Demikian pula di ranah fiksi ada novel, cerpen, puisi, esay yang masing-masing tak dibisa diklaim lebih unggul dari yang lain.

Baiklah, karena begitu luasnya bahasan jurnalistik, maka kita awali saja dari apa tujuan kita menulis. Kita semua berhak menentukan tujuan menulis. Ingin mengubah dunia? Silahkan. Ingin mendapatkan materi yang berlimpah? Boleh. Ingin tenar? Itu sangat mungkin. Tanpa tujuan? Ini yang mustahil. Bagaimana mungkin melakukan sesuatu tanpa tujuan, sekecil apapun pastilah tujuan itu ada.

Pepatah lama yang menyebutkan mulutmu adalah harimaumu, juga berlaku dalam hal tulisan. Tulisanmu adalah harimaumu. Jadi perlulah berhati-hati ketika ingin mempublikasikan tulisan. Kok mempublikasikan, menulisnya sendiri bagaimana? Menulislah dengan segenap emosi agar tulisan menjadi terasa hidup, tetapi pergunakanlah logika se banyak-banyaknya untuk mempublikasikasannya agar tak bertubrukan dengan kepentingan orang lain.

Kembali ke masalah tujuan, apa sebaiknya tujuan kita dalam menulis. Saya kembalikan kepada masing-masing untuk merumuskannya. Namun hal penting yang perlu kita camkan adalah, jika kita telah mengikrarkan diri sebagai dai, maka dimanapun kita berada, apapun profesi kita sikap dai itu tak bisa kita dilepaskan. Artinya jika kita memilih profesi sebagai penulis maka dai yang penulis tentu akan berbeda dengan penulis yang mengejar pendapat semata, apalagi penulis yang lebih mementingkan popularitas belaka.

Sebagai seorang muslim kita paham betul bahwa apa yang kita lakukan adalah merupakan tanggung jawab kita. Bahkan kita pun mengenal MLM dalam berkarya, maksudnya apapun karya kita jika dibaca oleh orang lain dan mempengaruhi pemikiran ataupun perilakunya maka disitulah multi level itu bermakna, maknanya bisa juga positif mungkin pula negatif, tergantung bagaimana kita menuliskannya. Jadi multilevelnya berupa pahala apa dosa yang akan kita terima.

Lantas darimana ide tulisan itu berasal? Mudah saja. Ide itu melimpah di sekitar kita, berseliweran di depan kita, belakang kita samping kanan kiri kita. Tinggal bagaimana kita mengolah kepekaan untuk menjadikannya sebagai sebuah tulisan. Untuk memudahkan kita dalam menelusuri baiklah kita sederhanakan saja:

Pertama, kenanglah masa kanak-kanak anda. Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat mengesankan. Masa paling indah dalam berkhayal. Apapun bisa jadi menurut angan-angan anak-anak. Imajinasi anak-anak adalah imajinasi yang paling bebas. Maka berimajinasilah sebagaimana anak-anak berimajinasi sehingga menjadi sebuah tulisan yang indah.
Amatilah keadaan sekitar kita, dengan membaca baik secara tekstual maupun non tekstual. Maka kita bisa membaca Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma. Negeri yang selama senja.
Kedua, galilah kuburan leluhur anda. Jangan merinding dulu, ini hanya bahasa kiasan, maksudnya carilah sebanyak-banyaknya kisah yang melingkupi keluarga anda, atau lebih luas lagi galilah sumber-sumber informasi sejarah yang bisa menguak sumber ide untuk menulis, maka dari sini bisa kita kenal Langit Kresna Hariadi yang produktif menulis kisah Gajah Mada hingga lebih dari 4 jilid, kisah Ken Arok yang sempat tenar merajadi sandiwara radio. Kita bisa mengenal pula Remy Silado yang menuliskan kisah Pangeran Diponegoro.
Ketiga, curilah karya orang lain. Namun hati-hati, jangan salah tafsir terhadap yang satu ini. Kita bisa mengambil tulisan orang lain sebagai sumber ide, namun hasilnya haruslah baru sama sekali, tidak nyontek habis.

Setelah mempunyai ide, maka kewajibannya adalah menulislah. Segeralah menulis jangan ditunda-tunda. Mau bentuknya apa sepenuhnya hak anda untuk mewujudkannya.

Jika ide sudah mewujud menjadi sebuah tulisan maka jangan lupa untuk mengoreksinya sebelum yakin untuk mempublikasikannya. Karena itu tadi tulisanmu adalah harimaumu, maka berhati-hatilah. Mungkin ada yang tak seharusnya dibaca orang lain maka disinilah saatnya membuang bagian itu, atau ada yang perlu ditambahkan agar lebih baik lagi.

Untuk publikasi, banyak pilihan yang bisa kita lakukan. Pilihan paling sederhana dan banyak pembacanya adalah kita titipkan ke dunia maya. Di sana beragam tulisan bisa kita temukan. Ada tulisan serius ada pula tulisan yang berupa uneg-uneg keseharian. Kalau ini adalah pilihannya maka janganlah terlalu berharap mendapatkan imbalan secara materi. Karena sebagian besar dunia maya tidak memberikan imbalan.

(Disampaikan dalam acara: Pelatihan Dasar Jurnalistik di kampus SETIA HK, 9.30 – 10.30 Ahad, 19 Mei 2013)

6 comments on “Mainkan Pena Ubah Dunia

  1. kadang meski sudah hati hati dalam menulispun masih sajah dibenci dan disalahkan bahkan dihujat😦

    tapi tetap menulis dan tetap berhati hati setidaknya itu pengalaman dalam menulis di dumay saya pak🙂
    —————======————–
    semoga tetap istiqomah tidak seperti saya yang banyak menghilangnya wiend

  2. menulis di blog imbalannya hati yg gembira mas😛 *buatku sih*
    ————–====————-
    iya mbak, imbalan yang tak dapat dihitung secara materi

  3. ini yang kaka bikin?
    ————-==============——–
    iya

  4. aset yang paling berharga dalam diri kita adalah karakter kita

  5. membaca ini, duh.. duh… jadi semangat lagi saya…
    makasih banyak nggih…

  6. Owh begitu ya pak? Terima kasih ilmunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: