3 Komentar

Menyongsong kurikulum baru

Hal yang biasa terjadi ketika menanggapi sesuatu yang baru muncul adanya pro dan kontra. Demikian pula halnya dengan rencana pemberlakuan kurikulum 2013. Di media massa maupun di dunia maya berbagai diskusi ramai digelar. Ada yang sepenuhnya setuju, ada yang oke-oke saja sambil menunggu perkembangannya, namun ada pula yang sama sekali tidak setuju.

Era tahun 60-an Everett Rogers dengan karya besarnya Diffusion of Innovation telah memetakan sikap manusia terhadap penerapan sesuatu yang baru di dalam sebuah organisasi. Rogers mengkategorikan sikap berdasarkan kecepatan menerima perubahan adalah sebagai berikut: (1) perintis/innovators, (2) pengetrap dini/early adopters, (3) pengetrap awal/the early majority, (4) pengetrap akhir/the late majority dan (5) penolak/kaum kolot/laggars.

Kelompok terbanyak adalah kelompok ketiga dan keempat, tidak serta merta segera menerima atau juga tidak menolak sepenuhnya. Dari sebagian kecil anggota organisasi ada yang kelompok pertama sangat cepat dalam hal menerima perubahan dan sebaliknya sekelompok kecil lagi merupakan orang-orang status quo. Orang-orang yang tak mau beranjak dari sisi kenyamananannya, sehingga sangat sulit menerima perubahan. Bagi kelompok terakhir ini alasan bukanlah sesuatau yang penting untuk mendukung keputusannya.  Namun demikian bukan berarti tidak akan bisa berubah sama sekali.

Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang, kurikulum 2013 sebagaimana bomming yang lebih dahsyat bila dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya bila ditelisik lebih mendalam memang terdapat celah yang sangat menjanjikan untuk dinamika pendidikan nasional ke depan. Guru lebih tertantang dalam melakukan proses pembelajaran yang semakin kreatif karena esensi kurikulum baru ini lebih menekankan pada sisi keaktifan peserta didik. Adapun peserta didik tidak terkungkung pada pola pembelajaran lama yang sifatnya hanya menerima saja. Peserta didik yang pembosan di dalam kelas, kurikulum ini menawarkan tantangan tersendiri. Peran serta keaktifannya akan banyak menentukan prestasi selanjutnya. Bukan jamannya lagi siswa duduk diam terkantuk-kantuk sementara guru sibuk dengan white board/papan tulis memindahkan catatan dari buku.

Bagi yang kontra mungkin saja akan melontarkan pertanyaan pesimis. Bukankah kurikulum sebelumnya juga sudah menuntut hal yang demikian, sedangkan realitanya sama saja. Tetap pembelajaran secara tradisional. Kurikulum Berbasis Kompetensi yang usianya sangat singkat itupun bukannya telah mengamanatkan agar peserta didik senantiasa aktif. Kurikulum sebelumnya bahkan dari namanya saja sudah menyiratkan pesan tersebut yaitu CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) namun faktanya tidak sedikit yang diplesetkan menjadi Catat Buku Sampai Abis. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan kewengan (meski fakta dilapangan hanyalah sangat sedikit) pihak sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri pun tak banyak merubah pola pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas.

Apakah tidak ada upaya peningkatan mutu pembelajaran?

Upaya itu tentu ada. Hanya saja faktor utama yang berlangsung di sekolah-sekolah adalah ketidaknyambungan antara kebijakan yang telah ditetapkan dari pusat dengan realitas kesiapan di dalam kelas. Masing-masing sekolah bahkan masing-masing guru berkreasi menurut pengetahuannya yang sama sekali tanpa adanya komando yang satu. Komando yang memberikan kejelasan arah pembelajaran yang seperti apa yang seharusnya dilakukan. Sosialisasi yang seharusnya sampai ke level guru selama ini tak pernah kesampaian.

Selama ini masing-masing guru dalam proses pembelajaran dengan gayanya sendiri-sendiri dan sebagian besar masih menggunakan pola tradisional dengan sedikit modifikasi menambahkan diskusi terbimbing. Sangat sedikit yang sepenuhnya menggunakan model pembelajaran yang merangsang siswa senantiasa aktif dalam pembelajaran. Pola yang dipilih oleh guru sebagian besar hanyalah berupa coba-coba sangat sedikit yang mendasarkan pada ilmu yang benar-benar diperoleh dari pendidikan resmi ataupun pelatihan.

Kenapa demikian?

Penyebab utamanya adalah tidak adanya transfer yang utuh sampai ke guru setiap ada perubahan kurikulum. Apa dan bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh guru sesuai dengan yang diinginkan dalam kurikulum tersebut.

Kabarnya untuk kurikulum 2013 tidaklah demikian, ada perbedaan yang sangat mendasar. 

Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh dalam berbagai kesempatan senantiasa menegaskan bahwa kurikulum 2013 baru akan diterapkan kalau guru dalam sekolah tersebut seluruhnya telah dilatih terlebih dahulu. Dalam artian semua guru harus mengikuti pelatihan sebelum kurikulum baru ini benar-benar diterapkan.

Di samping itu terdapat perubahan siginifikan pada inti pembelajaran. Jika pada kurikulum KTSP pokok pembelajaran pada Standar Kompetensi per masing-masing mata pelajaran, maka pada kurikulum 2013 pembelajaran berindukkan kompetensi inti. Kompetensi Inti ini merupakan inti semua mata pelajaran yang diharapkan akan menjadi sikap peserta didik yang berperilaku sesuai dengan karakter agama.

Satu hal lagi yang sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya adalah pemerintah menjanjikan semua siswa akan mendapatkan buku yang sama. Para guru disamping diikutsertakan dalam pelatihan-pelatihan juga diberikan buku pegangan khusus untuk guru, sehingga proses pembelajaran bisa benar-benar lebih kreatif.

Semoga tidak hanya janji tinggal janji sehingga memuaskan para innovator mendorong para laggard yang apatis menjadi tertantang untuk turut berubah dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dalam proses pembelajaran.

(bahan untuk majalah husnul khotimah)

3 comments on “Menyongsong kurikulum baru

  1. kabarnya penddikan moral/ karakternya lebih banyak ya mas? itu ada mapelnya sendiri atau diselipkan saja?

  2. semoga saja menjadi lebih baik duni pendidikan diindonesia dengan kurikulum yang baru ini..

    sedih rasanya melihat anak anak sekolah sekarang ini trutama yang tingkat SD,berat beban mreka dalam hal pelajaran😦
    ————-==============————–
    semoga lebih baik dan sesuai dengan yang dipublikasikan selama ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: