4 Komentar

Tak usah malu disebut bangsa tempe

Akhir abad ke 20, istilah bangsa tempe dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif. Bangsa yang jauh dari kemajuan. Bahkan tak jarang dilekatkan makna sebagai bangsa yang susah untuk diajak maju. Entah dari mana asal mula istilah ini menjadi sebuah bahasa yang ngetrend. Pengucapannya dengan intonasi yang merendahkan.

Era itu, masa pemerintahan orde baru adalah sesuatu yang sangat menyakitkan ketika kita disebut sebagai bangsa tempe. Seolah tak ada sisi baiknya. Faktor utamanya karena istilah tersebut telah kadung diterima masyarakat sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif, makna keterbelakangan, kertinggalan, tidak mau maju, tidak mau berkembang, sulit menerima perubahan, dan istilah-istilah sejenis yang intinya tidak ada positifnya. Ujung-ujungnya rasa malu yang timbul akibat pelekatan istilah tersebut.
Tidak menutup kemungkinan salah satu penyebabnya adalah rasa kurang percaya diri pada produk dalam negeri. Tempe merupakan salah jenis makanan khas produksi asli bangsa sendiri. Para pemilik gengsi menganggap bahwa mengkonsumsi tempe hanya layak dinikmati oleh mereka yang tinggal di kampung, bukan masyarakat perkotaan, apalagi kaum berduit. Orang-orang beduit merasa lebih tinggi gengsinya ketika memakai/memanfaatkan produk impor.

Memang, dari segi daya beli masyarakat, tempe bisa disebut sebagai salah satu jenis lauk pauk yang sangat terjangkau oleh lapisan menengah ke bawah. Tidak seperti daging yang harganya lumayan tinggi, kurang terjangkau oleh daya beli masyarakat kelompok ekonomi sulit. Tempe bisa dikonsumsi oleh siapa saja, tanpa memandang strata social masyarakatnya.

Makna yang telah melekat belum tentu sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Tempe yang dikonotasikan negatif, tidak bisa serta merta disebut sebagai faktor penghambat kemajuan, sehingga diucapkan dengan lafal yang merendahkan: dasar bangsa tempe. Secara istilah pun, sebenarnya tidak ada unsur kata yang negatif, jika dirunut dari makna per kata. Bangsa tempe bisa dimaknai sebagai bangsa yang memproduksi tempe, atau sebagai bangsa yang banyak mengkomsumsi tempe. Seharusnya kita bangga, karena memiliki identitas yang jelas dan positif. Terlepas dari intonasi suara yang diucapkan.

Lantas dimana permasalahannya.

Tempe merupakan salah jenis makanan yang memanfaatkan mikroorganisme dalam pembuatannya. Mikroorganisme tersebut di masyarakat lazim ditandai sebagai ragi tempe (istilah ilmiahnya Rhizophus oligosporus). Jenis makanan yang demikian ini lazim disebut sebagai produk bioteknologi. Jika berbicara masalah melek teknologi, tak jarang pula konotasi positif yang terbayang. Teknologi memiliki makna kemajuan, tak mau tertinggal. Nah, ternyata tempe juga merupakan produk teknologi, jadi tak sepantasnya dilekatkan sebuah makna yang negatif.

Tempe yang sangat akrab dengan masyarakat ini memang produk asli bangsa Indonesia. Padan kata dalam bahasa lain tidak dapat kita temukan, meskipun itu baha Inggris yang dianggap sebagai bahasa pergaulan internasional.

Tidak jelas kapan di mulainya pembuatan tempe. Catatan dari keratin Yogyakarta dan Surakarta mewartakan bahwa dalam bab 3 dan 12 Serat Centini dengan setting jawa abad keenambelas telah ditemukan kata tempe. misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Catatan tersebut merupakan catatan tertua yang ditemukan menyebutkan istilah tempe.

Tempe saat ini banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging.

Bahan baku yang digunakan untuk membuat tempe adalah biji kedelai atau yang sejenisnya (kacang-kacangan). Ragi yang tumbuh akan menguraikan susunan kimiawi kedelai sehingga menjadi lunak dan mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat, kalsium, vitamin B dan zat besi. Disamoing itu berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.

Umumnya kedelai berwarna putih. Hal tersebut dikarekan pertumbuhan benag-benang misela jamur yang melekatkan antara biji kedelai yang satu dengan biji kedelai yang lain sehingga terbentuk tekstur yang memadat.

Kembali pada istilah bangsa tempe dianggap sebagai bangsa yang rendah, secara pasti telah bergeser dari kenyataan yang sebenarnya. Kandungan gizi tempe tidak kalah dengan daging. Harga kedelai jauh lebih murah daripada daging. Secara ekonomi, konsumsi kedelai dapat turut serta dalam memeratakan kesempatan kerja, tidak seperti halnya daging yang sebagian besar dikuasai oleh para importer.

Nah, maka tak ada alasan lagi untuk malu disebut sebagai bangsa tempe.

(dituliskan untuk media HK tercinta)

4 comments on “Tak usah malu disebut bangsa tempe

  1. tempe mahal di sini mas😛
    ————–===============———
    udah nyampai jerman ya, Mba Eli bisa bikin pabriknya dong

  2. sya fikir ini hanyalah sebuah ungkapan yg tujuannya adalah
    semata-mata memotivasi setiap individu untuk selalu kuat tidak mudah lemah dalam mensikapi suatu permasalahannya.

    ungkapan diatas muncul krn “karakter” dr tempe tsb yg lembek… jdi sbnrnya disini ada bbrp sudut pandang berbeda ttg bangsa tempe itu sendiri.
    —————==============————-

      mungkin seperti itu

  3. Jaman dulu pengetahuan kita memang belum berkembang, dan pola pikir bangsa kita belum terbuka. Jadi masih malu dengan istilah bangsa tempe.
    Namun jaman sekarang ketika semua sudah bisa dicari tahu, malah kebablasan dan masih juga malu menjadi negara tempe.

    Padahal, semestinya bangga dengan tempe. Negara tetangga sendiri ada yang nyaris mau mengakui tempe adalah makanan khas negeranya. Nah apakah ini namanya bangsa kita semakin pintar?saya rasa belum terbuka sepenuhnya pola pikir bangsa sebagai yang mengaku warga negara Indonesia.

    Banggalah dengan negara, apapun yang ada. Karena kita makan, bernafas, mencari rezeki bahkan menjadi pintar di negara yang disebut negara tempe
    ——————=================———-

      kalau bukan kita yang bangga lalu siapa lagi, tak mungkin lah kita berharap dari bangsa lain

  4. Setuju Pak, pohon industri dari bahan baku tempe tidak ada matinya selalu merimbun dengan aneka produk turunan dari tempe. Salam
    ————–===============————–

      terima kasih Bu tambahan informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: