17 Komentar

Hutan Rakyat

Saatnya pulang kampung. Menengok sahabat karib, kerabat yang telah lama tak jumpa. Sungkem pada ibu yang sudah cukup lama tak jua kukunjungi. Mumpung anak sedang liburan semester. Sekaligus biar melepas rindu bertemu dengan mbah dan kakak-kakak sepupunya. Kangen dengan kampung halaman.

Alhamdulillah, perjalanan lancar meski sedikit tersendat saat lewat Bawen terutama selepas terminal Bawen hingga Salatiga. Biarlah yang penting tetap sampai.

Diperjalanan kuhabiskan waktu untuk tidur dan sesekali melihat-lihat jalanan. Bahkan selepas terminal Tegal aku sudah tidak tahu lagi perjalanan, melek tahu-tahu sudah hampir terminal Pekalongan. Hal seperti inilah yang kusuka. Perjalanan sangat tidak terasa ketika kita bisa nyenyak.

Beberapa hari di kampung, seperti biasa ketemu sanak saudara, ngobrol sana ngobrol sini, pas juga malam jumat ikutan bapak bapak baca Al Quran.
Nah, hal yang terasa unik bagiku bukanlah para kerabat yang kutemui. Justru banyaknya tanaman jati yang kian subur di seputar kampung yang membuatku terpana. Betapa tidak, tak jarang kulihat iklan televisi dari Kementrian Kehutanan, untuk menyelamatkan bumi dianjurkan satu orang menanam satu pohon, maka di kampungku sepertinya imbauan ini tak sampai.

Apa buktinya?

Jika dijumlah tanaman yang ada dengan jumlah penduduknya maka bisa jadi perbandingannya 5 : 1, artinya 5 orang bisa menanam 25 tanaman atau bahkan lebih.

Kok bisa.

Banyak lahan yang dulu merupakan tempat dulu aku biasa nyari rumput dan dulunya ada kebun singkong, kini telah disulap oleh para pemiliknya menjadi hutan jadi. Dan di area seluas itu tidak mungkin hanya ada 10 pohon jati, pasti lebih.

Kalalulah yang lewat bukan orang yang kenal betul daerah itu pastilah akan mengira area yang cukup luas, hijau jati sejauh mata memandang akan menduga bahwa tanaman jati itu milik perhutani.

Sebenarnya kebiasaan menanam jati di kebun sendiri bukanlah hal yang baru bagi kami. Awalnya tanaman jati hanyalah merupakan tanaman tepi, yang sengaja ditanam dibagian tepi sedangkan di tengahnya tetap ditanami dengan tanaman semusim. Tanaman tepi yang difungsikan sebagai tabungan. Jika ada kebutuhan besar yang mendesak seperti untuk biaya sekolah, bisa menjual satu dua pohon. Atau ketika mau memperbaiki atau bahkan membuat rumah baru bisa menebang beberapa batang sebagai bahan bakunya. Istilahnya bapaknya yang nanam maka anak atau cucunya yang memanen, ya karena baru bisa dimanfaatkan kayunya jika telah berumur minimal 20 tahun.

Renungan saya tentang semakin rapatnya pohon jati adalah terutama adanya pergeseran dinamika pendudukan. Saat aku masih kanak-kanak usia produktif sangat mendominasi warga kampong. Sedangkan saat ini usia paling produktif leboh banyak beralih profesi bukan lagi sebagai petani tetapi banyak yang menjadi tenaga pendidik, bahkan telah meninggalkan kampong halaman sepertti halnya saya ataupun ada pula yang menjadi polisi juga tak sedikit yang merantau ke Jakarta. Praktis para pengelola lahan pertanian semakin berkurang, maka pilihan yang sangat bijak menuurutku dengan mengalihfungsikan kebun menjadi hutan jati yang sejatinya adalah hutan rakyat bukan milik perhutani. Program kementrian kehutanan terbantu, paru-paru Negara kita juga terbantu, karena suplai oksigen pastilah melimpah dari daerah-daerah seperti ini. Juga dikemudian hari kelak bisa menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya.

17 comments on “Hutan Rakyat

  1. My brother suggested I might like this blog. He was entirely right.

    This post truly made my day. You cann’t imagine just how much time I had spent for this information!
    Thanks!

  2. Fungsi kompleks dari kebonan ya Pak, selain konservasi melalui hutan rakyat juga tabungan melalui tanaman keras tanpa ongkos administrasi bank. Salam kebonan
    ————-===============————–

      yang dipahami oleh masyarakat adalah nilai ekonomisnya, praktis tanpa perawatan berarti, dalam jangka panjang bisa diambil manfaatnya tanpa ada penyusutan harga sebagai aset

  3. Tanaman jati berjejer-jejer tentu meneduhkan kawasan di dekatnya, apalagi jika dekat pedesaan. Jika naik kereta api dari Solo ke Semarang lewat Gundih, saya sering lihat di kanan kiri rel kereta api, berderet ladang yang dipagari tanaman jati.
    ———-==============———————

      terasa adem melihat pemandangan yang senantiasa hijau

  4. Brarti penduduknya sdh sadar akan global warming dong pak, jadi menanam pohon jati yg mudah tumbuh
    ————–===============———–

      justru mereka ga tahu apa itu global warming, mereka menanam atas kesadaran yang lain, bagaimana memanfatakan lahan yang praktis tak perlu perawatan yang berat, tetapi dalam jangka panjang memilikinilai ekonomi

  5. kebayang lamanya klo nanam jati.bisa2 baru panen pas punya cucu.
    liburan sekolah enak yah mas…
    ———–==============————

      di masyarakat sudah biasa seperti itu, menanam untuk tabungan anak cucu, bukan untuk diri sendiri

  6. As wr wb
    Maaf nih pak baru berbalas kunjung, k rumah bp yang baru, semoga tali shilaturrahmi kita bisa seperti dulu lagi
    —————-=================——————-

      amin, amin, terima kasih pak semoga tetap terjalin silaturahim dengan baik ya

  7. Senang rasanya bila melihat hutan-hutan (jati) berjejer rapi spt membuat barisan.. teduh dipandangnya.
    ————-================————–

      iya seneng banget, adem rasanya apalagi kalau pas jalan-jalan naik motor pelan-pelan

  8. Yuk menanam pohon
    Ortu saya di kampung rajin menanam pohon
    Di halaman rumah saya juga saya nanam pohon, meski pohon buah-buahan🙂
    ————-=========================———————–

      saya juga nanam didepan rumah, nanam rumput, setidaknya saya berusaha untuk memaksimalkan tanah resapan dengan tanam-tanaman, yang umumnya masyarakat di sekitar tempat tinggal saya tak menghiraukan tanah resapan, bahkan kebanyakan dilapis semen atau aspal

    • sama kang cuy ortu saya juga begitu, 1 tahun yang lalu saya kirim 250 pohon jambu batu merah ditanam di kebon, kemarin waktu pulang ke garut ortu minta dikirim benih talas bogor, ortu emang rajin nanem terlebih setelah beliau pensiun.
      ———-==================————-

        luar biasa ortunya, banyak sekali pohon yang ditanam, tanaman produksi lagi, ada hasil yang bisa dipanen berkali-kali

  9. kalo di kampungku, pohon2 yg ada malah ditebang, mas. jadinya udah dua tahun berturut2 kena banjir bandang. miris banget. seandainya warga kampungku seperti kampungnya mas narno
    —————================————

      mungkin keputusan yang diambil oleh masyarakat sama, tidak berlandaskan atas pertimbangan masa depan, hanya saja di kampungku lebih memberikan kontribusi positif jangka panjang, sedangkan di mba Fathia keuntungan jangka pendek bisa jual kayu, selebihnya banjir itu

  10. kalau baca artikel di atas saya jadi ingat kampung suami saya,sebelumnya saya sempat berkunjung di sana,di depan rumahnya adalah hutan jati alami,eh,.. pas mudik lebaran tahun ini,kok sudah gundul semua dan hutan jati itu berganti menjadi kompleks perkantoran kabupaten raha sulawesi tenggara,..
    ———-============—————
    semoga pemerintahnya menggantikan hutan yang baru agar tetap terjaga dengan baik

  11. mereka menanam lebih dari yang dianjurkan ya pak,dan itu bagus takkan dikenakan denda kok🙂
    ———–============————–
    mereka menanam bukan karena anjuran, bahkan belum tentu tahu kalau ada anjuran,lebih karena kepraktisan tak perlu banyak perawatan

    ———————
    hutan jati ini nantinya juga akan ditebang dijual jika sudah cukup masa panen dan harga pas,hanya saja waktunya lama..
    ————–============——-
    ya, kalau mau yang kualitasnya sangat bagus nunggunya sampai 100 tahun

    ———————————–
    kemudian ditanam kembali..
    ————-=============————–

    tanaman jati termasuk gampang numbuhnya, setelah ditebang akan muncul tunas baru dari tunggaknya dan tumbuhnya lebih cepat daripada nanam bijinya
    —————–

    daun jatinya biasanya buat bungkus tempe ya? enaak🙂
    ————-============————-
    betul wiend, jauh lebih enak daripada pakai plastik, saya sering kangen tempe yang begini, maklum di perantuan lebih banyak yang bungkusnya plastik

  12. kalau soal kebiasaan menanam di halaman rumah sendiri sdh hobi org di sini kang, tanam apa saja deh hampir sepanjang thn, hobi berkebun sdh jadi Gaya hidup org Jerman, hampir 50 % penduduknya punya hobi ini😛
    ————–==============————-

      di Indonesia yang tinggal di kampung sih memang kehidupannya dari menanam tapi orang kota, banyak yang ngga nyambung

    • waahhh…waahh… ketemu mbak Elly lg.😀
      ————-=================————–

        mbak Elly sering banget ke sini mas, terima kasih kunjungannya

    • emang sdh beda pola pemikiran ya mas, di sini itu justru yg dekat dgn alam yg jadi trend, Gaya hidup, pas pulkam kemarin di mana mana ketemu byk bangunan baru sampai pangling walau msh byk jg jalanan dgn pohon2 ijo
      ——————-====================——————————–

        kalau semarang memang lebih padat bila dibandingkan dengan Boyolali mbak, apalagi kampung saya jauh dari kota, meskipun ada juga yang dulunya sawah kini sudah banyak jadi pemukiman bahkan telah diresmikan menjadi satu pedukuhan tersendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: