21 Komentar

Orang-Orang Proyek (Re Post)

Orang-orang Proyek

Suara kepala sekolah:

kalau kami melihat buku tamu di sekolah-sekolah penerima DAK,  disitu berderet panjang nama-nama tamu yang tak diundang yang tentu saja membuat stress para kepsek. Ini merupakan gejala bola panas

(Radar Cirebon hal. 19, 27 Nopember 2008).

Sebuah bangunan sekolah belum genap satu tahun dibangun telah roboh bagian atapnya. Kalau itu karena bencana alam mungkin tak jadi soal. Gempa bumi atau tanah longsor misalnya, siapapun tidak akan ada yang menaruh prasangka. Tapi yang satu ini tidak ada hujan tidak ada petir tidak ada angin topan tiba-tiba gedung sekolah itu roboh. Ada apa dibalik peristiwa ini?

Tokoh LSM lantang mengatakan ada pihak-pihak yang harus bertanggung jawab atas ambruknya gedung sekolah tersebut. Ya itu pasti. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab? Pertama kali jari telunjuk mengarah ke pelaksana proyek. Memangnya apa yang telah dilakukan oleh pelaksana proyek terhadap proyeknya sendiri, terhadap kredibitasnya sendiri? Padahal dari proyek-proyek itulah rumah tangganya bisa tetap eksis. Atau bahkan menjadi sangat kaya raya?

Kaya raya? Nanti dulu. Kaya raya yang seperti apa?

Berita-berita tentang robohnya gedung sekolah (yang paling sering) dan berbagai pemikiran-pemikiran yang tiba-tiba menelisik hati saya membuat saya teringat pada sebuah novel yang sudah lama tidak saya tengok kembali. Judulnya cukup singkat Orang-Orang Proyek. Penulisnya sudah cukup terkenal dan saya sempat bersilaturrahmi ke rumahnya. Beliau adalah penulis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari.

Novel yang awalnya dimuat secara bersambung di Harian Umum Suara Merdeka ini bertutur tetang orang-orang yang terlibat dalam proyek pembangunan sebuah jembatan di masa orde baru. Sebagaimana umumnya tulisan beliau sangat lekat dengan alam pedesaan.

Seting lokasi sungai Cibawor bagi saya serasa di tepi Kali Serayu yang membelah beberapa wilayah di sekitar Banyumas dan bermuara di Cilacap. Tokoh pemancing tua Pak Tarya saya resapi sebagai Pak Ahmad Tohari sendiri yang begitu setia menunggui pancingnya. Pak Tohari yang saya kenal begitu hangat menerima tamu meskipun sang tamu hanyalah anak-anak yang belum banyak mengenal dunia kepenulisan apalagi dikenal seperti saya ini misalnya.

Teringat Pak Tohari pernah saya mengirim SMS memberikan ucapan selamat apapun hasilnya atas keikutsertaannya dalam pemilihan anggota DPD mewakili Jawa Tengah tentunya dengan sisipan tentang masih terasanya orang-orang proyek sebagaimana yang dituturkan dalam novelnya.

Maaf, kok malah ngelantur.

Novel Orang-orang Proyek ini kemudian diterbitkan oleh Jendela dengan ketebalan 288 pada bulan juli 2002, dengan format isi terdiri dari bagian pertama hingga bagian kelima.

Kabul, insinyur muda penuh idealisme terbentur kenyataan proyek jembatan yang sedang dalam pengerjaannya digerogoti dari segala penjuru. Bahkan termasuk atasannya sendiri yang mengaku menaruh dendam terhadap kemelaratan, yang sekaligus bendaharawan partai penguasa.

Pembangunan masjid pun mendompleng proyek atas nama partai penguasa, sehingga ketika rakyat kecil ikut-ikutan mengambil satu dua sak semen Kabul benar-benar tak bisa menyalahkan wong cilik itu. Toh mereka hanya ikut-ikutan.

Itu belum seberapa. Proyek pembangunan jembatan benar-benar menjadi ajang pamer bagi partai penguasa tanpa mengindahkan ilmu konstruksi bangunan. Betapa tidak, jembatan harus jadi tepat ketika HUT Partai Penguasa. Itu artinya konstruksi jembatan tetap harus dibuat dengan menabrak musim hujan. Padahal pembangunan yang demikian sangat beresiko terhadap kekuatan jembatan. Belum lagi Sang bos memaksakan bahan-bahan yang di bawah standar, Kabul harus mau mengerjakan tanpa ada kata kompromi.

Akhirnya Kabul menyerah tapi tidak mau terseret arus. Kabul lebih memilih tidak menyelesaikan sisa proyek yang sangat menggerogoti itu, alis mengundurkan diri. Kabul hanya bertanggung jawab pada pembangunan awal.

Saat peresmian tiba secara diam-diam Kabul turut hadir dan ternyata juga diikuti secara diam-diam oleh para pekerja yang setia pada Kabul. Kendaraan beriringan melewati jembatan sebagai ajang HUT partai Penguasa dan seolah-oleh ingin meneriakkan inilah hasil pembangunan partai kami.

Kabul nyaris tak lagi bernafas ketika iring-iringan semakin panjang, karena Kabul yakin kekuatan jembatan belum saatnya digunakan, tetapi pada kenyataannya dipaksakan demi katanya atas nama keberlangsungan pembangunan.

Ketika iring-iringan habis, Kabul melongok bagian bawah jembatan, dan benar apa yang dikhawatirkan, ada retak-retak yang pasti akan mengurangi umur jembatan.

Sekarang yang dikatakan era reformasi masihkah gejala orang-orang proyek ini tetap bercokol?

Maaf, repost karena sedang kangen sama beliau Pak Ahmad Tohari dan sekarang rupanya proyek-proyek itu juga sedang banyak.

21 comments on “Orang-Orang Proyek (Re Post)

  1. Bismillah.
    Mencari nafkah untuk diri dan keluarga. Mencari yang khalal. ben ora nglolodi nang akhirat. ya ….. novel yang bagus, yang membuka mati hati kita semua.

  2. gejala orang-orang proyek
    dengar-dengar
    bahkan kian menggila

  3. proyek jalan lebih memprihatinkan lagi, baru ditambal eee sebulan kemudian (kadang nggak nyampe) udah pada bolong lagi..

  4. Uh, serem ya mengetahui fakta itu.
    tapi iya, pertanyaan yg sama.. masih adakah org2 seperti kabul skrg ini? hmm…

  5. saya suka novel Orang Orang Proyek. apalagi setelah bertemu Ahmad Tohari.
    novel OOP gak lekang dan masih relevan smp sekarang walo dibuat pada era orba. membaca novel itu rasanya ikut mengalami dan ‘dekat’ karna memang kenyataannya yg beliau tulis sangat dekat dg kenyataan kita sehari hari
    ————–=================————

      saya pernah sowan ke rumah beliau, dan termasuk salh satu muridnya yang kurang berhasil dalam kepenulisan

  6. serem jg ya mas kl proyek dikerjakan asal asalan

  7. Sampai sekarang masih ada ya kasus sekolah roboh dan novel karya Ahmad Tohari masih saja relevan sampai sekarang..

  8. paham paham. negara ini sisa kebaikannya dimana yah? semua hal banyak dirusak karena kepentingan tertentu. sesak setiap kali dengar beginian.

  9. proyek indentik dengan bilangan nominal dan jika banyak pihak yang berkepentingan maka seperti itulah hasilnya proyek yang jadi dengans asal asalan yang penting jadi dan berbentuk tak peduli dengan kualitas urusan rusak belakangan😦

  10. Jadi ingat cerita orang2 proyek bangun jembatan dari surga k neraka… Nah jembatan yg dibangun sama kontraktor dari penghuni neraka gak jadi-jadi krn curang

  11. hmmm…, penguasa yg cuma pengen tampil dan ngetop aja, tapi Kabul kekeuh sama prinsipnya

  12. Suhar:
    terima kasih telah berbagi informasi

  13. Suhar:
    terima kasih telah berbagi informasi

  14. Saya pernah baca novel itu. Setting ceritanya masa orde baru.

    Saat itu saya belum berkecimpung di dunia kontraktor tapi sepertinya sangat realistis.

    Ketika skrg saya kenal dunia proyek saya jadi sangat yakin kalo itu realistis.

  15. Saya pernah baca novel itu. Setting ceritanya masa orde baru.

    Saat itu saya belum berkecimpung di dunia kontraktor tapi sepertinya sangat realistis.

    Ketika skrg saya kenal dunia proyek saya jadi sangat yakin kalo itu realistis.

  16. sarah:
    resiko yang sebenarnya dibuat sendiri

    rafiq:
    terlihat tapi sulit untuk membuktikan secara formal

  17. sarah:
    resiko yang sebenarnya dibuat sendiri

    rafiq:
    terlihat tapi sulit untuk membuktikan secara formal

  18. betul tuh mas..
    di tempatku juga gitu, banyak bgt proyek yg gak bener..

    makasih dah mampir ke tempatku..

  19. betul tuh mas..
    di tempatku juga gitu, banyak bgt proyek yg gak bener..

    makasih dah mampir ke tempatku..

  20. setiap pekerjaan khan ad resikonya mas..hehe
    eh, makasih y udah mampir ke blog saya..salam kenal🙂

  21. setiap pekerjaan khan ad resikonya mas..hehe
    eh, makasih y udah mampir ke blog saya..salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: