15 Komentar

Apapun Panggilannya, Dia Tetaplah Seorang Ibu (Repost)

Momentum hari ibu kali ini, diawali dengan kegiatan berakhirnya kegiatan pembelajaran semester ganjil yang ditandai dengan telah dibagikannya LHB (Laporan Hasil Belajar), yang untuk kelas tujuh membuat saya harus benyak begadang. Jadi mohon maaf kalau momentum hari ibu kali ini hanya saya tampilan tulisan usang alias repost tentang ibu

sebuah tulisan yang pernah dimuat di majalah pesantren:

Apapun kita memanggilnya, dia tetaplah seorang ibu. Tiap daerah memiliki panggilan yang khas untuk ibu mereka. Bahkan tiap keluarga juga pun tak jarang memiliki kesepatan bersama bagaimana harus memanggil seorang ibu. Panggilan itu bisa saja bunda, bundo, mungkin pula mama, emak, mam, mother. Orang jawa biasa memanggil ibunya dengan sebutan simbok atau biyung. Orang sunda tak jarang menyebutnya dengan panggilan mamah. Kini para aktivis dakwah tak sedikit yang membiasakan diri dalam keluarganya memanggil seorang ibu dengan sebutan umi.

Apapun itu, bagaimana kita menyebutnya tidak serta merta menunjukkan strata sosial seorang ibu di masyarakat. Dipanggil simbok bukan berarti lebih rendah derajatnya dibandingkan yang dipanggil mamah ataupun bunda. Tidak pula yang dipanggil umi sebagai jaminan lebih mulia dari yang lainnya. Semua panggilan itu tetaplah mengacu pada sosok yang satu yaitu, ibu. Panggilan itu lebih banyak sebagai wujud kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Juga merupakan bentuk kesepakatan yang berlaku di dalam lingkup keluarga. Sebagaimana halnya juga sebutan ibu guru yang lazim di sekolah-sekolah, maka disebutlah ustadzah ketika seorang ibu guru menjadi tenaga pendidik di sebuah pesantren.

Panggilan itu adalah sebuah tanda. Simbol yang disepakati bersama. Bagaimana agar kita memposisikan seorang ibu pada posisi yang semestinya. Bukan sebuah simbol yang meletakkan julukan yang tak semestinya. Bukan pula untuk merendahkan martabat seseorang.

Apapun kita memanggilnya seorang ibu tetaplah ibu. Ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, tentu berharap agar anak-anaknya kelak menjadi anak yang tumbuh dewasa, mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Ibu merupakan tempat pertama kali seorang anak belajar. Dari tidak mengenal apa-apa menjadi banyak pengenalan terhadap keadaan sekitar. Dari tak bisa apa-apa, selain hanya menangis kemudian tumbuh mampu berjalan, berbicara dengan bahasa yang dikenalkan oleh ibu. Maka bagaimana ibu mengenalkan anak terhadap segala sesuatu merupakan landasan yang sangat penting bagi perkembangan anak pada tahap selanjutnya. Penanaman nilai-nilai sangat berarti ditanamkan sejak dini dari orang tua, terutama dari ibu. Agar di kehidupannya yang akan datang tidak salah arah.

Pendidikan anak oleh ibu tidak terputus hanya karena anak telah masuk ke sekolah. Pendidikan seorang ibu tetap sangat penting dalam mendampingi, meneladani dan mengarahkan anak-anaknya. Sekolah pada umumnya hanyalah memerlukan waktu sepertiga dari total waktu yang dimiliki anak tiap harinya. Jadi, tak sepantasnya seorang ibu menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya hanya di sekolah, karena waktunya lebih banyak berada di rumah. Hasil pendidikan yang baik akan diperoleh jika terjadi harmonisasi antara sekolah, orang tua dan lingkungan. Maka peran orang tua (ibu) sangat menentukan bagi keberhasilan pendidikan anak-anaknya.

Bisa dibandingkan anak yang tinggal di pondok pesantren yang sepenuhnya orang tua pasrah akan apapun yang terjadi dengan anaknya yang memang dipersiapkan secara matang untuk mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu, yang dipersiapkan akan lebih matang dan lebih siap beradaptasi dengan lingkungan baru, bahkan sanggup mewarnai teman-temannya dengan kebaikan. Kebiasaan positif yang telah ditanamkan oleh ibunya dapat ditularkan kepada temannya. Sebaliknya, anak yang dititipkan begitu saja ke pesantren tidak memiliki tujuan yang pasti. Anak tanpa bekal, sehingga yang diperoleh pun tidak akan semaksimal anak-anak yang telah dipersiapkan dengan matang.

Islam memberikan penghormatan dan kedudukan yang tidak sembarangan kepada para ibu, sampai-sampai disebutkan bahwa “surga berada di telapak kaki ibu”. Seseorang yang senantiasa menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina di akherat kelak.

Dalam kesempatan lain Rasulullah menjelaskan bahwa kewajiban seorang anak terhadap ibu dalam berbakti tiga kali lebih dibandingkan kepada seorang ayah. Rasul menyebutkannya sampai tiga kali kewajiban berbakti seorang anak baru yang keempatnya kepada ayahnya. Bahkan kebaikan orang tua terutama seorang ibu tak kan pernah terbalaskan oleh kebaikan yang dilakukan oleh seorang anak. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah ketika seorang pemuda yang telah melayani segala kebutuhan ibunya, sampai menggendongnya kemana-mana, menyuapi makannya. Pada suatu ketika menanyakan kepada Nabi apakah yang telah dilakukannya itu bisa menggantikan apa yang telah ibu berikan kepada anaknya. Rasul menjawabnya sedikit pun tidak dapat menggantikan. Apa yang telah dilakukan merupakan kebaikan yang semoga akan menambahkan timbangan amal di akherat kelak.

Jadi, kewajiban kita kepada orang bukanlah membayar apa yang telah diberikan oleh orang tua. Kewajiban kita adalah berbakti kepada orang tua, menjaga agar hatinya tetap tenang, memperhatikan kebutuhannya agar tidak resah.

15 comments on “Apapun Panggilannya, Dia Tetaplah Seorang Ibu (Repost)

  1. mungkin bisa saja pangilang sayang dari seorang ibu untuk anak

  2. kalo bahas tentang ibu pasti trus melow deh. jadi kangen.

  3. Hehe.. duluu, krn aku diasuh nenek sejak bayi, aku fikir perempuan yg melahirkanku itu adalah kakak perempuan, jadi aku panggil yayuk (panggilan utk kk perempuan dlm bahasa jawa)
    seiring berjalannya waktu, setelah dewasa, aku tanya ke beliau, “Tidak keberatan dipanggil yayuk?” jawabnya, apapun panggilanmu, aku tetap ibumu.
    lalu pelan2, aku ubah kebiasaan, skrg manggilnya kadang emak, mami, de el el. krn sosok ibuku, seperti sahabat yang super asik!

  4. ∂ķΰ pun memanggil ibu…ibu org yang selalu memberiku semangat buat ngejalanin hidup,beliaulah org yg selalu memberiku harapan2 indahnya masa depan,,,i (♥o♥) u mom,,,

    Kunjungan perdana gan,, salam🙂

  5. membacanya
    betapa berdesiran kuat sekali
    dalam dalam ini
    ingin sekali menemui ibu tercinta
    di Jombang sana

  6. ibu penghantar kehidupan, selamat berbagi melalui majalah Husnul Khotimah Pak. Salam

  7. Ya, papaku memanggil ibunya dengan simbok, saya memanggil ibu saya dengan mama, dan adik saya memanggil mama saya dengan ibu. Semua sama derajatnya.
    ————–=================————–

      bener kan apapun panggilannya tetaplah seorang ibu

  8. Bagaimanapun juga beliau adalah perempuan paling terhormat di dalam hidup.
    Beliau paling merisaukan keadaan kita disaat tidak ada di rumah. Tidak sedikitpun yang kita lakukan kepada beliau, membalas kebaikan beliau
    ——————-=============————–

      sebesar apapun usaha yang kita lakukan tak kan sanggup menggantikan jasa-jasa ibu kita

  9. sya terbiasa memanggil dgn ibu..

    like this utk postingannya !
    ————-=============—————-

      terima kasih

  10. aku panggilnya ibu. kadang jutek, tapi tetep ibuku {}
    —————====================—————–

      kok jutek sih

  11. aku manggilnya EMAK. dulu klo panggilan gini terlihat ndesoooo banget. teman kuliahku nggak ada yg manggil gini. udah pada mama papa, minimal ibu. jaman dulu mama papa kya jadi pertanda status sosial gtu sih… tapi sekarang udah berjamur, hampir semua. malah sekarang lagi tren bunda. lebih indonesiah, i like it
    -================————-

      kalau saya tidak peduli mau dianggap ndeso atau bukan, toh beliau tetaplah ibuku

  12. beruntung ya mas mereka mereka yg sekarang masih didampingi ibu

    aku juga termasuk beruntung msh didampingi ibu mertua, krn ibuku sendiri sdh lama meninggal
    ————–====================———-

      alhamdulillah, saya juga bersama ibu mertua, kalau ibu kandung jauh beda propinsi, setidaknya masih bisa saling komunikasi atau sesekali pulang untuk sungkem

  13. yah apapun panggilannya dia adalah ibu…

    ibu adalah jantung ditubuhky…# pidibaiq
    ———=============———-

      betul banget itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: