Tinggalkan komentar

Jika Teori Itu Benar

Pertama kali yang muncul dalam benak ini adalah keraguan ketika menghadapi teori yang satu ini. Ditambah lagi persepsi yang banyak dibicarakan adalah adanya keterkaitan garis keturunan antara manusia dengan kera. Pastilah ego kita sebagai manusia tidak akan mau menerimanya begitu saja. Terlepas teori itu benar atau tidak, ataukah bahkan teori itu benar-benar membicarakan hal yang demikian ataupun bukan.

Pertanyaan-pertanyaan banyak berseliweran berkenaan dengan teori yang paling kontroversi sepanjang jaman ini. Pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.

Anehnya teori ini sudah masuk ke dalam kurikulum sejak tingkat SMP. Di level SMP teori dasar yang dikemukakan memang sangat sulit untuk dipatahkan. Teori tersebut menyebutkan sebagai hipotesis seleksi alam yang isinya ada empat hal, yaitu (1) adanya variasi antar individu dalam suatu keturunan, (2) adanya kecenderungan bertambahnya jumlah populasi, (3) perjuangan spesies untuk mempertahankan jenisnya (struggle for live) agar tetap lestari, dan (4) individu yang berbeda akan melahirkan keturunan yang berbeda dan hanya yang sesuai dengan lingkungan yang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Jika kita merunut keempat hipotesis tersebut, maka nyaris tak ada celah bagi kita untuk membantahnya. Semuanya memang nyata. Tak ada dua individu yang sama persis di dunia ini kecuali kembar identik. Kembar identik populasinya sangat sedikit. Sejalan dengan umur bumi, maka manusia sebagai penghuninya secara pasti senantiasa mengalami pertambahan, meskipun secara lokal geografis ada beberapa kejadian bencana, peperangan yang banyak merenggut nyawa. Hingga kini populasi manusia telah melewati angka lima milyar. Tentu ada perkecualian beberapa jenis makhluk hidup yang terancam punah. Hal inipun terjawab oleh hipotesis yang ketiga yaitu adanya struggle for live. Yang kalah dalam persaingan akan tersingkir dan salah satu kemungkinnya akan mengalami kepunahan.
Barulah muncul masalah ketika membicarakan asal usul kehidupan, sebagaimana yang dijadikan judul buku The Origin of Species yang disusun oleh Darwin. Menurut Oparin dalam bukunya The Origin of Live menyatakan bahwa asal mula kehidupan terjadi bersamaan dengan evolusi terbentuknya bumi beserta atmosfernya. Lebih lanjut, Oparin menjelaskan bahwa pada mulanya atmosfer bumi purba terdiri atas gas-gas metana (CH4), amonia (NH3), uap air (H2O), dan hidrogen (H2). Oleh karena adanya pemanasan dan energi alam, berupa sinar kosmis dan halilintar, gas-gas tersebut mengalami perubahan menjadi molekul organik sederhana, sejenis substansi asam amino.

Seorang ahli biokimia dari Havard yaitu Walter Gilbert pada tahun 1986 mengajukan hipotesis dunia RNA. Menurut hipotesis itu, miliaran tahun yang lalu sebuah molekul RNA yang dapat mereplikasi terbentuk secara kebetulan.

Melalui pengaktifan oleh lingkungan, RNA ini dapat memproduksi protein. Selanjutnya, diperlukan molekul kedua untuk menyimpan informasi tersebut, maka dengan suatu cara tertentu terbentuklah DNA. Segera setelah protosel memperoleh gen yang mampu mereplikasi menyebabkan protosel mampu bereproduksi, dan dimulailah proses evolusi biologi. Sejarah kehidupan pun telah dimulai. Selanjutnya organisme-organisme mengalami proses evolusi menurut jalur kehidupan yang berbeda-beda.

Disinilah problem dari teori itu mulai muncul. Kenapa ada istilah RNA mereplikasi secara kebetulan. Jika memang bisa demikian, maka sangat mungkin kebetulan-kebetulan yang lain akan terjadi. Dan kenapa pula peristiwa kebetulan itu hanya terjadi pada masa lampau, apakah peristiwa kebetulan itu tidak terjadi lagi sekarang, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai macam organisme yang baru. Efek lanjutan yang terjadi jika peristiwa kebetulan itu benar-benar terjadi, apakah tidak akan terjadi tubrukan antara peristiwa kebetulan yang satu dengan peristiwa kebetulan yang lainnya, sehingga terbentuklah organisme gado-gado, organisme yang mirip dengan banyak organisme lainnya sehingga menimbulkan kekacauan akan dinamakan apa organisme tersebut. Atau mungkin saja akan terbentuk setengah makhluk hidup setengah benda mati.

Pertanyaan lanjutan yang mungkin muncul adalah jika organisme yang ada sekarang awalnya dari satu sel di mulai adanya RNA, berarti di masa yang akan datang akan muncul organisme baru lagi karena pada saat ini masih banyak ditemukan berbagai organisme dengan hanya memiliki satu atau dua sel saja. Dalam sejarah perkembangannya dalam jangka waktu yang sangat panjang tentu akan banyak sekali bermunculan organisme yang baru, jika asumsi kebetulan itu adalah suatu kenyataan.

Jadi, apakah proses pembentukan sel tunggal itu masih tetap berlangsung yang kemudian akan berproses sangat lama menjadi organisme yang baru. Atau sebenarnya teori ini tak bisa menjelaskan mengapa masih tetap ada organisme bersel tunggal hingga saat ini.

Asumsi lainnya yang tak kalah membingungkan adalah tentang nenek moyang jerapah. Baik menurut Lamarck maupun menurut Darwin dua-duanya terlalu rumit untuk bisa dinalarkan secara sederhana.

Jika generasi awal jerapah ada yang berbeda lehernya dengan sekarang, maka bagaimana menjelaskan pada hewan yang lain sesama pemakan dedaunan, tetapi justru kini mayoritas berleher pendek. Kenapa Jerapah yang berleher pendek punah (menurut Darwin) atau tumbuh semakin panjang (menurut Lamarck), sementara hewan lain berleher pendek tetap lebih dominan.

Kenapa pula di muka bumi ini tidak didominasi jerapah saja karena hanya jerapah yang berleher panjang sehingga paling jauh jangkauannya untuk mendapatkan makanan. Bukankah dasar pertimbangannya kemenangan/tumbuhnya leher panjang karena terjadinya persaingan untuk mendapatkan makanan. Faktanya banyak sekali berbagai jenis hewan pemakan dedaunan yang tetap lestari padahal lehernya pendek.

Jika para evolusionis berargumen bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tak berlandaskan pada metode ilmiah, maka pertanyaan selanjutnya, bukankah salah satu ciri ilmiah adalah bisa dirunut kembali. Sementara pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan penjelasan yang lebih ilmiah lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: