2 Komentar

Tanamanpun Berpasangan

Fenomena alam yang terbentang luas ini fitrahnya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an: “… dan menjadikan padanya semua buah-buahan (pepohonan) berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang..” (QS Ar Ra’d: 3). Fitrah ini merupakan anugerah langsung dari Allah yang menciptakan keteraturan di muka bumi ini.

Penggalan kedua yang menyebutkan silih bergantinya siang dan malam adalah sesuatu yang sangat dipahami oleh manusia. Tak seorang pun yang berakal sehat yang tak sanggup mengenali pergantian siang dan malam. Seawam apapun tingkat pengetahuannya masih bisa mengenali saat-saat malam dan saat-saat siang yang senantiasa silih berganti.

Beralihnya siang ke malam hari berarti juga beralihnya aktifitas manusia, yang pada umumnya siang hari sibuk bekerja, bertebaran di muka bumi untuk mencari nafkah. Maka malam harinya digunakan sebagai waktu istirahat.

Penggal pertama yang menyatakan adanya pepohonan yang berpasang-pasangan memanglah hakikatnya merupakan pengetahuan yang baru. Bahkan saat ayat ini diwahyukan kepada Rasulullah saw pengetahuan manusia belumlah sampai pada tahap ini. Pemahaman yang lebih menyeluruh hanya bisa ditempuh melalui berbagai penelitian yang kemudian disebarluaskan oleh manusia sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang baru. Meskipun demikian sebenarnya masyarakat arab sudah menerapkan prinsip mengawinkan tanaman kurma untuk mendapatkan hasil kurma yang lebih banyak. Lebih berdasarkan pada apa yang dilakukan oleh para pendahulunya belum berdasarkan pengetahuan kenapa dan mengapa tanaman kurma tersebut harus dikawinkan.

Justru disinilah uniknya ayat-ayat Al Qur’an. Menjangkau pengetahuan masa depan yang setelah dibuktikan oleh kebenaran ilmiah maka semakin jelaslah maknanya.

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan (Ra’d :4). Keteraturan yang luar biasa. Bagian-bagian yang berdampingan ini semakin memperjelas kedudukan masing-masing benda. Terjadi hubungan saling keterakitan yang saling melengkapi.

Dijelaskan kemudian penggal berikutnya masih di ayat yang sama dengan contoh yang lebih konkrit

“.. kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma…” yang memberikan gambaran begitu indah tentang tiga jenis tanaman yang banyak dikenal manusia. Anggur dan kurma merupakan jenis tanaman yang umum dikenal di masyarakat arab. Bahkan termasuk jenis kebutuhan pokok sehari-hari, jadi bukan sesuatu yang asing di indra manusia.  Bisa jadi karena tak asing maka dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja, padahal dibalik itu semua terdapat hikmah yang begitu dalam. Terdapat tanda-tanda bagi mereka yang mau memikirkannya.

Penggalan lebih lanjut lebih memerinci

“…ada yang bercabang dan ada yang tidak bercabang..”.

Ada satu perbedaan yang coba dijelaskan. Pohon kurma pada dasarnya merupakan jenis tanaman monokotil, tidak bercabang. Sangat dipahami keberadaannya. Pohonnya tinggi menjulang dengan daun mengumpul di bagian atas/pucuk.  Lantas dimana percabangannya? Jika diamati lebih detil ternyata percabangan terdapat pada bagian malai (tangkai buah). Ada jenis kurma yang tak membentuk cabang sama sekali, ada juga yang bercabang satu, ada yang dua cabang, tiga cabang, dan sebagainya.

Semua tanaman itu bisa ditanam dalam sebuah area yang sama dengan perlakuan yang sama. “…dialiri dengan air yang sama..”. Istilah pertanian sekarang bahkan bisa pula dengan pupuk yang sama diberikan obat-obatan anti hama yang sama, pembersihan terhadap gulma yang mungkin mengganggu juga sama-sama dilakukan, namun Allah memberikan ketentuan lain.

“…Kami melebihkan sebagian tanaman itu atas sebagian yang lain dalam hal rasa..”

Buah kurma yang di panen meskipun itu dari kebun yang sama, ternyata didapati ada yang rasanya manis ada pula yang rasanya kurang manis. Dua sifat beda yang berpasangan.

Dua fenomena perbedaan yang saling berpasangan pada tumbuhan tersebut, tentu akan menimbulkan pertanyaan mengapa bisa terjadi demikian? Atau bisa pula pertanyaan lain yang muncul, adakah sifat pasangan lainnya yang ada pada tumbuhan kurma tersebut? Apakah sifat pada tanaman kurma dalam ayat tersebut berlaku juga untuk jenis tanaman yang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sesuatu hal yang wajar. Dan perlu penelusuran lebih lanjut untuk mendapatkan jawabannya. “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkannya.” Penggal terakhir ayat yang keempat.

Perkembangan ilmu pengetahuan kemudian menguak fakta bahwa tanaman-tanaman untuk menghasilkan buah, didahului proses peleburan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina yang akan membentuk bakal buah. Sel kelamin tersebut terdapat di dalam bunga. Jadi untuk menghasilkan buah tanaman-tanaman tidak bisa sendirian, haruslah berpasangan dari jenis bunga jantan (memiliki serbuk sari) dan dari jenis betina (memiliki putik).

Mengapa untuk menghasilkan buah, tanaman kurma harus dikawinkan?

Tanaman kurma merupakan jenis tanaman dimana antara bungan jantan dan bunga betina tidak dalam satu pohon. Artinya penyerbukan sebagai langkah awal pembentukan buah tidak mungkin terjadi antara sesama jenis. Serbuk sari tidak akan bisa membuahi serbuk sari, kepala putik tidak akan bisa dibuahi oleh serbuk sari meskipun berasal dari satu tanaman. Berbeda halnya dengan tanaman lain yang dalam satu bunga terdapat serbuk sari dan kepala putik sekaligus, maka penyerbukan bisa berlangsung dalam satu tanaman.

Secara alamiah, penyerbukan bunga kurma bisa dengan bantuan angin. Namun hasilnya tidak akan seberapa, karena jika jarak antar tanaman terlalu berdekatan, maka pertumbuhannya kurang bagus, dan juga belum tentu antar tanaman yang berdekatan memiliki jenis bunga yang berbeda. Maka disinilah peran manusia sangat penting dalam mengawinkan bunga kurma.

Perbedaan yang saling berpasangan, antara manis dengan asam, tinggi dengan rendah, bercabang tidak bercabang (khusus pada tanaman kurma), oleh Mendel dijelaskan bahwa masing-masing organisme (hewan maupun tumbuhan) memiliki sifat-sifat yang akan diwariskan kepada keturunannya. Sifat-sifat itu disebut dengan fenotip. Dalam perkembangan keturunannya sifat-sifat tersebut ada yang lebih mendominasi ada pula yang tidak. Maka jika diteliti lebih mendalam buah kurma yang manis akan lebih banyak bila dibandingkan dengan buah kuram yang asam. Hal tersebut bisa dijelaskan karena sifat rasa manis lebih dominan dibandingkan sifat rasa asam. Sifat rasa asam akan muncul jika dalam fenotipnya tidak ditemukan potensi rasa manis. Jika kedua sifat bersama-sama maka yang dirasakan oleh manusia adalah rasa manis.

2 comments on “Tanamanpun Berpasangan

  1. Luar biasa penyelenggaraanNya ya Pak. Ilmu pengetahuan yang diterangi oleh hikmatNya menjadi berkat kemakmuran bersama. Salam
    ————–===============———-
    sedang belajar menata kalimat dari berbagai sumber termasuk dari kitab suci Bu

  2. Wah, kajian yang sangat bagus.. Tak sedikit ilmuan yang masuk Islam karena mengetahui bahwa fakta ilmiah yang mereka dapatkan dari riset mendalam sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an yang turun saat pengetahuan belum semaju saat ini..
    —========—-
    tulisan ini saya kompilasikan berdasarkan pengalaman mengajar di kelas dan tafsir dzilalil quran, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: