Tinggalkan komentar

Jangan Renggut Aku

Aku bukanlah penikmatnya apalagi pecandunya. Jangankan seperti itu sekedar niat untuk mencicip saja tak terbersit sama sekali.

Mulanya aku tak peduli. Tak ikut nimbrung komentar apapun, tapi lama kelamaan gatal juga. Banyak wacana berseliweran. Bahkan ada yang sampai terkesan sebagai amarah. Entah marah pada sesiapa. Sepertinya ada yang terusik.

Jauh sebelumnya Taufiq Ismail telah mengingatkan pada bangsa ini dengan puisi satir nya. Tuhan Sembilan senti. Puisi yang sangat tajam kritikannya bagi para penikmat barang Sembilan senti dan para pendukungnya. Meski hanya seukuran Sembilan centi ternyata sangat berkuasa di ngeri ini:

Inilah sedikit kutipannya:

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Para pendukungnya banyak sekali mengeluarkan jurus pamungkasnya. Konon Kyai Agus Salim saat diplomasi dengan Belanda menghembuskan asapnya ke delegasi Belanda, ketika ditegur ia menjawab “Bukankah tuan-tuan jauh-jauh datang untuk menjajah bangsa kami hanya demi ini?” Oke kalau itu alasannya, lantas saat ini hembusannya itu sekarang untuk diplomasi apa?

Ada juga yang berdalih berpartisipasi dalam meningkatkan pendapatan negara, karena pajaknya lumayan tinggi. Ini lebih aneh lagi, seberapa besar yang ia keluarkan demi pajak terhadap pendapatan negara dibandingkan berapa besar yang harus ia lepas untuk menguras menambah pengeluaran keluarga. Rela mengurangi hak anak istrinya dengan dalih meningkatkan pendapatan negara melalui pajak? Diakui atau tidak pemuja Tuhan Sembilan centi ini kebanyakan yang berstatus ekonomi sulit, bahkan kini juga telah menghinggapi orang-orang yang masih tergantung pada pendapatan orang lain. Di Negara lain, bahkan di Amerika sana sangat terlarang, penjara ancamannya. Di sini sangat gampang, bahkan bisa diperoleh di pinggir jalan dengan uang recehan.

Nah, disinilah kemudian banyak yang teriak, ketika seorang ilmuwan mewacanakan kenaikan tariff hingga sepuluh kali lipat. Macam-macam teriakan lantang bermunculan, katanya akan menekan industri, mengundang banyak PHK, meminggirkan petani.

Kalau kita mau jujur mengakui benar Negara kitalah surganya bagi indutri yang satu ini. Di negara maju tak lagi laku maka para investor lari ke negri ini. Dan para investor itu tak pernah mencicipi hasil industrinya, kecuali hanya keuntungan hasil penjualannya saja. Tentang PHK, yakinkah bahwa itu belum terjadi? Para pemilik modal yang notabene para pendatang itu tidak cocok dengan model kerja padat karya. Terlalu banyak yang harus dibayar, maka mesinlah andalannya yang tak perlu banyak membutuhkan manusia.

Meminggirkan petani? Pernah kutelusuri sebuah daerah yang cukup makmur menganggap bahwa petani yang menanam jenis tanaman tersebut justru yang tak mampu untuk maju. Jika siap maju maka tanaman sayuran jauh lebih menjanjikan.

Ah, sudahlah tak usah ngelantur kemana-mana. Mungkin benar kata seorang teman, sebenarnya hanya satu hal saja penyebabnya : “jangan renggut aku dengan kenikmatan semu yang sesaat ini.” Agar mulut tidak terasa asem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: