9 Komentar

Teliti dahulu sebelum dipercayai

Era informasi saat ini segala berita bisa dengan cepat menyebar. Tak terkecuali tentang kandungan suatu bahan dalam makanan. Belum lama ini beredar informasi berantai tentang kode-kode tertentu yang merupakan bahan tambahan dalam makanan disinyalir berbahan baku babi. Informasi yang viral melalui berbagai medsos beranak pinak tanpa penjelasan pasti akan kebenarannya. Anehnya beberapa produk yang dimaksud telah mengantongi sertifikat halal dari MUI.

Atas nama kehati-hatian sangatlah bagus, akan tetapi jika tanpa dasar yang jelas, bahkan tanpa penjelasan apapun kemudian langsung diterima sebagai sebuah kabar yang benar bisa berakibat tidak baik. Dampaknya bisa turut serta menyebarkan berita bohong tanpa kita sadari, bisa juga menyebabkan suatu produk kita boikot padahal tidak ada masalah dengannya, atau bisa tanpa kita sadari kitalah yang mematikan warung milik tetangga kita karena menjual produk yang kita sebut mengandung bahan yang haram, padahal belum tentu. Lebih tidak tersadari lagi ternyata kita telah mengabaikan jerih payah para ulama dan cendekiawan yang tergabung dalam LPOM MUI yang telah meneliti kehalalan produk tersebut. Padahal lembaga ini sangat ketat sistemnya dan amanah para auditornya.

Produk yang sering diberitakan berbahan tidak halal biasanya bukan merupakan bahan baku, akan tetapi bahan tambahan yang sebenarnya bisa dibuat dari tanaman ataupun hewan yang halal bagi umat Islam. Kenapa bukan bahan baku? Karena bahan baku mudah dikenali tidak seperti halnya bahan-bahan tambahan seperti penyedap, pemanis, pengawet atau pengemulsi.

Bahan-bahan tambahan tersebut biasanya menggunakan kode tertentu. Entah dari mana awalnya banyak berseliweran info jika produk yang menggunakan bahan tambahan berkode E itu berbahaya karena bahannya dari hewan yang diharamkan untuk umat. Padahal kode E sama sekali tidak mewakili nama makhluk hidup. E-numbers merupakan kode produk zat tambahan pada makanan yang berasal dari Eropa ( E : Europe), tidak berbeda jauh dengan zat tambahan makanan yang berasal dari belahan dunia yang lainnya.

Jika kita mencoba menuliskan kata kunci produk kode E mengandung lemak babi, maka akan muncul beberapa judul negatif di antaranya awas …, waspadai…, E adalah kode rahasia…, dan masih banyak lagi-lagi judul tulisan yang terkesan provokatif. Sebaliknya tidak sedikit pula judul yang sebaliknya, memberikan penjelasan bahwa info tersebut kurang tepat dalam mengambil kesimpulan.

Kode E-numbers sama sekali tidak indentik dengan produk itu halal atau haram, apalagi sebagai identitas berbahan dari babi. E-numbers sebagai bahan tambahan pada makanan ataupun minuman bisa berasal dari tumbuhan, bahan mineral, bahan sitetis, dan hewan. Hewan pun banyak yang berasal dari hewan yang halal untuk dikonsumsi. Jadi jika dikatakan haram, tumbuhan dan mineral apa yang haram untuk dikonsumsi?

E-numbers yang bahan bakunya dari hewan tidak hanya berasal dari lemak, namun bisa juga berasal dari organ lain seperti tulang, kulit, telur, susu, dan lain-lain.

Kode-kode di bawah ini banyak beredar di medsos yang disinyalir positif mengandung lemak babi: E100, E110, E120, E-140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234,E252,E270, E280, E325, E326, E327, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482,E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904.. Data ini saya temukan di blog berbasis wordpress, yang menyebutkan sumbernya dari halaman facebook. Dan masih banyak lagi ditemukan pada blog lainnya.

Benarkah kode-kode tersebut merupakan kode produk haram?

Kode E100 adalah kode untuk kurkumin dibuat dari tepung kunyit. Kode E140 adalah kode untuk pewarna hijau alami dari zat hijau daun (khlorofil). Kode E153 adalah kode untuk pewarna hitam alami dari karbon arang kayu (charcoal). Kode E406 adalah kode untuk agar-agar, asalnya adalah dari rumput laut. Kode E407 adalah kode untuk karagenan (carrageenan), yaitu karbohidrat dari ganggang merah (rumput laut). Logiskah berbagai jenis tumbuhan tersebut haram untuk dikonsumsi? Sejak kapan ada jenis tumbuhan yang diharamkan?

Bagaimana jika bahan tambahan tersebut dari hewan?

Justru dalam blog tersebut tidak mencantumkan kode E 322 yaitu lecithin, jika hanya dicantumkan lecithin saja masih banyak menyimpan berbagai kemungkinan. Kemungkinan pertama lecithin alami berasal dari kedelai, kemungkinan kedua lechitin yang dimodifikasi. Modifikasi disini yang memungkinkan melibatkan enzim fosfolipase A yang berasal dari pankreas babi. Ini pun kita tidak bisa gegabah langsung mengatakan E322 haram.

Kita bersikap waspada dan hati-hati dalam memilih produk makanan adalah sikap yang bagus. Tapi jika turut menyebarkan berita tentang produk makanan yang diduga ada unsur haramnya tanpa meneliti sumbernya adalah tindakan gegabah. Kita mengira menyelamatkan banyak orang justru yang terjadi malah sebaliknya. Mari teliti dulu sebelum mempercayai sebuah berita.

Iklan

9 comments on “Teliti dahulu sebelum dipercayai

  1. Terima kasih Pak… Saya sering bingung dengan kode-kode itu.

  2. Pengguna Medsoslah yang berjasa besar menyebarkan berita hoax, apalagi pengguna medsos yang tanpa meneliti kebenaran berita langsung meng-share berita hoax, karena merasa bangga bisa jadi orang yang pertama tama mengetahui berita itu…

  3. Terima kasih Pak sangat bermanfaat. Tidak segera menyebarkan sesuatu yg belum pasti kebenarannya. Salam
    ———–=================————-
    sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak ikut menyebarkan kesalahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: