2 Komentar

MSG pemicu kerusakan saraf, benarkah?

Kontroversi tentang resiko mengkonsumsi MSG tak juga berhenti. Banyak pihak menganggapnya berbahaya tanpa tahu apa bahayanya. Atau mendapat informasi berbahaya tanpa diikuti kajian yang lebih mendalam. Sebagian besarnya pokoknya berbahaya, maka jangan dikonsumsi. Bahkan tak jarang yang menyebutkan mengkonsumsi MSG akan menghambat kecerdasan anak.

John Onley seorang psikiater di Washington University salah satu orang yang berada di garis terdepan dalam menentang MSG. Berdasarkan penelitiannya terhadap tikus, Onley melaporkan MSG dapat menyebabkan neurotoksisitas (kerusakan fungsi otak) akibat tingginya konsentrasi glutamat. Dosis yang digunakan 4 g per kg BB tikus. Metode yang digunakan dengan metode injeksi (suntikan).

Tak dipungkiri beberapa penelitian berkenaan dengan fisiologi manusia diinisasi dengan penelitian pada tikus atau kelinci. Hasil percobaan Only kemungkinan besar memang valid. Namun belum bisa dikatakan berbahaya bagi manusia karena adanya beberapa  hal.

Kita telaah satu persatu.

Pertama, besaran dosis yang digunakan. Dalam penelitian Onley dosis yang digunakan 4 gram per kilogram BB tikus. Jika diterapkan pada manusia dewasa yang berat badannya sedang, katakanlah 60 kg, artinya dosis yang diterapkan pada tikus setara dengan 4 x 60 = 240 g, sekali konsumsi.

Makananan di sekitar kita yang dikenal banyak menggunakan MSG adalah bakso.  Penggunaan MSG nya rata-rata 0,5 gram. Jika kita anggap tiga kali makan dengan tambahan MSG sebesar pada bakso maka konsumsinya 1,5 gram. Takaran ini bukan untuk per kilo gram berat badan, tetapi oleh satu orang yang berapa pun berat badannya. Kita bandingkan dengan tikus yang 4 gram per berat badan, jika di konversikan dengan manusia yang beratnya 60 kg maka mencapai 240 gram. Jika 240 kg kita anggap konsumsi dalam sehari, maka perbandingannya manusia dengan tikus percobaan adalah 1,5 : 240 = 1 : 160. Untuk seekor tikus percobaan per kg berat badan setara dengan 160 x 3 = 480 orang dengan berat badan 60 kg.  Dikali tiga karena sehari rata-rata makan tiga kali. Atau setara dengan seorang terakumulasi mengkonsumsi MSG selama 160 hari (hampir setengah tahun).

Jika penggunaan MSG ditingkatkan takarannya, maka yang terjadi adalah titik jenuh, dimana orang akan menolaknya (self limiting), karena rasa yang diperoleh justru menjadi tidak enak. Dan batasan itu tidak akan pernah mencapai 80 gram. Angka 1,5 adalah angka yang mungkin diperoleh jika 3 kali makan bakso dalam sehari. Jika makanan yang lain tentu kadarnya akan lebih rendah. Dengan demikian adakah di antara kita yang makanan pokoknya adalah bakso. Saya sangat yakin jawabannya adalah tidak. Artinya konsumsi kita paling tinggi mencapai 1 gram. Jadi dosis pada tikus yang sekali konsumsi paling cepat terpenuhi oleh manusia tiga kali makan sehari merupakan akumulasi 54 hari, hampir dua bulan.

Jika dihitung rata-rata konsumsi MSG rata-rata di Indonesia pertahunnya setiap orang mengkonsumsi 300 gram, artinya perhari tidak mencapai 1 gram. Jumlah ini jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jepang mencapai 790 gram, Korea 1250 gram, Taiwan 1800 gram, Hongkong 1300 gram dan Singapura 1600 gram.

Masyarakat Taiwan yang tingkat konsumsinya paling tinggi yaitu 1800 gram pertahun setara dengan 4,9 gram per hari akan menyamai dosis pada tikus percobaan setelah akumulasi 49 hari (satu bulan lebih).  Atau setara dengan 147 orang sekali makan.

Yang kedua adalah metode yang digunakan. Dalam percobaan ini yang digunakan adalah metode injeksi (suntik). Metode suntik tidak bisa diidentikkan dengan konsumsi MSG yang dilakukan manusia. MSG oleh manusia diperlakukan sebagai zat tambahan dalam makanan. Artinya dilarutkan, dikonsumsi bersama-sama dengan makanan. Sesuatu hal yang mustahil dilakukan dengan cara injeksi. Dalam percobaan selain dengan injeksi juga tidak ditambahkan sebagai bahan tambahan makanan, alias konsumsi secara tunggal.

Ketiga, pada tikus uji coba dilakukan secara paksa. Dosis ditetapkan oleh penguji, bukan sebagai pilihan. Kenyataannya sehari-hari manusia mengkonsumsi MSG adalah pilihan. Pesan baksopun takaran MSG bisa dipesan. Dan ada batasan yang ditentukan oleh lidah masing-masing (self limiting). Pada dosis tertentu akan ditolak, karena rasa sedap yang diharapkan justru menjadi hilang.

 

2 comments on “MSG pemicu kerusakan saraf, benarkah?

  1. Mereka yg terbiasa dengan makanan tambahan MSG sangat bisa menakar ambang batas penggunaan yg diperlukan sebagai penyedap ya, pak. Slogan anak micin ga relevan lg,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

HorseAddict

The world is best viewed through the ears of a horse.

Akhwat Peramu Kata

Meramu, Menulis, lalu dikenang 🌻

il Blog

il Blog

DoRee MelNic

Grief Out Loud. Art. And Life.

MYSELF

AS HUMILDES OPINIÕES DE UMA MULHER DE CORAGEM QUE DIZ SIM À VIDA!

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

The Wholly Integrated Self

Spirit, Mind, Body, & Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Katherine's Blog

In Kate's World

Raw Writings

Awareness, Insight, Creativity, Writing, Behavior, Identity, Power, Mental Health, Recovery, Message, Relationships, Monsters, Survival, Christianity, Copyright ©BBYCGN - Yancosky - (All Rights Reserved) Updating all posts and memes, while adding new content!

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: