8 Komentar

Basa Basi Tidak Basi

Arswendo dalam Senopati Pamungkas menggoreskan kenyataan bahwa penyebab utama kegagalan tentara Mongol mencengkeramkan kekuasaannya di nusantara terutama di tanah jawa karena kegagalannya memahami tata cara bertutur masyarakat setempat yang berlekuk. Tidak sebagaimana tutur kata mereka yang nyaris langsung pada pokok persoalan saja.

Hingga kini ternyata kalimat berlekuk itu masih lestari dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita mengenalnya dengan istilah basa-basi. Basa basi yang berlaku umum di masyarakat kita bukanlah basa basi tanpa arti. Namun disinilah ciri khas perekat masyarakat kita. Istilah jaman sekarang agar obrolan tidak menjadi garing.

Beberapa novel berlatar sejarah rata-rata dalam dialog diplomasi tingkat tinggi tidak lepas dengan bahasa-bahasa berlekuk. Tidak langsung pada pokok persoalan. Kesannya memang berbeda. Bahasa berlekuk justru menunjukkan penghormatan pada lawan bicara, tidak tabrak sana tabrak sini.

Basa basi pembicaraan tidaklah hambar. Ceramah yang diseling basa basi justru terasa lebih hidup, dan faktanya lebih digemari dibandingkan yang lurus-lurus saja tanpa lekuk. Inilah yang dalam masyarakat kita disebut dengan unggah ungguh, sopan santun.  Bahasa kerennya lazim disebut etika pergaulan.

Basa basi yang sering diterapkan dalam masyarakat kita justru beberapa hal menunjukkan penghormatan terhadap pihak lain. Misalkan dalam ingin menanyakan sesuatu hal pada orang yang baru dikenal diawali dengan kata-kata permisi, mohon maaf, nyuwun sewu, punten. Demikian juga jika diterapkan pada orang yang lebih tua. Padahal sejatinya jika kata-kata tersebut tidak diucapkan maka tidak akan mengurangi makna yang dimaksudkan. Akan tetapi dari segi rasa dan efek tentu akan berbeda.

Jika tanpa menggunakan kata-kata sebagai bentuk basa-basi bisa jadi tanggapannya juga datar-datar saja atau bahkan dijawab sambil lalu, bisa pula dicuekin. Dari segi rasa maka bisa menimbulkan prasangka, kok gak sopan, tak punya sopan santun, unggah ungguhnya dikemanakan.

Tak jarang obrolan dimasyarakat ketika dua orang saling bertemu kemudian saling menanyakan kabar kemudian menanyakan hendak kemana bukan berarti karena saling tidak tahu. Dua orang secara fisik nampak tak ada masalah ketika saling bertemu tentu sehat-sehat saja, tapi ketika bertanya hal kesehatan maka itu lebih menunjukkan bentuk perhatian.

Seorang tetangga membawa cangkul lewat depan rumah mau pergi ke sawah, atau seorang pegawai kantoran dengan membawa tas berpakaian rapi. Sudah pasti dan tetangganya pasti tahu juga, namun pertanyaan yang dilontarkan justru menanyakan hendak kemana tujuannya. Ini bukan pertanyaan sesungguhnya, bukan pula pertanyaan retoris. Jawabannya pun tetap dengan kalimat yang baik, enak didengar. Tidak akan muncul jawaban udah tahu masih nanya. Meskipun sebenarnya keduanya sama-sama tahu. Itulah kalimat perekat pergaulan.

Bisa kita bayangkan jika kebiasaan masyarakat yang telah lama mengakar ini dihilangkan. Betapa sepinya dunia ini. Masing-masing dengan urusannya sendiri-sendiri, tanpa saling tegur sapa, tanpa canda tawa. Maka sikap individualis dan egois yang kemudian akan mendominasi masing-masing. Pos ronda justru akan ditinggalkan, tingkat keamanan menjadi rawan, betapa tidak orang-orang yang berkumpul di pos ronda tidak akan bertahan lama hanya berbicara hal-hal yang serius saja, hal-hal yang penting saja. Justru dalam pembicaraan di pos ronda lebih banyak didominasi pembicaraan-pembicaraan basa basi, tapi lebih membuat para anggotanya betah bersama-sama.

Iklan

8 comments on “Basa Basi Tidak Basi

  1. Melalui bahasa berlekuk pesan efektif sampai ya Pak. Lah kalau paparan pesan melalui sanepan puitik berpantun saya butuh waktu mencerna, belum lagi salah tafsir.
    Selamat berakhir pekan nggih Pak. Salam

  2. seperti biasa, tulisan yang bagus dan bermanfaat dari pak guru.. di jogja sini aku banyak belajar lekuk bertutur yang berbeda dgn baso basi ala minang.. tp kata kuncinya tetap sama, ketulusan.

  3. Enak sekali membaca tulisan Pak Sunarno. Tidak kaku, dan pesannya sampai ke pembaca, terutama saya.

  4. Salam kenal kang.
    Bener sekali, banyak orang sekarang yg sudah apatis pasa lingkungan sendiri tak ada lagi bass basi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: