7 Komentar

Sebuah Kenangan Perjuangan

Kukira dulu sesuatu yang sangat menyeramkan sebagaimana yang diperankan dalam film-film. Jauh dari pergaulan, banyak yang ketakutan. Sedikit berduit diasingkan dalam ruangan khusus, hanya para medis yang bebas keluar masuk. Para kerabat, sahabat hanya boleh melihat dari kejauhan. Bagi yang tak berpunya hanyalah  kisah menunda lepasnya nyawa.

Itu dulu.

Dulu sekali, sebelum saya mengenalnya lebih dekat. Sebelum tahu persis sebenarnya yang terjadi. Hari demi hari, dari waktu ke waktu dengan segala kerumitannya.

Kini

Kini semuanya telah berubah. Pandangan yang maha seram itu berbalik drastis. Ternyata tidaklah seperti itu. Bahkan secara fisik pun belum tentu teman berbicara tahu apa yang terjadi. Teman bercengkerama belum tentu paham yang sedang dialami kawannya.

Bisa jadi ini berkah berkembangnya ilmu pengetahuan, terutama ilmu kedokteran. Tidak menutup kemungkinan yang seram dulu adalah fakta karena ilmu kedokteran belum memperoleh solusinya. Sekali lagi ini hanya kemungkinan dari pikiranku belaka. Faktanya akupun tidak tahu. Kalau tidak salah mengingat pernah kubaca seramnya di merahnya merah.

Satu hal yang memang terasa menyiksa bagi siapa saja yang tak bisa bersabar. Padahal tak perlu opname, tak perlu badrest. Tapi, jangka waktu yang berkepanjangan, jadwal yang harus ditaati adalah ketegangan tersendiri. Belum lagi berapa banyak yang harus diminum tiap hari ditambah efek samping yang mungkin dan yang pasti timbul.

Mungkin timbul, ya mungkin. Karena tiap orang berbeda tingkat resikonya. Tiap orang berbeda apa yang dirasakannya. Kalau hanya menemukan warna merah setiap buang urin itu semuanya pasti mengalami. Juga tidak akan disertai rasa nyeri. Mungkin hanya sering saja, toh itu sudah dijelaskan oleh para medis yang bertugas mendampingi. Tak perlu ada kaget atau bingung.

Mual-mual adalah salah satu yang mungkin dialami. Berat badan 70 kg ke atas harus menelan 5 pil hampir sebesar jari. Selama 5 bulan lebih. Bosan dengan padatnya jadwal, bosan dengan rasa, mungkin itu yang menyebabkan kegagalan. Tak tahan hingga meninggalkannya.

Ini efek yang bisa jadi tak disadari. Lapar tak kenal waktu. Tiba-tiba bangun malam, perut menuntut diisi. Hati-hati dituruti diabetes mengintai, tak dituruti lapar menyiksa.

Masih ada lagi?

Masih lah. Gatal-gatal sekujur tubuh merayap tiba-tiba. Jangan sampai digaruk, bisa meninggalkan luka.

Masih?

Tentu, masih. Ini yang mungkin nambah keren penampilan. Bisa saja tiba-tiba pandangan berkurang. Entah bayangan benda jauh atau dekat mengencil, bisa juga keduanya. Semoga tidak sampai menjadi kehilangan penglihatan.

Kok disebut nambah keren?

Itu kan kalau pandangan mengecil solusinya kan pakai kaca mata. Miopy, hypermetropy maupun presbiopy ya solusinya kaca mata. Makin keren kan.

Semoga sabar menghadapi segala kemungkinan dan kepastian yang terjadi setidaknya setengah tahun.

Hikmahnya setelah lewat, batuk dan flu tidak akan betah mengganggu.

Itu saja.

Iklan

7 comments on “Sebuah Kenangan Perjuangan

  1. Kenangan yg dilandasi semangat keiklasan ini menguarkan daya juang buat setiap kami pembaca kampungmanisku.
    Btw Rasa gatal semacam biduran kah Pak?
    Salam sehat

  2. Semangat Pak. Semoga selalu di lindungi Tuhan Yang Maha Esa.

  3. Kesabaran menjadikan yang tadinya terasa berat menjadi ringan dan semoga dikaruniai kemudahan ya, Pak. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: