9 Komentar

Menangkap di sebalik puisi

Tak sedikit kita setelah membaca puisi malah bingung sendiri. Sebenarnya apa yang diingini si penulis puisi. Hal demikian tentu tidak akan terjadi jika puisinya model narasi. Puisi yang banyak bercerita. Puisi narasi biasanya bloko suto. Menyampaikan apa adanya, tidak bersembunyi disebalik kata.

Lain halnya dengan puisi yang banyak bukan narasi. Untuk dibaca saja kadang lumayan rumit, bikin kening berkerut apalagi mencari makna yang ada.
Maka bagi diriku puisi tak harus bisa ditangkap apa maknanya. Biarlah itu tetap jadi rahasia yang menuliskan. Pun pembaca punya hak untuk menafsirkan sesuai dengan apa yang dipahaminya, tak harus sepaham dengan yang dimaui penulis. Dengan kata lain biarlah pembaca dengan haknya untuk melekatkan makna atas penafsirannya. Lantas bagaimana kalau terjadi perbedaan penafsiran. Tak usah bingung, tak usah gusar, ini bukan kitab suci, perbedaan bukan jadi rintangan. Bukan suatu dosa.

Ada pula yang tak perlu repot-repot mencari makna, karena memang sulit untuk mendapatkannya. Semacam puisi Sutardji jaman dulu yang banyak menggunakan istilah mantra, bagaimana melekatkan makna pada mantra. Repotlah. Biarkan saja, nikmati saja keindahannya.

Ada lagi yang setelah membaca puisi yang dikedepankan adalah perasaan. Dari segi rasa didapatkan dentingan yang merdu. Bukan merdu karena bahasa penuh bunga, justru karena apa adanya, meski dua tiga baris namun terasa dentingannya sungguh nyaring menghujam.

Tidak sedikit pula yang kemudian mencoba mengubahnya menjadi sebuah lagu, istilahnya musikalisasi puisi, atau malah memang berkolaborasi dengan penyanyi sebagaimana halnya Taufiq Ismail yang pernah menulis puisi untuk lagunya Bimbo ataupun Crisye.

9 comments on “Menangkap di sebalik puisi

  1. Interesting post, suarno! You have stated many of the same reactions I have had to poems I have read. Happy New Year!

  2. Reblogged this on kampungmanisku and commented:

    iseng-iseng saja

  3. Assalamu’alaikum, pak Narno. apa kabar? lama tidak bersua di laman wordpress. semoga sehat selalu.

  4. Kekuatan puisi kadang terletak pada makna yang bebas diapresiasi. Tapi tak kurang puisi yang bagus dinikmati meski pemilihan katanya langsung dapat ditangkap. Seperti puisi-puisi Gus Mus. Utk Sutardji, memang dia penyair sejati. Meskipun diksinya terkesan aneh dan menabrak tata bahasa, tapi justru sangat puitis dan magic. Walaupun maknanya sulit untuk langsung dimengerti pembacanya.

    tp kalau kayak kita, bikin puisi sing penting dadi nggih mas. Buat fun aja hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

HorseAddict

The world is best viewed through the ears of a horse.

Akhwat Peramu Kata

Meramu, Menulis, lalu dikenang 🌻

il Blog

il Blog

DoRee MelNic

Grief Out Loud. Art. And Life.

MYSELF

AS HUMILDES OPINIÕES DE UMA MULHER DE CORAGEM QUE DIZ SIM À VIDA!

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

The Wholly Integrated Self

Spirit, Mind, Body, & Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Katherine's Blog

In Kate's World

Raw Writings

Awareness, Insight, Creativity, Writing, Behavior, Identity, Power, Mental Health, Recovery, Message, Relationships, Monsters, Survival, Christianity, Copyright ©BBYCGN - Yancosky - (All Rights Reserved) Updating all posts and memes, while adding new content!

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: