Tinggalkan komentar

Dua Kawah Sepertinya Marah

Ingatkah kawan, saat untai kabut merebut pagi. Matahari hanya sedikit berbagi. Kita berlari-lari menikmati sepi. Canda ria di jalan aspal yang bagus sekali. Tetap berkalungkan sarung dan jaket tebal. Sedikit kita temukan petani, beberapa telah kembali meneliti air agar tak berhenti. Tidak berhenti tetap mengalir, tidak juga menggenang. Itulah maunya umbi kentang. Orang sana bilang mirip kurma. Tapi kawan, ini di pegunungan. Di bawah dua puluh derajat

Dongeng itu kawan. Seperti juga pagi ini. Jauh lebih sepi. Petani belum beranjak pergi dari balik selimut. Kabut yang merebut, bukan, itu bukanlah kabut. Asap bertuba meliuk-liuk tak melebihi pundak orang dewasa mengular ke mana-mana. Seperti digiring angin tak boleh beranjak ke atas, mengalir dan terus mengalir. Cukup berkelok di atas permukaan menjalar melebar mengabarkan duka yang tiba-tiba. Mengikuti ke mana lembah berkelok. Menyesap nyawa begitu cepat, tentu banyak yang tak siap. Meracuni urat nafas siapa saja yang kesasar menghirup tanpa sadar. Apalagi pengetahuan yang belum seberapa. Teknologi seadanya yang dipunya.

Dongeng itu yang baru kemaren kita dengar bersama. Beberapa puluh tahun silam. Di halaman sekolah dasar tanpa kabar pecah membelah membuat kawah. Dentuman selepas tengah malam mengagetkan seperti meriam ditembakkan. Ditambah cahaya menyilaukan. Mengguncang segenap perkampungan, membangunkan hingga lari tunggang langgang. Tak tentu arah. Belerang diikuti pekatnya karbondioksida mengabarkan kematian siapa saja yang menghisapnya. Merobek urat pernafasan, tidak cukup sampai itu saja. Tubuh bergelimpangan di jalanan. Gosong seperti dipanggang.

Masih kita temukan kisahnya. Petunjuk arah tak ditemukan kemana kaki harus melangkah. Salah langkah menambah besar kematian. Bukan memunggungi belerang menyembur, justru menyerahkan dada dilahap bencana. Jalur evakuasi yang belum banyak dikenali. Naluri menuruti langkah ternyata salah. Tercatat kemudian 149 nyawa melayang.

Puluhan tahun silam. Dua kawah sepertinya marah. Entah apa penyebabnya asap beracun menguar turun ke lembah-lembah.

22 maret 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Take It Upon Yourself

Wholly Vibrant Living: Mind, Body, Spirit, and Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Blog Site of Gabriele R.

Post, news, diary... All the world around me, ALL THE WORDS AROUND YOU

Katherine's Blog

In Kate's World

Trial By Fire

Poetry, Quotes, Creative Writing, Copyright ©BBYCGN

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: