8 Komentar

Suara di Depan Rumah Hinggap di Tanaman Jati

Kau dengar gemericik di depan rumah itu? Itu bukan hujan bukan pula sungai, tak ada basah yang kita temukan. Selokan hanya berisi daun-daun kering yang lepas dari ranting. Menumpuk kapan-kapan kita bakar. Halaman rumah tetap berdebu, mudah tersibak oleh telapak kaki yang berlalu. Suara yang tak pernah kita temukan saat masih penuh rumpun bambu. Musim hujan juga musim kemarau. Kini tidak lagi kita temukan suara guek menyayat pilu. Memanggil-manggil anaknya yang belajar terbang. Nyungsep ditumpukan batang kedelai di emperan yang besoknya kita jemur.

Kau dengar gemericik di depan rumah itu? Sejak rumpun bambu berganti lembaran-lembaran lebar daun jati. Suara itu berulang pada bulan yang sama. Seperti gemericik air, seperti gerimis, seperti buah-buahan kecil jatuh berulang-ulang, begitu ritmis seperti merdunya puisi dibacakan berulang dengan nada pelan-pelan. Lamat-lamat disenandungkan.

Tahukah kau suara itu? Selalu seperti itu setiap waktu. Bukan desau angin. Kita telah akrab lirih derainya angin mengayun pohon bambu. Meliukkan pucuk bambu juga merontokkan dedaunannya di musim kering. Sesekali bajing melenting dari pucuk satu ke pucuk lain. Desau angin tak pernah betah lama-lama, seringkali berganti irama. Kadang kehilangan nada, tak ada yang bisa kita dengarkan, kadang melengking menhantui bocah di malam yang dingin. Apalagi waktu kita kecil saat musim maling. Konon jin juga ikut bermain.

Kenalilah suara itu. Suara di depan rumah yang hinggap di tanaman jati. Begitu enak dinikmati. Lembut, tak kenal waktu, meski hanya musim tertentu. Setelah tumbuh kembali sehabis gundul daunnya sama sekali. Hanya bertahan beberapa hari, daun tinggal tulang belulang. Tak lama kemudian ada yang bergelantungan. Ada yang jadi santapan. Ada yang kemudian bisa terbang. Melanjutkan kisah perjalanan.

Kenalilah, kenalilah suara itu. Benda sebesar biji-bjian, lebih kecil dari biji sawo kecik berjatuhan bergantian. Jarak waktu yang seimbang. Menerpa tanah tak bergulingan, tak ada lentingan. Meskipun bulat hitam. Memang tidak pejal. Dikeluarkan dari yang bernyawa nempel di dedaunan.

30 Maret 2020

8 comments on “Suara di Depan Rumah Hinggap di Tanaman Jati

  1. Why you don’t insert Google Translator in your blog? Please do it.

  2. Kira-kira dua minggu yang lalu, itu juga terjadi di beberapa pohon jati belakang rumah saya. ramai betul, apalagi kalau ada angin. tanah jadi kehitam-hitaman, disapu tidak bisa bersih. sebetulnya jarang ada yg mau menyapu di bawahnya, takut ketempelan yg bergelantungan 😅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Take It Upon Yourself

Wholly Vibrant Living: Mind, Body, Spirit, and Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Blog Site of Gabriele R.

Post, news, diary... All the world around me, ALL THE WORDS AROUND YOU

Katherine's Blog

In Kate's World

BBYCGN

Poetry, Creative Writing, Quotes, Analogies ©BBYCGN

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: